Pencarian populer

10 Pertanyaan Anak tentang Lebaran dan Cara Menjawabnya

Mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu umumnya jadi ciri khas anak-anak. Senang kan melihatnya, Moms? Tapi jangan biarkan binar itu meredup dengan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, lho. Anda perlu menjawab pertanyaan anak sampai mereka merasa keingintahuannya terpenuhi.
ADVERTISEMENT
Begitu juga bila anak bertanya tentang Lebaran atau Idul Fitri. Cobalah menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan benar, lengkap namun mudah dicerna sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman anak Moms. Anda tentu paling tahu cara atau kalimat-kalimat yang bisa dipahami si kecil, kan?
Nah, sebagai contoh, kumparanMOM merangkum 10 pertanyaan yang kerap ditanyakan anak-anak tentang Idul Fitri dan cara menjawabnya untuk menjadi panduan Anda menjawab bila anak bertanya, baik bila keluarga Anda merayakan Idul Fitri maupun tidak.
Ajarkan Anak Puasa. (Foto: Thinkstock)
1. "Apa sih, sebenarnya arti Idul Fitri?"
Idul Fitri berasal dari dua kata; id dan al-fitri. Id secara bahasa berasal artinya kembali. Hari Raya disebut "Id" karena kembali dirayakan atau terjadi berulang-ulang setiap tahun.
ADVERTISEMENT
Sementara kata "fitri", berasal dari kata afthara – yufthiru, yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Tentu saja karena Hari Raya ini dirayakan sebagai akhir dari kegiatan ibadah berpuasa sepanjang bulan Ramadhan.
Meski begitu, banyak juga yang meyakini kata "fitri" berasal dari kata "fitrah" yang artinya "kembali suci". Itu sebabnya banyak ungkapan bahwa saat Idul Fitri, umat Muslim yang telah menjalankan puasa Ramadhan, semua dosanya diampuni dan menjadi suci.
Padahal terkait amal dan ibadah mana yang diterima maupun dosa-dosa mana yang diampuni oleh Allah, tentunya tidak dapat diketahui apalagi dipastikan oleh manusia. Itu sebabnya, umat Muslim senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah, agar segala amal ibadah yang dilakukan diterima oleh-Nya
ADVERTISEMENT
2. "Lantas kenapa Idul Fitri jadi disebut Lebaran?"
Idul Fitri umum disebut Lebaran hanya di Indonesia saja. Kata ini juga bukan berasal dari bahasa Arab dan hingga kini masih diperdebatkan asal-usulnya.
Ada yang meyakini kalau istilah ini ternyata berasal dari tradisi Hindu yang artinya selesai, usai, atau habis. Tentu saja, yang dimaksud di sini adalah habisnya bulan Ramadhan atau masa berpuasa. Diyakini, istilah ini dipakai oleh para penyebar agama Islam di nusantara atau para Wali supaya masyarakat yang dulu umumnya memeluk agama Hindu merasa tidak asing dengan konsep Idul Fitri.
Ada juga yang mengatakan kalau kata Lebaran berasal dari bahasa Jawa percakapan yaitu kata "wis bar" yang artinya (bulan Ramadhan) sudah selesai. Sementara sebagian yang lain yakin kalau kata ini dipakai pertama kali oleh orang-orang Betawi dan berasal dari kata "lebar" yang artinya luas. Maksudnya, bagaimana hati umat Islam menjadi luas, lega dan lapang gembira setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa.
Ilustrasi kalender Juni 2018. (Foto: Dok. kumparan)
3. "Tapi kok, tanggal Lebaran-nya bergeser terus setiap tahun?"
ADVERTISEMENT
Lebaran atau Idul Fitri selalu dirayakan pada tanggal 1 Syawal sebagai tanda tibanya bulan baru setelah bulan Ramadhan. Di dunia ini, ada banyak sekali sistem penanggalan, misalnya penanggalan Masehi, penanggalan Cina, dan sebagainya. Nah, Syawal dan Ramadhan adalah nama dua bulan di antara 12 bulan yang ada dalam sistem penanggalan Hijriah.
Dalam penangggalan Hijriah yang didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi, 1 tahun terdiri dari 354 atau 355 hari. Berbeda dengan kalender Masehi yang sehari-hari kita pakai dan memiliki 365 hari dalam 1 tahun. Karena kalender Masehi, dihitung berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari. Perbedaan inilah yang membuat Lebaran 'bergeser' setiap tahun pada kalender Masehi.
