Pencarian populer

Demo 22 Mei, Orang Tua Sebaiknya Bersikap Bagaimana?

Barikade polisi berjaga di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Rabu (22/5). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Berita dan lini masa seputar aksi demo 22 Mei di sekitar kantor Bawaslu, Thamrin, Tanah Abang dan Petamburan masih terus bergulir sejak kemarin hingga siang ini.
ADVERTISEMENT
Tak heran, tidak sedikit kantor yang menyuruh karyawaannya bekerja dari rumah. Anak-anak diliburkan oleh beberapa sekolah, bayi dan balita yang dititipkan di daycare di sekitar Sudirman dan Thamrin diminta segera dijemput oleh orang tua. Siapa yang tidak cemas jadinya, Moms?
Tapi sebagai orang tua, kita tetap perlu mengatur emosi sebaik mungkin dan bersikap bijak. Jangan sampai kecemasan ini tertangkap oleh anak. Redakan rasa takut segera.
ilustrasi ibu bersikap tetap tenang untuk anak Foto: Shutterstock
"Stay calm! Ini kata kuncinya," ujar Alzena Masykouri MPsi, Psi, dari Sentra Tumbuh Kembang Anak, Kancil, Jakarta Selatan, saat dihubungi kumparanMOM tadi pagi.
Menurut Alzena, kita harus ingat, anak-anak selalu memerhatikan dan mencontoh orang tuanya. Maka, bagaimanapun pendapat kita mengenai demo 22 Mei ini, berusahalah memahami semua emosi namun tetap tenang apapun berita yang kita dengar, lihat atau baca.
Ilustrasi anak merasa tidak aman Foto: Shutterstock
"Coba tetap bersikap seperti biasa," ujar Alzena, "Jaga sikap agar dapat memberikan anak rasa aman. Jangan sampai, anak menangkap sikap Anda sebagai tanda adanya situasi yang tidak aman."
ADVERTISEMENT
Alzena menambahkan, memberi anak rasa aman dan meyakinkan anak bahwa kita sekeluarga akan baik-baik saja, sangat penting. Terlebih bila minggu ini, anak tengah menghadapi penilaian akhir semester atau ujian. Tidak mau kan Moms, anak malah jadi kehilangan konsentrasi akibat ketakutan?
Bila anak sudah merasa tenang dan aman, orang tua juga jadi bisa fokus pada membuat atau memastikan prosedur operasi standar yang disepakati keluarga.
Apa maksudnya?
Ilustrasi kerusuhan Foto: Tama66
"Setiap keluarga perlu punya SOP, prosedur operasi standar tentang bagaimana harus bertindak bila terjadi kondisi darurat," ujar Alzena.
Prosedur ini perlu dibuat sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga. Misalnya bila anak-anak Anda masih berusia di bawah 6 tahun, mulai dengan memastikan anak hafal nama, alamat rumah, dan nomor telepon orangtua. Lalu mulai kepada hal-hal yang lebih jauh.
ADVERTISEMENT
Misalnya, apakah di rumah ada telepon yang bisa dipakai anak untuk menghubungi Anda bila terjadi apa-apa? Sudahkah Anda mencatat nomor kontak satpam atau petugas keamanan di lingkungan rumah baik di ponsel maupun di tempat yang mudah dilihat anak maupun pengasuhnya? Siapa yang harus anak hubungi bila terjadi kondisi darurat dan ia tidak bisa menghubungi Anda? Apakah ada tetangga atau kerabat yang Anda percaya dan bisa ia datangi untuk minta bantuan? Bagaimana cara dia bisa sampai ke sana Pastikan anak tahu, memahami dan mengingat semua ini.
"Sekali lagi, sesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga maupun usia anaknya," pesan Alzena.
Ilustrasi anak sekolah Foto: Shutterstock
Bila anak sudah lebih besar dan bersekolah misalnya, prosedur bisa ditambah dengan masalah menghadapi darurat kebakaran atau jalur perjalanan yang aman saat pergi dan berangkat sekolah maupun ke tempat kegiatannya yang lain.
ADVERTISEMENT
"Anak perlu tahu jalur aman menuju rumah, titik aman yang harus dituju bila ada keadaan darurat, rumah kerabat, kantor polisi, RS, dan sebagainya. Siapkan juga pesan rahasia untuk memberitahukan kondisi darurat yang dialami dan pengaturan penjemputan yang tak biasa jika terjadi kondisi darurat," Alzena menjelaskan.
Bekali anak dengan identitas lengkap di tas sekolahnya Foto: Shutterstock
Anda juga bisa berkoordinasi dengan pihak sekolah serta mengingatkan anak untuk menjauh dari pusat kekacauan, amankan diri, selalu beri kabar status dan posisi. Bila anak tidak memiliki kartu identitas, selipkan kartu buatan sendiri yang bertuliskan data diri (terutama golongan darah dan alergi) serta nomer kontak darurat di tasnya.
Buat semua prosedur keamanan darurat ini secara tertulis. Kenapa? Karena jika panik, kemungkinan untuk mengingat semua prosedur akan sangat kecil. Lebih baik jika satu hal yang harus diingat "cuma" soal ambil catatan saja, kan?
ADVERTISEMENT
Jangan lupa, lepas dari adanya demo 22 Mei ini ataupun tidak, latihan tanggap darurat mesti rutin dilakukan, Moms. "Penting sekali, agar seluruh keluarga lekas tanggap dan menjadi spontan atau refleks. Ini lah, yang seharusnya kita sebut, waspada," tutup Alzena.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81