Pencarian populer

Jendela dan Cermin: 2 Kata Kunci saat Memilih Buku untuk Anak

Ilustrasi anak membaca. (Foto: Thinkstock)

Demi anak, banyak orang tua yang sibuk mencari sekolah paling bagus di kota tempat tinggalnya. Padahal, tidak ada sekolah yang paling bagus. Setiap sekolah punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Setiap sekolah juga tidak bisa mendapat nilai yang sama dari setiap keluarga.

Sekolah yang baik atau bagus di mata Anda misalnya, belum tentu sama di mata orang tua lainnya. Ini semua terkait banyak faktor, Moms. Mulai dari fasilitas, metode pendidikan, lokasi hingga biaya yang dibebankan. Belum lagi kesesuaian pendekatan yang digunakan sekolah dengan nilai-nilai keluarga Anda.

Bisa saja kan, Anda ingin sekolah yang memiliki fasilitas olahraga lengkap untuk si kecil sementara orang tua lain lebih mementingkan fasilitas ibadah di sekolah. Atau Anda menganggap sekolah yang bagus adalah yang menerapkan disiplin tegas pada anak, sementara orang tua lain sebaliknya?

Itu sebabnya, tidak ada sekolah yang bisa dikatakan sekolah paling bagus. Tapi pilah, pilih dan temukanlah sekolah yang paling tepat untuk anak-anak kita.

Begitu juga saat memilih buku untuk anak. Demikian pendapat pemimpin redaksi kumparanMOM (kumparan.com), Prameshwari Sugiri saat mengisi acara talkshow di Festival Hari Buku Anak Bandung Vol. 2 di Institut Teknologi Bandung, Minggu (22/4).

Festival Hari Buku Anak Vol II (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

“Meski umpamanya usia anak saya dan anak Anda sama, buku yang tepat untuk anak saya, belum tentu tepat untuk anak Anda dan sebaliknya,” ujar Imesh, begitu Prameshwari biasa disapa, "Karena itu, luangkan waktu untuk memilah dan memilih sendiri buku untuk anak."

Tapi bagaimana caranya? Menurut Imesh, Anda bisa mencoba menggunakan 'Jendela dan Cermin' sebagai kuncinya.

"Buku itu kan tidak hanya seperti jendela yang dapat menunjukkan dunia pada anak, tapi juga seperti cermin. Melalui buku, anak dapat melihat dan mengenali dirinya sendiri," kata Imesh yang memiliki 2 orang putri ini.

Dari sini, Imesh menyarankan orang tua untuk membayangkan bagaimana Anda memilih jendela dan cermin untuk anak.

"Bayangkan si kecil berdiri di tepi jendela di rumah Anda. Pemandangan apa yang Anda harapkan dilihatnya? Taman yang indah, jalanan di depan rumah, atau tembok gudang yang suram?"

Pertimbangkan juga variasi 'pemandangan' yang dilihat anak. "Bosan kan, kalau jendelanya hanya melihat ke situ-situ saja? Padahal dunia ini luas sekali. Sama halnya kalau kita membelikan anak buku yang isinya begitu-begitu terus. Buku dongeng terus, atau buku Princess terus?" Imesh memberi perumpamaan.

Jadi, berikanlah anak kesempatan membaca buku dengan berbagai tema, gaya cerita, karakter, konflik dan beragam gaya ilustrasi. Tanyakan pada diri sendiri, sudah cukup beragamkah buku-buku yang dibaca anak saya? Sudah sejauh dan sebanyak apa yang si kecil ketahui dari buku-bukunya?

Festival Hari Buku Anak Vol II (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

"Ini penting agar wawasan anak berkembang luas," ujar Imesh, "Keragaman bacaan ini juga dapat melatih anak berpikir kritis. Ia tahu ada begitu banyak keragaman di dunia dan dia adalah bagian di dalamnya."

Kemudian bayangkan anak tengah bercermin. Imesh melanjutkan, "Saat membaca, anak dapat menemukan dan mengenali dirinya dalam tokoh yang ada di dalam buku. Anak mungkin berkata dalam hati: oh dia seperti aku atau aku juga suka begini."

Festival Hari Buku Anak Vol II (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Di sinilah penting untuk orang tua memilihkan juga buku-buku yang membuat anak merasa terwakili atau buku yang dapat membuat anak lebih memahami siapa dia.

Tanyakan pada diri sendiri, apakah buku yang Anda bacakan atau berikan pada anak ada yang menggambarkan lingkungan tempat tinggal seperti lingkungan tempat tinggal keluarga Anda? Bagaimana dengan karakter dalam buku yang mirip dengan si kecil?

Pojok Baca di Festival Hari Buku Anak (Foto: Imesh)

"Seorang anak dengan rambut keriting bisa lho, merasa kurang percaya diri karena selalu membaca buku-buku di mana tokoh atau karakter di dalamnya berambut lurus. Kelihatannya sepele ya, padahal penting bagi anak," Imesh menjelaskan.

Ini sebabnya, Imesh selalu berusaha memberikan juga buku-buku yang mengangkat tema-tema yang dekat dengan anak atau keluarganya.

"Saya suka membelikan anak buku tentang tumbuhan atau binatang yang biasa ada di sekitar kami, buku tentang budaya dari kampung halaman kakek-nenek mereka, juga buku yang mengangkat masalah-masalah yang sedang dialami anak. Saat anak takut gelap atau ke dokter gigi, misalnya. Intinya, buku yang dekat dengan kehidupan anak atau membuat anak merasa terwakili,” tambah Imesh.

Nah, bagaimana dengan Anda, Moms? Apakah Anda punya kiat sendiri dalam memilah dan memilih buku untuk anak? Silakan sampaikan di kolom komentar ya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57