Pencarian populer

Cara Siapkan Anak Hadapi Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi keluarga muda kompak. Foto: Shutterstock

Mungkin Anda sudah sering mendengar kalau sekarang adalah zamannya revolusi industri 4.0. Artinya, peran teknologi kini yang makin marak. Manfaatnya Anda tentu bisa merasakan sendiri, yakni teknologi bisa lebih memudahkan hidup.

Misalnya saja sekarang kalau mau belanja kebutuhan sehari-hari, tinggal sekali klik lewat smartphone. Atau kebetulan sedang malas menyetir? Tinggal manfaatkan taksi online. Ya, itu semua berkat kemajuan teknologi.

Sementara kalau bicara dampak, bukannya tidak ada. Antara lain bisa menghilangkan beberapa jenis pekerjaan, karena digantikan oleh robot. Contohnya, jalan tol sekarang banyak yang sudah menggunakan mesin tap e-tol dan bukan oleh kasir lagi, serta banyak contoh lainnya.

Tak sampai situ, dampak luasnya juga menjadi tantangan orang tua supaya jangan mendidik anak seperti robot, kalau tak mau tergantikan perannya.

com-Ilustrasi menggunakan fintech di smartphone Foto: Shutterstock

Karena itu, kita, para orang tua, harus memastikan anak siap menghadapinya. Tidak mau dong, si kecil malah 'tergerus' zaman. Bila disiapkan dengan baik, anak akan dapat beradaptasi serta berkompetisi pada masa kini dan masa depannya kelak.

Demikian menurut Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo S.Psi, Psi., "Orang tua perlu mempersiapkan anak dalam menghadapi revolusi industri 4.0!" tegasnya.

Psikolog Vera Itabiliana di Parenting Class: "Millenial Parents Skills" di Cambridge Preschool Depok, Sabtu (25/5). Foto: Fina Prichilia/kumparan

"Anak perlu diberi bekal, antara lain terkait keterampilan berpikir yaitu bisa berpikir kritis, membuat keputusan dan menyelesaikan masalah; lalu keterampilan digital (digital skill); keahlian dalam pekerjaan yang spesifik (job specific skill); dan keterampilan personal (personal skill)," papar Vera dalam Parenting Class: "Millenial Parents Skills", di Cambridge Preschool Depok, Sabtu (25/5).

Secara rinci, Vera menyebut, dua hal yang bisa orang tua tanamkan pada anak terkait keterampilan itu sejak dini, yakni pada keterampilan berpikir kritis dan keterampilan personalnya anak.

Orang tua mesti cermat, sebab gaya pengasuhan mereka bisa menumbuhkan, sebaliknya, salah-salah pengasuhan justru bisa menumpulkan. Caranya? Biasakan untuk anak menyatakan pendapat, hormati pendapat serta perasaannya juga, lalu biarkan anak belajar saat ia menemui kesulitan.

Ilustrasi anak sedang berpikir. Foto: Shutterstock

Sebaliknya, bila anak terlalu sering terima-terima saja dari orang tua, maka akan terbawa sampai nanti ia besar, sehingga sulit baginya dalam membuat keputusan dan menyelesaikan masalah.

"Sementara pada personal skill, latih anak dalam mengelola emosi. Karena bagaimanapun, kelebihan manusia dibanding robot yang canggih sekalipun adalah soal akal dan budi. Manusia punya kekuatan pada human touching (sentuhan), jadi jangan remehkan sentuhan. Kontak fisik seperti mengelus kepalanya dan berpelukan, bisa meningkatkan ikatan antara ibu dengan anak dan menujang dalam kecerdasan emosional si kecil," jelas Vera.

Vera memberi tips soal lima langkah dalam mengasah kecerdasan emosional yang bisa Anda praktekkan nih, Moms. Di antaranya:

Memeluk adalah salah satu cara meningkatkan bonding dan menunjang kecerdasan emosional anak. Foto: Shutterstock

1. Ketika anak sedang emosi, sadari dulu alasan yang membuat anak jadi emosi. Apakah marah karena Anda sudah melarangnya bermainkah? Atau lain sebagainya.

2. Sadari kondisi ini adalah sarana bagi anak dan Anda sama-sama belajar. Bagi Anda, artinya jangan terpancing dengan emosi anak sehingga ikutan marah. Sementara bagi anak, belajar untuk mengenali emosinya.

3. Bantu anak mengenali emosi yang ia tengah alami itu dengan cara melabeli. Anda bisa berkata, "Oh, kamu lagi marah ya nak.."

4. Komunikasikan pada anak kalau Anda memahami kondisinya itu, "Mama paham kamu lagi marah, nak."

5. Yang terakhir, buat batasan dan selesaikan masalah. Anda bisa berempati sambil melatih anak, misalnya berkata, "Kamu lagi marah nggak apa-apa, tapi jangan lempar-lempar barang ya." atau "Kalau kamu sudah tidak marah lagi, sudah tenang, baru temui ibu ya."

Foto bersama di Parenting Class: "Millenial Parents Skills" di Cambridge Preschool Depok, Sabtu (25/5). Foto: kumparan

Cara ini membuat anak bisa mengenali emosi yang ia tengah rasakan serta dapat mengontrol dirinya. Ketika anak sudah tenang, baru ia bisa diberi masukan-masukan yang membangun.

Hal ini mengajarkan si kecil bahwa tidak semua keinginan ia harus terpenuhi saat itu juga. Selain itu, berteriak-teriak sambil menangis bukanlah solusi agar ia bisa mendapat yang ia inginkan, berempati dan dapat membina hubungan dengan orang lain.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32