kumparan
30 Jan 2018 10:29 WIB

Bolehkah Anak Makan Sushi?

Memilih makanan mentah untuk anak. (Foto: Thinkstock)
Sushi terus mendapatkan popularitas di Indonesia. Makanan khas dari Negeri Sakura ini memang semakin mudah ditemukan mulai dari yang berkonsep resto di mal hingga rumah makan bahkan warung Jepang di berbagai penjuru kota-kota besar kita.
ADVERTISEMENT
Meningkatnya popularitas sushi, membuat meningkat pula jumlah orang tua yang bertanya-tanya: bolehkah anak makan sushi dan kapan mereka dapat mengenalkannya dengan aman?
Sebelum menjawab pertanyaan ini sebaiknya Anda kenali dulu, sebetulnya apa sih, sushi?
Sushi adalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang digulung atau dibentuk bersama lauk atau beragam isian. Apa yang jadi isinya? Bisa berupa makanan laut, daging, ayam, sayuran hingga buah. Nasi sushi mempunyai rasa asam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras (mizkan), garam, dan gula.
Sushi bisa menjadi makanan sehat yang kaya akan asam lemak omega-3, protein, dan vitamin jika menggunakan ikan, sayuran hingga alpukat sebagai isinya. Asam lemak omega-3 membantu perkembangan otak dan mata anak-anak. Namun, dikutip dari Healthy Children, ada beberapa pertimbangan keselamatan dan kesehatan bagi orang tua terkait makanan ini. Apa saja?
Sushi mengandung merkuri yang bahaya untuk janin (Foto: Pexels)
Waspada Isian Sushi yang Bermerkuri
ADVERTISEMENT
Batasi sushi yang menggunakan lauk atau isi dari bahan-bahan rendah merkuri. Bahan yang tinggi kandungan merkurinya, seperti tuna, ikan todak, ikan bass, tilefish dan makarel misalnya, sebaiknya dikonsumsi tidak lebih dari 120 gram seminggu. Sebagai gantinya, Anda bisa pilih sushi dengan ikan salmon atau kepiting yang mengandung sedikit atau tanpa merkuri sama sekali.
Pesan Sushi yang Matang Saja
Makanan mentah atau yang tidak diolah sampai betul-betul matang berbahaya untuk dimakan oleh anak maupun anggota keluarga lainnya. Makanan mentah, dapat membuat tubuh terinfeksi kuman hingga membawa risiko penyakit yang berpotensi lebih tinggi. Ini tidak hanya terkait ikan atau makana laut mentah saja lho, tapi juga termasuk produk daging sapi dan unggas yang tidak dimasak dengan betul-betul matang.
ADVERTISEMENT
Di Jepang sendiri, di mana sushi adalah salah satu makanan utama atau harian, orang tua umumnya menunggu sampai anak-anak berusia 2 ½ sampai 3 tahun untuk mengenalkannya. Namun dalam beberapa kasus, mereka bahkan menunggu sampai usia 5 atau lebih.
Tapi tak perlu kecewa, saat ini banyak sekali dijual sushi yang menggunakan lauk atau isian matang. Mulai dari telur dadar, salmon dan belut panggang, hingga daging sapi dengan bumbu teriyaki. Rasanyapun, tak kalah enaknya.
Pilih dan Pastikan Tempat Makan Bersih
Sebaiknya, pilih tempat makan sushi yang dapat anda pastikan kebersihannya. Kebersihan saat mengolah maupun menyajikan sushi sangat memegang peranan penting untuk memastikan kualitas sushi. Ikan yang segar dan bebas dari kuman misalnya, bisa saja justru terkena kuman karena tangan yang mengolah tidak bersih atau dapur tempat mengolahnya kurang higienis.
Street Sushi (Foto: Instagram @streetsushi.id)
Nikmati dengan Wasabi.
ADVERTISEMENT
Biasanya sashimi disajikan bersama saus soyu yang tampak seperti kecap asin, acar jahe dan wasabi. Wasabi adalah tanaman asli Jepang dari suku kubis-kubisan yang ternyata mengandung senyawa isotiosianat yang bermanfaat sebagai anti bakteri.
Lengkapi Vaksinasi Anak
Walaupun jarang, bukan berarti anak Anda tidak mungkin tanpa sengaja makan sushi yang masih mentah atau kurang matang. Ini artinya anak tetap berisiko terinfeksi Hepatitis A dan atau parasit lainnya. Agar lebih aman, pastikan anak Anda telah menerima vaksin Hepatitis A sebelum dia mencoba sushi, ya!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan