Pencarian populer

3 Jenis Susu Formula Alternatif untuk Bayi yang Alergi Susu Sapi

Ilustrasi susu formula. (Foto: Thinkstock)

ASI merupakan sumber nutrisi utama bayi, namun untuk beberapa kondisi ASI eksklusif tak bisa diberikan, sehingga bayi perlu diberikan susu formula. Bukan hanya bayi yang diberi susu formula saja yang bisa mengalami alergi susu sapi. Bayi dengan ASI eksklusif pun juga bisa mengalami hal yang sama menurut DR. dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) seperti ditulis di laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Hal ini dikarenakan ASI yang dikonsumsi mengandung komponen protein susu sapi yang dikonsumsi oleh ibunya. Rata-rata bayi yang terkena alergi susu sapi adalah bayi yang masih berusia di bawah satu tahun.

Selain menimbulkan gejala saluran cerna atau kulit, alergi susu sapi juga bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi, serta dapat berlanjut menjadi alergi lain di kemudian hari. Oleh sebab itu perlu dilakukan pemeriksaan sejak dini terhadap bayi Anda Moms, apakah ia mengalami alergi susu sapi atau tidak.

Diagnosis alergi susu sapi dapat dibantu dengan pemeriksaan kadar IgE spesifik atau uji kulit alergi. Jika tes ini belum bisa membuktikan diagnosis alergi susu sapi, perlu dilakukan uji eliminasi dan provokasi, dengan menghentikan pemberian susu sapi selama 2 minggu dan memberikan bayi susu formula alternatif. Setelah gejala menghilang, susu sapi dapat diberikan kembali. Jika gejala muncul kembali, maka bayi dinyatakan mengalami alergi susu sapi.

Penghentian susu formula yang mengandung protein susu sapi merupakan strategi utama dan paling aman untuk bayi yang mengalami alergi susu sapi. Namun, bayi tetap memerlukan asupan susu sebagai sumber nutrisi. Solusinya, menurut IDAI adalah dengan memberikan 3 jenis susu formula alternatif di bawah ini sebagai penggantinya. Apa saja?

1. Susu Formula Hidrolisat Ekstensif

Pada susu jenis ini, protein susu sapi terdapat dalam bentuk yang telah dipecah menjadi komponen yang lebih kecil. Sebagai besar bayi yang mengalami alergi susu sapi dapat menoleransi susu jenis ini dengan baik.

Ilustrasi susu formula (Foto: Shuterstock)

2. Formula Asam Amino

Formula asam amino adalah pilihan terbaik untuk bayi yang mengalami alergi susu sapi, terutama bayi yang mengalami alergi berat. Selain itu, formula asam amino juga dianggap sebagai pengobatan pilihan pertama untuk bayi yang mengalami alergi susu sapi, Moms.

3. Formula Kedelai atau Soya

Formula ini menggunakan kedelai sebagai sumber protein untuk mengganti komponen protein susu sapi. Meskipun memang tidak mengandung susu sapi, namun dapat terjadi reaksi silang antara protein susu sapi dengan protein kedelai, sehingga 10-14 persen bayi yang alergi susu sapi dapat mengalami reaksi alergi dengan penggunaan susu ini.

Pemberian formula soya juga dapat dipertimbangkan pada bayi dengan keadaan khusus, misalnya seperti memiliki masalah ekonomi dalam keluarga, bayi tidak dapat menoleransi susu formula jenis lain, atau adanya preferensi khusus (pola makan vegetarian). Tapi ingat ya Moms, formula ini hanya dianjurkan untuk bayi berusia di atas 6 bulan.

Ilustrasi susu formula. (Foto: Shutterstock)

Yang penting untuk diingat, menurut IDAI, penggunaan susu formula alternatif pada bayi bergantung pada tingkat usia, kadar Immunoglobulin E (IgE) spesifik, gejala dan keparahan masalah medis yang dideritanya. Pemberian ulang susu sapi dapat dilakukan setelah penggunaan susu formula alternatif selama minimal 3 bulan (pada bayi IgE negatif atau gejala ringan) sampai 12 bulan (pada bayi IgE positif tinggi, gejala berat). Jika bayi mengalami gejala ulangan setelah pemberian susu sapi, maka penggunaan susu formula alternatif dilanjutkan selama 6 – 12 bulan.

Namun, jika bayi tidak mengalami gejala ulangan, maka susu sapi dapat diberikan lagi secara penuh. Sebagian besar bayi yang mengalami alergi susu sapi akan sembuh atau toleran terhadap susu sapi saat ia berusia balita. Sebesar 50 persen bayi yang alergi susu sapi akan sembuh pada usia 1 tahun, lebih dari 75 persen sembuh pada usia 3 tahun, dan lebih dari 90 persen sembuh pada usia 6 tahun.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23