Pencarian populer

9 Tanda Anak Cemas Meski Mereka Tidak Mengatakannya

Ilustrasi anak cemas. (Foto: Thinkstock)

Saat merasa cemas, anak bisa saja tidak mengatakannya pada Anda. Meski begitu, kecemasan anak tidak bisa diabaikan begitu saja. Kecemasan berlebih yang tidak secara tepat diatasi, diketahui dapat menyebabkan stres berkepanjangan, trauma, hingga depresi.

Karena itu, Anda perlu bisa mengenali tanda-tanda anak cemas, Moms. Yang paling mudah antara lain dengan memerhatikan bila anak mengucapkan hal-hal berikut ini:

a. "Aku capek banget!"

Anak sering kali mengatakan ia merasa sangat lelah atau capek banget? Daripada buru-buru melabeli anak Anda malas, coba telusuri jadwal harian anak, Moms. Apakah ia kurang tidur di malam hari dan tetap harus bangun pagi untuk sekolah? Apakah jadwalnya terlalu padat dari pagi hingga sore hari?

Kondisi kecukupan jam tidur memang perlu diperhatikan karena selain berpengaruh pada kesehatan juga dapat menimbulkan rasa cemas pada anak. Jadi, sebelum menyodorkan anak dengan aneka rutinitas padat, pastikan sebanding dengan waktu istirahatnya.

b. "Kepalaku pusing, aku tidak mau ke sekolah."

Ilustrasi anak mengeluh pusing (Foto: Thinkstock)

Apakah si kecil seringkali berkata dia sakit, supaya mendapat izin Anda untuk tidak pergi ke sekolah? Padahal, Anda tahu kalau sebetulnya ia sehat-sehat saja. Ini juga bisa jadi pertanda bahwa anak sedang menghindari sesuatu di sekolahnya, Moms. Mungkin ada yang membuatnya cemas atau takut? Sebaiknya Anda segera mencari tahu penyebabnya.

c. "Maafin aku..."

Anak suka meminta maaf meski tidak melakukan kesalahan? Atau ia lebih sering menutup rapat mulutnya saat dimintai pendapat atau berbicara di depan umum? Ini menandakan kalau si kecil berusaha sekeras mungkin menutupi rasa cemasnya dan menghindari konflik, Moms.

d. "Kita di rumah saja ya, Bu?"

Ini adalah tanda kalau anak sedang menghindari dunia di luar sana. Ia merasa cemas dan tidak nyaman berada di luar rumah, yang bisa disebabkan suasana yang terlalu berisik baginya dan bila harus bertemu orang asing.

Bagi sebagian orang, memang ada yang lebih suka dengan kondisi tenang seperti berada di rumah daripada di tempat keramaian. Namun, Anda juga perlu membantu si kecil dalam mengatasi ini, sebab ia pun perlu dalam mengeksplorasi dunia luar.

e. "Kamu saja yang lakukan!"

Ilustrasi Anak (Foto: Thinkstock)

Si kakak beberapa kali suka meminta adik atau temannya untuk melakukan hal, padahal ia bisa melakukannya. Seperti meminta izin kepada Anda untuk main di luar, meminta makanan, dan sebagainya. Bila ini terjadi, bisa saja anak Anda bukan pemalu, Moms, melainkan merasa cemas, tidak percaya diri, atau bahkan rendah diri.

f. "Sekarang sudah boleh pulang, kan?"

Saat anak mau diajak pergi keluar rumah, tapi tidak lama ia meminta untuk segera pulang. Kadang, keramaian atau bahkan hanya 2-3 orang memang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, saat sedang dirundung kecemasan.

g. "Jangan tinggalin aku sendiri."

Anak menangis (Foto: THINKSTOCK)

Bagi anak dengan kecemasan, diabaikan dan ditinggal dalam waktu lama oleh orang tua maupun orang terdekatnya merupakan hal yang paling mengerikan, Moms. Baginya bila ada orang yang meninggalkannya, itu merupakan kesalahan dari diri anak. Misal, anak telah berbuat hal yang tidak disukai orang yang meninggalkannya itu.

h. "Jangan paksa aku!"

Pernyataan yang diutarakan anak setiap kali Anda mengharapkan si kecil melakukan sesuatu berkali-kali. Bisa jadi, reaksi dari perlakuan itu telah membuatnya trauma, dan ia tak mau lagi melakukannya.

i. "Perutku sakit"

Anak mengeluh sakit perut (Foto: Think stock)

Masalah kecemasan juga bisa membuat fisik ikut sakit. Inilah yang disebut gangguan psikosomatis. Tubuh akan merespons dengan mual, muntah dan sakit perut saat mental sedang merasa sakit, seperti mengalami kecemasan, stres, dan emosi negatif lainnya.

Anda bisa membantu si kecil mengatasi kecemasannya, Moms. Bantulah ia mengutarakan apa yang menjadi penyebab cemasnya. Akan lebih mudah bagi anak berbagi dengan Anda, saat Anda menjadikan diri Anda sebagai tempat yang hangat dan pendengar yang baik.

Sebaliknya, bila orang tua sering memaksa anak melakukan sesuatu, menyampaikan kata-kata kasar, dan terus memaki dan memarahi, anak tidak akan nyaman berada di dekat Anda. Bila kondisi anak semakin parah, segera bawa anak menemui psikolog.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53