kumparan
27 Des 2017 16:46 WIB

Kekerasan Tidak Akan Berguna dalam Mendidik Anak

Ilustrasi memukul anak (Foto: Thinkstock)
Memukul anak seakan menjadi tindakan yang dikutuk, namun masih sering dilakukan. Menurut laporan ‘Global Report 2017: Ending Violence in Chilhood’, 73,7 persen anak Indonesia pernah mengalami kekerasan di rumahnya sendiri. Kekerasan yang terdiri dari pukulan dan cubitan lazim digunakan karena dianggap ungkapan kasih sayang dari orang tua demi kebaikan anaknya.
ADVERTISEMENT
Namun, kekerasan nyatanya hanya akan memberikan dampak yang negatif bagi kondisi fisik dan psikis seorang anak. Dilansir Psychology Today, kekerasan justru dapat merusak mental anak.
Tindakan pemukulan mengajarkan mental seorang penindas. Orang tua yang melakukan kekerasan merasa dirinya lebih kuat dan lebih pintar dibanding anaknya. Memukul anak sama saja dengan mengatakan kepada anak-anak bahwa memukul orang yang fisiknya lebih kecil atau bahkan lebih lemah daripada mereka adalah suatu kebenaran.
Memang, orang tua memiliki pengetahuan dan kewajiban lebih besar dari anaknya yang usianya belum genap 17 tahun. Namun, hal tersebut bukan menjadi alasan untuk menggunakan kekerasan bukan?
Selain itu, memukul juga akan diartikan sebagai suatu cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari orang lain. Memukul akan memberikan gambaran pada anak, bahwa untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, segala jalan ditempuh bahkan kekerasan sekalipun.
ADVERTISEMENT
Itulah mengapa, sering kali kasus bullying muncul berupa kekerasan antar anak di sekolah. Para anak pelaku aksi bullying merasa dominasi atau kesuksesan bisa diraih melalui jalan kekerasan.
Memukul adalah Cara Mendidik yang Buruk
Kekerasan pada anak (Foto: Thinkstock)
‘Demi kebaikan’ bukanlah alasan yang bisa membenarkan praktik kekerasan oleh orang tua kepada anaknya. Alih-alih memberi efek positif dan mengubah perilaku anak, sebagian besar penelitian justru membuktikan sebaliknya.
Kekerasan yang diterima dari orang tua berbanding lurus dengan ketidakstabilan emosi anak ketika dirinya menginjak dewasa. Hukuman fisik membuat anak berpikir pasti ada sesuatu yang sangat salah dengan dirinya hingga ia diperlakukan dengan buruk oleh orang tuanya. Jika anak berpikir mereka adalah pribadi yang "buruk," maka mereka juga akan bertindak "buruk".
ADVERTISEMENT
Anak-anak juga cenderung mengalami permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan mental, seperti masalah kecemasan, depresi, antisosial, hingga penyalahgunaan zat atau obat-obatan terlarang. Lebih dari itu, anak juga akan membenci dirinya sendiri dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Mendisiplinkan Tanpa Memukul
Ketahuilah, melihat orang tua marahnya biasanya sudah menjadi hal yang cukup menakutkan bagi anak-anak. Jangan tambah rasa takut itu dengan hukuman berupa kekerasan fisik yang menjadi sarana untuk melampiaskan kemarahan dan frustasi diri sendiri. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendisiplinkan anak, selain dengan memukul dan bertindak kasar kepada mereka.
Caranya bisa dengan memberikan pilihan kepada anak, agar mereka bisa memahami konsekuensi atas segala tindakan dan perilaku mereka. Misalnya saat meminta anak untuk berbuat jujur ketika mengerjakan ujian, orang tua bisa mengatakan, "Jika kamu berbuat jujur dan tidak mencontek, kamu akan punya banyak teman dan disenangi oleh banyak orang. Namun, jika kamu mencontek dan kamu tidak jujur kepada mama, maka kamu tidak akan disenangi banyak orang,"
ADVERTISEMENT
Sebagai orang tua, berikanlah mereka perumpamaan. Apabila mereka melakukan 'X', maka mereka akan mendapatkan hukuman. Namun, jika mereka melakukan 'Y', maka mereka akan mendapatkan kebaikan. Selama perilaku dan konsekuensi yang diberikan kepada anak bisa diutarakan dengan spesifik dan jelas, maka pendekatan ini adalah cara yang sangat efektif untuk membentuk perilaku yang baik pada anak.
Ilustrasi pemukulan pada anak (Foto: Thinkstock)
Hal ini memungkinkan anak-anak untuk memiliki kontrol atas apa yang terjadi pada mereka, dan mengajarkan mereka untuk mencari dan mempertimbangkan pilihan terbaik bagi hidup mereka masing-masing.
Selain hal di atas, perlu diingat hukuman fisik sebenarnya tidak akan bekerja dengan baik pada anak yang menerimanya. Hal itu disebabkan karena hukuman fisik justru memiliki sejumlah kelemahan tersendiri, di antaranya adalah mengajarkan anak untuk menipu dan berbohong kepada orang tuanya, mudah bersedih dan menangis, serta membuat anak tidak bisa menikmati masa pertumbuhannya dengan penuh kebahagiaan.
ADVERTISEMENT
Cara yang efektif perlu diterapkan untuk mendidik anak agar mampu bersikap disiplin secara benar. Orang tua perlu menunjukkan contoh yang baik dan efektif untuk memecahkan masalah pada anak.
Orang tua juga harus fokus pada cara bagaimana membantu anaknya untuk mudah mengendalikan diri secara baik. Agar anak mampu membangun harga diri mereka dan bisa dengan mudah bersosialisasi dengan teman-temannya yang lain.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan