kumparan
2 Okt 2018 18:35 WIB

Kenapa ASI Perah Berwarna Kekuningan?

Ilustrasi ASI perah yang berwarna kekuningan. (Foto: Shutter stock )
Saat memerhatikan ASI perah miliknya, mungkin ada hal-hal yang membuat seorang ibu, khususnya ibu baru, jadi bertanya-tanya. Misalnya, tentang warna ASI perah yang kekuningan. Apakah memang seperti ini? Kenapa tak seputih susu sapi?
ADVERTISEMENT
Bila Anda termasuk ibu baru yang mempertanyakan hal ini, jangan khawatir, Moms. Anda perlu tahu kalau warna kuning tersebut menandakan adanya kandungan kolostrum pada ASI yang jumlahnya cukup banyak. Kandungan kolostrum ini terutama mudah ditemui pada awal-awal waktu Anda menyusui.
Selain itu, warna kuning ini juga sering ditemui akibat ASI telah disimpan di kulkas dan sudah dalam keadaan beku. Keadaan beku membuat antar komponen ASI jadi terpisah. Sekali lagi, Anda tak perlu khawatir. Komponen yang terpisah itu bisa disatukan lagi dengan cara menggoyang wadah ASI perah sebelum diberi pada bayi.
Yang perlu Anda perhatikan, selama manajemen penyimpanan dan pemberian ASI perah sudah dilakukan dengan benar, maka Anda masih berada di jalur yang tepat kok, Moms!
Ilustrasi ASI Perah yang berwarna Kemerahan (Foto: Unsplash)
Bahkan selain warna kuning, jangan kaget kalau sewaktu-waktu ASI perah Anda tiba-tiba bisa berwarna merah muda, hijau, oranye atau warna lainnya.
ADVERTISEMENT
Pada kasus ASI perah berwarna kemerahan atau merah muda, ada kemungkinan terjadi karena ASI tercampur darah. Misalnya akibat puting Anda yang lecet. Namun, selama kondisi ibu menyusui sehat, maka tercampurnya ASI dengan darah tidak akan membahayakan bayi.
Selanjutnya, selain itu adalah pengaruh makanan yang dikonsumsi ibu menyusui juga bisa memengaruhi warna ASI perah. Seperti buah bit membuat warna ASI jadi pink dan sayuran hijau maka ASI menjadi warna hijau.
Maka dari itu, ingat-ingat lagi apa yang baru Anda makan yang kemudian membuat perubahan warna pada ASI perah Anda. Tapi bila Anda merasa ada yang tidak benar, selain itu juga mungkin Anda sedang aktif mengonsumsi obat-obatan, maka tidak ada salahnya untuk segera mendatangi ke konsultan laktasi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan