Pencarian populer

Suka Duka Fanboy di Dunia K-Pop

Ilustrasi fanboy Kpop. Foto: Fitra Andrianto dan Putri Sarah Arifira/kumparan

Fanboy K-Pop adalah eksistensi yang normal, meski kadang menjadi sorotan karena dianggap berbeda. Tentu, ini tak lepas dari stigma awam yang melingkari para fans K-Pop tersebut.

Sebelum melangkah lebih jauh, kami ingin mengajak kamu mengetahui apa dan siapa fanboy K-Pop sebenarnya. Seorang pengamat musik, Adib Hidayat, mengatakan bahwa fanboy adalah penggemar yang sangat menyukai suatu produk atau jenis musik tertentu. Istilah ini tidak hanya digunakan di dunia K-Pop, walau memang sering digunakan dalam dunia tersebut. Istilah ini juga bisa ditemukan di dunia gadget atau film.

Tak ada statistik yang menyebutkan berapa jumlah fanboy di muka bumi. Namun, kini, fenomena fanboy K-Pop sudah bukan lagi hal yang aneh. Tentu, ini tak lepas dari pengaruh K-Pop yang sudah semakin mengglobal. Dengan kata lain, sekarang, menyukai K-Pop sudah bukan hal yang aneh, baik bagi perempuan atau pun laki-laki.

Untuk lebih memahami para fanboy, kumparanK-Pop berbincang dengan sebagian dari mereka. Kami ingin mengetahui seperti apa suka duka mereka. Juga, kami ingin mencari jawaban, apakah benar fanboy sering menjadi korban pandangan miring.

Kami pun berbicara dengan beberapa fanboy yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Salah satunya, kreator konten, Geraldy Tan. Pria yang suka membuat konten parodi K-Pop ini sudah berhasil mengolah hobinya terhadap K-Pop, menjadi hal yang lebih bermanfaat. Dalam bahasanya sendiri, ia menyebut K-Pop sebagai ‘hobi yang menghasilkan’.

Loading Instagram...

Geraldy, pria kelahiran 1997 yang mulai mengenal dan menyukai K-Pop sejak duduk di bangku SMP itu, punya lebih dari 350 ribu followers di Instagram dan lebih dari 100 ribu subscribers di YouTube. Jumlah pengikut yang banyak ini didapatkannya lewat kerja keras membuat konten yang menghibur.

Kontennya ini bahkan telah mengantarkannya ke event-event spesial secara gratis. Misalnya, kala ia menonton konser Blackpink dan fan meeting Lisa di Jakarta.

“Karena gue nge-fans banget juga sama Blackpink, jadi bisa dapet kesempatan-kesempatan yang gak bisa orang lain dapet,” tuturnya, saat dihubungi melalui telepon pada Selasa (12/3).

Saat kami menanyakan arti dari fanboying baginya, Geraldy menjawab bahwa hobi ini terasa seperti kepuasan batin.

“Gimana ya, kepuasan, kayak ada sesuatu yang lo tungguin. Kayak sekarang Blackpink gak ngeluarin single, terus ada sesuatu yang kita tungguin gitu jadi hidup tuh berwarna gitu, jadi ada yang lo tungguin, kayak ada sesuatu yang lo bagikan buat orang lain, gitu,” ungkapnya.

Selain Geraldy, ada juga Mufqi Fathino, fanboy SNSD yang sempat membuat portal berita K-Pop di tahun 2012. Melalui kreativitasnya itu, pria yang sudah berkeluarga ini sempat mengikuti berbagai konser lokal di tahun 2012-2014.

Salah satu fanboy K-Pop di Jakarta, Mufqi Fathino. Foto: Masajeng Rahmiasri/kumparan

Mufqi mencoba menjalankan portal berita itu karena ia melihat ada peluang bisnis di dunia K-Pop.

“Ya, niat awalnya sih, karena emang pengen nonton konser gratis, jadi dapetnya itu,” tuturnya saat ditemui di sebuah stasiun radio di daerah Jakarta Pusat, Senin (11/3).

