Pencarian populer

Gangguan Pertumbuhan yang Sebabkan Anak Bertubuh Pendek

Anak di sekolah barunya. (Foto: Thinkstock)

Si kecil bukan lagi bayi. Ia sudah tumbuh menjadi seorang anak yang semakin mengerti banyak hal. Ukuran tubuhnya juga akan berubah. Ia tumbuh semakin tinggi. Namun jika Anda merasa anak bertubuh lebih pendek dibanding teman sebayanya, Anda perlu curiga anak mengalami stunting.

Dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), stunting merupakan perawakan pendek akibat gangguan pertumbuhan yang sebagian besar disebabkan masalah nutrisi. Masalah nutrisi yang dimaksud yakni pemberian asupan gizi yang kurang dari jumlah yang dibutuhkan dan terjadi dalam waktu cukup lama, yaitu bisa sejak bayi masih di dalam kandungan dan baru terasa ketika anak sudah menginjak usia dua tahun.

Bukan hanya tubuhnya yang pendek, ada dampak lain dari stunting juga mengintai anak-anak kita. Di antaranya tentu memiliki tinggi badan yang cenderung pendek dibanding teman sebaya, perkembangan terhambat, mudah sakit akibat penurunan fungsi kekebalan dan gangguan sistem pembakaran di dalam tubuh, penurunan fungsi kognitif, hingga kematian pada bayi dan anak.

Anak dirawat di rumah sakit. (Foto: Thinkstock)

Dan dalam jangka panjang, muncul risiko terkena penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, hipertensi, obesitas, dan jantung koroner. Hal ini pula menyebabkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi negara.

Kasus stunting pada anak jelas bisa dicegah, dan merupakan tugas orang tua, petugas kesehatan, dan segenap masyarakat mengingat menurut data WHO, Indonesia berada di peringkat lima dunia untuk jumlah anak dengan stunting.

Menurut Dr. Lina Ninditya yang dikutip dari laman IDAI, awal kehamilan sampai anak berusia dua tahun atau periode 1000 Hari Pertama Kehidupan, merupakan periode kritis terjadinya gangguan pertumbuhan, termasuk perawakan pendek.

Ibu hamil makan sehat. (Foto: Thinkstock)

Pada periode seribu hari pertama kehidupan adalah sangat penting dilakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan secara berkala dan tentu saja pemenuhan kebutuhan dasar anak yaitu nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi.

Untuk itu, orang tua perlu:

a. Memenuhi asupan gizi harian menu sehat seimbang selama hamil, dan bila perlu dengan suplemen tambahan (dengan resep dokter)

b. Rutin cek ke dokter untuk memastikan status sehat bagi calon ibu dan pertumbuhan janin berjalan sebagaimana mestinya

c. Memberikan ASI Eksklusif atau pemberian makanan hanya berupa ASI pada bayi sampai ia berusia 6 bulan

d. Menyajikan MPASI sehat yang sesuai jumlah gizinya, serta tetap melanjutkan pemberian ASI

e. Rutin melakukan kunjungan teratur ke fasilitas kesehatan untuk memantu tinggi badan anak, serta mendeteksi bila terdapat gangguan pertumbuhan

f. Menciptakan lingkungan yang sehat, dengan memastikan air dan sanitasi bersih, serta tidak terpapar asap rokok.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23