Bulan baru (yang ditandai dengan munculnya secercah cahaya tipis dari pantulan sinar matahari pada bulan yang membentuk sabit) di akhir Ramadhan, diamati dan dijadikan tanda hari Lebaran yang disebut dengan istilah hilal.
Penjual Ketupat (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
4. "Lebaran itu lambangnya ketupat, ya?"
ADVERTISEMENT
Ketupat bukan lambang Lebaran. Hanya saja masyarakat di Indonesia memiliki tradisi membuat ketupat saat Lebaran. Tradisi ini konon diperkenalkan oleh salah satu wali yaitu Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa.
Setelah Ramadhan usai, beliau meminta masyarakat menganyam daun kelapa muda untuk kemudian diisi beras dan dimasak. Ketupat yang sudah masak lantas diantarkan ke anggota keluarga atau kerabat yang dituakan. Inilah sebabnya ketupat lantas membuat orang ingat dengan silaturahmi atau kebersamaan.
Ada juga yang mengatakan bahwa Sunan Kalijaga meminta masyarakat membuat ketupat untuk memberi contoh betapa banyak dan rumitnya kesalahan manusia di dunia. Sebanyak dan serumit anyaman-anyaman pada kulit ketupat!
Lantas ketupat diisi beras putih untuk menggambarkan kebersihan dan kesucian hati manusia, setelah berhasil menahan nafsu dengan berpuasa dan memohon ampun atas segala kesalahannya.
ADVERTISEMENT
Ketupat yang bukan merupakan makanan asal Arab juga jadi bukti bagaimana ulama besar yang menyebarkan agama Islam di nusantara sangat menghomati budaya setempat sehingga justru dapat diterima dengan baik dan segera meluas. Tidak hanya masyarakat Jawa, ketupat saat Lebaran akhirnya juga jadi tradisi di pulau-pulau lain di Indonesia bahkan hingga negara tetangga, Malaysia.
Ilustrasi Baju Lebaran Anak (Foto: Thinkstock)
5. "Terus kalau Lebaran harus pakai baju baru?"
Tidak harus pakai baju baru, kok. Namun umat Muslim disunahkan atau dianjurkan menggunakan pakaiannya yang terbaik pada Idul Fitri. Pakaian yang terbaik maksudnya pakaian yang bersih, rapi, dan sopan.
Meski begitu, bukan berarti kita lantas menjadi berlebihan dalam berpakaian atau berdandan, karena Islam justru mengajarkan kesederhanaan dan kebersahajaan. Dalam ajaran agama Islam jika orang berpakaian sederhana, padahal ia mampu mengenakan pakaian yang bagus atau mewah, maka kesederhanaannya justru dipercaya akan memperoleh pahala yang besar. Islam juga mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.
ADVERTISEMENT
Ilustrasi Idul Fitri yang saling bermaafan (Foto: Thinkstock)
6. "Kalau minta maaf saat Lebaran itu, kenapa?"
Umat Muslim di Indonesia umumnya memang bermaaf-maafan atau saling meminta maaf saat Lebaran. Tapi ini bukan suatu keharusan. Bahkan menurut sejumlah hadits, saat Idul Fitri, Rasulullah SAW dan para sahabatnya bukan bermaaf-maafan melainkan saling mendoakan. Mungkin ini sebabnya di negara lain, Anda bisa saja tidak menemukan tradisi maaf-maafan saat Lebaran.
Namun, Anda bisa menjelaskan hal ini pada anak dari sisi lain, Moms. Sampaikan pada anak, kalau belajar memaafkan itu penting. Berani minta maaf itu keren. Maaf-memaafkan mempererat rasa kekeluargaan dan tali silaturahmi. Setelah saling memaafkan, kita tentu merasa lebih lega, senang dan hubungan dengan teman atau keluarga pun menjadi semakin baik.
ADVERTISEMENT
7. "Ucapan 'minal aidin wal faidzin’ yang sering disebutkan saat Lebaran artinya apa?"
Minal aidin wal faidzin berasal dari beberapa kata yang dirangkai menjadi ucapan atau ungkapan. Kata Min artinya 'termasuk', Al-aidin artinya 'orang-orang yang kembali', Wal Artinya 'dan', serta Al-faizin artinya 'menang'. Bila rangkaian kata ini dimaknai secara harfiah, artinya kira-kira: 'Termasuk dari orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang'.