Selain itu, pria yang kini bekerja sebagai admin media sosial di perusahaan swasta ini mengatakan, ia sempat bergabung dengan forum penggemar SNSD, demi berbagi kesukaannya terhadap grup SM Entertainment tersebut. Ia pun menemukan teman-teman baru untuk berbagi hobi ini di sana.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa topik mengenai fanboy tak selalu diisi dengan rasa bahagia. Ada kalanya fanboy harus mendengar selentingan-selentingan kurang enak karena hobinya.

Joko, seorang fans SNSD yang kini telah berusia 30 tahun, misalnya. Pria yang berdomisili di Bekasi Timur ini mengaku hobinya pernah diledek.

“Pernah sih. ‘Lu kok cowok doyan K-Pop, sih? Gak gentle banget’. Ledekan kek gini sih biasanya berasal dari orang-orang yang gak melek dunia,” ujarnya ketika dihubungi via LINE pada Kamis (14/3).

Fanboy K-Pop di Jakarta, Mufqi (kiri), Fajar (tengah) dan Diar (kanan). Foto: Masajeng Rahmiasri/kumparan

Meski demikian, Joko memutuskan untuk tidak menanggapi hal tersebut. Sebab, menurutnya, musik adalah hal yang bersifat universal. Ia juga beranggapan bahwa menyukai seorang figur publik adalah urusan pribadi seseorang.

“Jadi, sangat enggak pantas untuk menyinggung hal kek gini, kalau buat saya,” tulisnya lagi.

Hal ini diamini oleh Fajar, pria yang juga menggemari boyband dan girlband asal Korea Selatan. Fajar yang berprofesi sebagai penyiar radio ini menganggap, pandangan yang mempertanyakan kesukaan fanboy hanya dilontarkan oleh orang yang tidak mengenal Korea.

“Ya, jadi dia mikirnya, kayak cuma ngeliat di iklan doang terus cowok-cowok pada nari segala macem, 'lu suka mereka?' Tapi, mereka enggak tahu sebenarnya tuh entertainment-nya kayak gimana, mereka (para idola) dari kecil dilatih segala macem,” ujarnya.

Selain karena masalah musik, ada juga pandangan bahwa fanboy K-Pop mungkin akan meniru gaya berpakaian atau berdandan idolanya. Tak semua orang bisa menerima hal ini.

Akan tetapi, Diar, seorang fotografer lepas yang menikmati berbagai musik K-Pop, berpendapat lain. Ia mengatakan, tidak semua fanboy K-Pop akan berusaha meniru gaya idolanya. Apalagi, bila itu dirasa tidak cocok untuknya.

“Sebenenarnya, tahu diri aja, sih. Warna rambut lo gak cocok dicat warna ijo, ya enggak usah,” tuturnya.

Pria ini juga menceritakan kalau ia pernah mencoba hal yang berbau riasan Korea. Ia pernah memakai BB Cream milik adiknya, lantaran mendengar banyak artis Korea yang menggunakan hal tersebut.

“Sekali gua nyobain punya adek gua, gitu kan. Gua pake aja, ‘Eh bagi dong’. Belang, coy. Enggak enak,” ujarnya sambil tertawa.

Ilustrasi fanboy K-Pop. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Pria yang pernah memotret idola K-Pop di berbagai konser Indonesia ini juga punya filosofi sendiri. Ia mengatakan, kesukaan terhadap K-pop memiliki sisi positif dan negatif. Biasanya, fans yang sudah berusia dewasa akan dapat lebih memahami hal ini.

“Mungkin buat temen-temen yang nge-fans yang masih remaja, gitu ya, masih kuliah, masih SMA gitu kan, ya usia-usia mereka emang lagi demen-demennya pengen niru. Ya gitu, mulai dari budayanya, look-nya, fashion-nya,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan, tidak semua hal yang dilakukan oleh idola perlu ditiru.

“Ya kan enggak mungkin idol lo minum soju (minuman beralkohol khas Korea Selatan), lo ikutan minum soju juga, gitu. Kan itu apa ya.. Ya mungkin kalau buat yang Muslim gitu kan, bertolak belakang, gitu kan,” sebutnya.

Simak story lain tentang kisah para fanboy K-Pop di topik Meet the K-Pop Fanboy.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23