Pencarian populer

4 Tindakan Medis untuk Percepatan Persalinan

Ibu hamil dilarang melakukan operasi plastik (Foto: thinkstock)

Pernahkah Anda mendengar tentang proses persalinan yang membutuhkan waktu lama? Mencapai belasan jam hingga dua hari misalnya?

Setiap wanita wajar memiliki pengalaman persalinan yang berbeda-beda. Besaran rasa sakit maupun lama proses yang dijalani setiap wanita pun sangat individual.

Dalam proses persalinan yang sangat berbeda-beda ini, bidan atau dokter bisa saja memutuskan bahwa Anda butuh insiasi atau tindakan medis untuk percepatan persalinan.

Keputusan ini dapat diambil bila bidan atau dokter mengetahui adanya hal yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan ibu, bayi maupun keduanya. Tindakan percepatan persalinan apa yang dipilih disesuaikan dengan kondisi ibu dan bayi.

Berikut 4 tindakan medis untuk percepatan persalinan:

Induksi

Induksi adalah tindakan percepatan persalinan menggunakan alat atau obat tertentu. Induksi umumnya dilakukan jika ibu belum kunjung merasakan kontraksi yang sering dan kuat (teratur), mulas, atau belum ada pembukaan sementara ada kondisi yang membahayakan ibu dan atau bayi jika kehamilan diteruskan.

Kondisi yang membahayakan ini misalnya pre-eklampsia berat atau ibu hamil memiliki diabetes mellitus sehingga janin semakin besar dan membahayakan kehamilan. Induksi juga bisa dilakukan bila ibu mengalami pecah ketuban hingga cairan masuk dan menyebar ke dalam rahim yang berisiko meracuni janin.

Contoh lain di mana induksi umum dilakukan adalah bila janin tidak merespon ibu dan detak jantungnya mulai melemah atau tidak teratur. Selain itu, kehamilan yang lewat bulan yang dikhawatirkan justru menghambat pertumbuhan janin juga dapat menjadi pertimbangan dilakukannya induksi.

Amniotomi

Air ketuban, atau cairan amnion, adalah cairan yang terdapat dalam ruangan yang diliputi selaput janin. Amniotomi, adalah tindakan untuk membuka atau merobek selaput untuk mengeluarkan cairan dari kantung ketuban. Gunanya adalah untuk merangsang pembukaan saat persalinan. Amniotomi umumnya dilakukan bila ketuban belum pecah sementara serviks ibu telah membuka penuh.

Episiotomi

Episiotomi adalah salah satu inisiasi percepatan persalinan yang dilakukan dengan tindakan bedah ringan berupa sayatan atau irisan pada daerah antara vagina dan anus. Irisan ini gunanya untuk melebarkan jalan lahir agar bayi lebih mudah keluar.

Keputusan untuk melakukan episiotomi umumnya diambil oleh bidan atau dokter bila kepala janin terlalu besar dan dikhawatirkan dapat mengakibatkan perobekan yang lebar dan tidak teratur bila tidak diberi bantuan. Robekan yang terlalu lebar atau tidak teratur akan mempersulit proses penjahitan pascapersalinan.

Episiotomi juga mungkin dilakukan bila ada kondisi gawat pada janin, persalinan menggunakan alat bantu, dan persalinan prematur atau letak bayi sungsang.

Ilustrasi operasi (Foto: Skeeze via Pixabay)

Operasi Caesar

Operasi caesar adalah operasi untuk mengeluarkan janin yang sudah cukup matang (28 minggu atau lebih) melalui sayatan di perut dan dinding rahim. Tindakan umumnya dilakukan bila persalinan secara normal tidak dapat dilakukan karena adanya masalah pada proses kelahiran yang mengancam nyawa ibu dan atau janinnya.

Beberapa masalah yang bisa mengantarkan pada keputusan caesar di antaranya:

  1. Bayi dalam posisi sungsang atau bokong, kaki atau pundak bayi keluar terlebih dulu

  2. Ibu pernah menjalani operasi caesar pada persalinan sebelumnya yang terjadi kurang dari dua tahun.

  3. Berat badan bayi mendekati 4,5 kg atau lebih sehingga terlalu besar untuk melalui jalan lahir.

  4. Ukuran panggul ibu terlalu kecil sehingga tidak mungkin dilalui bayi.

  5. Bayi terlilit tali pusatnya sendiri sehingga pernapasan terhalang dan sulit mendapat asupan nutrisi.

  6. Placenta previa, yaitu kondisi di mana ari-ari menutupi jalan lahir.

  7. Kontraksi terlalu lemah atau pembukaan tidak kunjung lengkap.

  8. Ibu mengalami pendarahan terlalu banyak yang membahayakan jiwa.

  9. Bayi kembar lebih dari dua.

  10. Ibu memiliki masalah kesehatan serius seperti hipertensi, diabetes, jantung atau HIV. 

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23