Konon, ungkapan ini biasa digunakan dengan penuh rasa bangga sejak jaman nabi untuk merayakan suatu kemenangan. Nah, keberhasilan menahan hawa nafsu dengan berpuasa selama sebulan penuh juga dapat dianggap sebagai kemenangan.
Yang jelas, Minal aidin wal faizin artinya bukan mohon maaf lahir dan batin meski kedua kalimat ini sering disebutkan berangkai atau berurutan.
Ilustrasi mudik bersama anak dengan mobil pribadi (Foto: Thinkstock)
8. "Terus kenapa saat Lebaran orang-orang melakukan mudik?"
ADVERTISEMENT
Mudik artinya pulang ke kampung halaman. Di kampung, kita bisa bertemu dengan orang tua dan sanak saudara. Memang, pulang kampung sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, tapi saat Lebaran biasanya terasa lebih istimewa karena umumnya semua keluarga akan berkumpul karena jadwal dan kesempatan libur atau cuti yang sama. Lain halnya kalau pulang kampung di hari-hari lain yang mungkin akan susah untuk menyamakan jadwal seluruh keluarga besar.
Anda juga bisa menceritakan pada anak bahwa tradisi mudik sebenarnya bukan hanya ada di Indonesia saja tapi juga ada di negara-negara lain seperti China, Korea, Bangladesh, India dan Malaysia.
Ilustrasi anak menerima uang lebaran. (Foto: Thinkstock)
9. "Kenapa kalau Lebaran anak-anak dapat uang?"
Tradisi memberikan uang kepada anak-anak atau orang yang lebih muda saat hari penting atau ada satu perayaan sebenarnya merupakan budaya kuno. Sejak jaman dahulu di berbagai negara dan budaya, sudah ada tradisi ini. Misalnya di Timur Tengah, China, Jepang, dan lainnya. Maka lumrah saja bila ada tradisi memberikan uang lebaran di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Katakan pada anak, bukan jumlah yang penting dalam pemberian uang saat perayaan. Ajak anak memahami bahwa uang diberikan sebagai tanda sayang, keinginan untuk berbagi kegembiraan dan memberi harapan baik bagi penerimanya.
Lontong Cap Go Meh (Foto: Kartika Pamujiningtyas/kumparan)
10. "Ada rendang, opor, nastar dan banyak lagi. Sebenarnya kalau Lebaran harus makan apa, sih?"
Saat Lebaran, umat Muslim boleh makan apa saja selama makanan tersebut halal. Tidak ada keharusan tertentu tentang hal ini. Bahkan setiap daerah biasanya memiliki makanan khas tersendiri yang disajikan saat Lebaran.
Misalnya orang Betawi akan memasak semur dan sayur labu. Sementara masyarakat Banjar saat Lebaran biasa makan soto dan hidangan ikan gabus yang dimasak dengan kuah santan. Hidangan yang disebut panggang haruan ini biasanya disajikan dengan lontong.
ADVERTISEMENT
Lain lagi dengan orang Medan yang yang biasanya menyajikan gulai nangka atau orang Aceh yang lazim memasak gulai bebek yang diberi kurma saat Lebaran. Di beberapa daerah, banyak juga yang menyajikan Lontong Cap Gomeh sebagai menu Lebaran lengkap dengan sayur lodeh, opor, sambal goreng hati, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal dan kerupuk.
Padahal, kata Cap Go Meh diambil dari dialek Hokkian berarti ‘malam ke 15’ alias malam bulan purnama menurut penanggalan Imlek. Tahun Baru Imlek biasanya ditutup dengan perayaan yang disebut Cap Go Meh. Menurut para pakar sejarah dan budaya, hidangan lontong Cap Go Meh saat Lebaran adalah hasil dari penyerapan dan 'saling pinjam' budaya warga peranakan di pulau Jawa. Unik, kan?
ADVERTISEMENT
Jangan lupa, Moms, jelaskan pada anak bahwa ragam kuliner nusantara yang tersaji di meja makan setiap keluarga saat Lebaran adalah cermin betapa kaya dan indahnya keberagaman di negeri kita. Sajian dan tradisinya bisa jadi berbeda-beda, tapi kegembiraan, kehangatan dan makna Idul Fitri tetap dirasakan oleh semua.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81