Pencarian populer
2 Juni 2018 10:59 WIB
0
0
Hyper Parenting, Pola Asuh dengan Kontrol Ketat yang Berdampak Buruk
Ilustrasi orang tua (Foto: Thinkstock)
Sebagai orang tua, tak dipungkiri kita selalu ingin memberikan yang terbaik bagi buah hati. Mulai dari memastikan tumbuh kembang anak optimal, menjadikannya pribadi unggul, hingga segala macam proteksi si kecil senantiasa terjaga.
Eits, tapi jangan sampai berlebihan menerapkan pola asuh dan kontrol terhadap anak ya, Moms, alias jadi orang tua yang menerapkan hyper parenting.
Hyper parenting atau yang disebut juga intensive parenting atau hyper vigilance merupakan pola pengasuhan orang tua terhadap anak dengan intensitas kontrol yang ketat. Meski sebetulnya tujuannya positif, namun yang seringkali jadi persoalan ialah jadi memaksakan aktivitas itu secara terus menerus hingga pengawasan yang berlebihan.
Baby Post menyebut beberapa efek negatifnya, yaitu anak yang mendapat dorongan dan tekanan terlalu keras bisa mengalami kesulitan dalam relasi sosialnya. Ia jadi tidak terbiasa menentukan pilihan sendiri hingga hubungannya kepada orang tua juga terganggu. Di antaranya: anak jadi pembangkang hingga membenci orang tua yang sombong dan overprotektif.
Untuk itu waspadalah, Moms, jangan sampai rasa sayang Anda kepada anak jadi ‘bumerang’. Maka, mulailah hati-hati ketika beberapa tanda-tanda hyper parenting muncul pada diri Anda, seperti berikut ini:
Cemas berlebihan
Ilustrasi Ibu Memberi Kabar (Foto: Thinkstock)
Anda selalu cemas dan khawatir terhadap apa yang dialami anak. Misal, ketika ia terlambat pulang, menginap di rumah kakek neneknya. Anda seringkali menelepon setiap saat hanya untuk tahu kondisi atau apa yang sedang ia lakukan, apa yang sudah ia makan, memastikan si kecil tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang Anda larang selama tidak bersama Anda, dan sebagainya.
Sangat detail
Anda merasa mesti mengetahui dan memastikan apa saja yang dilakukan anak, setiap detailnya. Misalnya, makanan apa yang ia konsumsi, makan sendiri atau disuapi, berapa banyak, dan sebagainya.
Merasa frustasi dan gagal
stres (Foto: dok.thinkstock)
Tak jarang, Anda menuntut anak Anda agar ‘sama’ seperti anak lain. Termasuk, stimulasi yang Anda berikan pada tumbuh kembangnya si kecil. Ketika ia terlambat atau tidak merespon misalnya, Anda bisa dibuat stres dan tertekan sendiri. Anda merasa terpukul dan kecewa ketika anak melakukan kesalahan atau Anda yang merasa tidak becus dalam mengasuh anak.
Berperilaku tak masuk akal
Tanpa memberi penjelasan pada anak, Anda menyuruh anak mengerjakan hal yang menurut Anda ‘positif’ sepanjang hari tanpa mengenal waktu. Seperti, belajar berhitung, membaca, atau menulis sepanjang hari daripada bermain dengan teman sebaya, meskipun si kecil kelihatan sudah kelelahan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
setahun yang lalu · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
setahun yang lalu · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
setahun yang lalu · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: