Pencarian populer

Campak, Benarkah Berbahaya untuk Anak?

Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock

Imunisasi merupakan bentuk pencegahan terhadap penyakit berbahaya dan menular, salah satunya campak. Seorang anak yang terkena campak biasanya akan menunjukkan gejala demam tinggi, timbul bercak kemerahan pada kulit disertai dengan batuk, pilek dan mata merah.

Lantas, apakah campak termasuk jenis penyakit berbahaya sehingga membutuhkan imunisasi?

Moms, meski penyakit campak umum ditemukan, Anda tetap harus waspada. Menurut laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), campak adalah sebuah penyakit yang menular melalui saluran napas dan disebabkan oleh virus. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti diare, radang paru peunomia, radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian.

Ya, jangan pernah menganggap sepele penyakit campak, Moms. Prof. Dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A(K) dalam laman resmi IDAI menegaskan bahwa campak adalah jenis penyakit berbahaya, apalagi jika mengenai anak dengan gizi kurang atau sedang menderita satu penyakit lainnya. "Anak dengan sistem imun yang rendah (misalnya anak yang mendapatkan pengobatan kanker, penderita HIV) rentan terhadap penyakit campak, dan mempertinggi ancaman terhadap kesehatan mereka," jelasnya.

Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock

Penyakit campak bahkan bisa mewabah di suatu wilayah. Hal itu disebabkan oleh penyebaran virus campak yang sangat cepat dan langsung menginfeksi anak-anak. IDAI mencatat, dalam rentang tahun 2014-2018, 8964 anak positif terkena campak, dengan 89 persennya adalah anak di bawah usia 15 tahun.

Selain berbahaya, pengobatan penyakit campak juga memakan biaya yang cukup besar. Menurut data Subdit Imunisasi Kementerian Kesehatan, untuk pengobatan campak tanpa komplikasi membutuhkan biaya Rp 2,6 juta. Sementara campak dengan radang paru membutuhkan biaya pengobatan Rp 12,8 juta per orang dan campak dengan radang otak membutuhkan biaya Rp 11,7 juta per orang. Untuk mencegah penyakit ini, Anda bisa memberikan imunisasi pada anak, Moms. Imunisasi MR bisa Anda berikan rutin pada anak di usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat menginjak kelas 1 SD atau sederajat.

Selain mencegah penyakit campak, vaksin MR juga mencegah penyakit rubella. Untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit campak dan rubella, Anda juga boleh memberikan anak vaksin MMR setelah mendapat vaksin MR. Vaksin MMR sendiri mencegah penyakit campak, rubella dan gondongan.

Ilustrasi anak imunisasi, diberi vaksin. Foto: Shutterstock

Wabah campak bisa terjadi pada wilayah dengan cakupan imunisasi campak yang rendah. Pemberian imunisasi campak di satu wilayah sangatlah penting, karena kan melindungi anak-anak di wilayah tersebut terhadap penyakit campak. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka imunisasi campak harus mencapai cakupan yang tinggi yaitu 90-95 persen pada satu wilayah.

Jika sudah diimunisasi MR, benarkah si kecil tidak akan pernah terkena penyakit campak seumur hidupnya?

Ilustrasi vaksin dan imunisasi. Foto: Shutterstock

Moms, Anda harus tahu bahwa perlindungan imunisasi memang tidak 100 persen. Artinya setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit-penyakit tersebut, tetapi kemungkinannya jauh lebih ringan yaitu 5-15 persen dan tidak berbahaya. Jangan mengartikan kalau imunisasi itu gagal atau tidak berguna, karena perlindungan imunisasi memang sekitar 80 - 95 persen.

"Setelah imunisasi lengkap masih bisa tertular penyakit tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya dibanding anak yang tidak diimunisasi," jelas Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SpA (K), Msi., dalam keterangan tertulis yang diterima kumparanMOM.

Ya Moms, jika Anda menemukan seorang anak terkena penyakit campak ringan, kemungkinan besar anak tersebut sudah diimunisasi, sehingga dampak penyakit campak tidak membahayakan dirinya. Lantas, jika anak Anda belum melakukan imunisasi tapi terkena gejala campak ringan, kemungkinannya, menurut Prof. Soedjatmiko, si kecil bukan terkena campak melainkan rubella. Gejala penyakit rubella sendiri tidak spesifik bahkan bisa tanpa gejala. Gejala umum berupa demam ringan, pusing, pilek, mata merah dan nyeri dan persendian, mirip gejala flu.

--------------

kumparanMOM mendukung penuh Pekan Imunisasi Dunia dengan menyiapkan puluhan artikel tentang imunisasi sepanjang minggu ini khusus untuk Anda, Moms. Baca semuanya dengan mengikuti topik Pekan Imunisasi Dunia dan jangan lupa sebarkan pada seluruh keluarga dan teman-teman Anda, ya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63