kumparan
26 Mar 2019 17:55 WIB

Masalah Kesehatan yang Bisa Mengancam Bayi Gemuk

Masalah kesehatan yang mengancam bayi gemuk Foto: Shutterstock
Bayi gemuk dengan pipi chubby memang menggemaskan. Tak jarang, banyak orang yang berlomba-lomba ingin memeluknya.
ADVERTISEMENT
Namun, sebagai orang tua, Anda sebaiknya bersikap waspada jika si kecil memiliki kondisi tubuh seperti itu. Ini karena bayi yang gemuk lebih berisiko mengalami obesitas di kemudian hari, Moms.
Bayi dikatakan obesitas apabila setelah diperiksa dokter menggunakan kurva pertumbuhan WHO, perbandingan berat dan panjang badannya melebihi persentil 95. Hal tersebut bisa terjadi karena beberapa hal, seperti faktor genetik, kebiasaan makan yang salah, serta kurangnya aktivitas fisik.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine mengungkap hasil penelitian dari 44.000 bayi di Amerika Serikat selama sepuluh tahun terhadap pencegahan obesitas yang dilihat dari berat tubuh bayi baru lahir hingga usia 24 bulan. Hasilnya, grafik pertumbuhan berat dan panjang badan bayi baru lahir yang digunakan dokter anak saat melakukan pemeriksaan rutin, mampu menjadi acuan risiko obesitas pada bayi di kemudian hari.
Tubuh Bayi Padat Gemuk. Foto: Shutterstock
Mengutip laman Mayo Clinic, obesitas berisiko mengganggu tumbuh kembang si kecil. Misalnya saja, bayi gemuk bisa jadi terlambat merangkak atau terlambat berjalan. Dilansir Baby Gaga, studi yang diterbitkan dalam Journal of Pediatrics ini juga mengungkapkan 75 bayi dengan rata-rata ukuran tinggi lemak perut, lengan atas, dan punggung atas, 23 persen (atau 17 orang bayi) mengalami keterlambatan keterampilan motorik.
ADVERTISEMENT
Selain itu, obesitas pada bayi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan anak di masa mendatang. Misalnya terkena gangguan tulang dan sendi, sesak napas saat beraktivitas, berisiko terkena asma, hipertensi, kolestrol, penyakit jantung, maupun stroke.
Lantas, apa yang harus orang tua lakukan jika bayinya gemuk? Perlukah khawatir?
Moms, Anda tak perlu khawatir berlebihan, karena sebenarnya tidak semua bayi gemuk akan terkena obesitas. Pasalnya, bayi gemuk bisa saja berkurang berat badannya saat berusia 1 atau 2 tahun. Anda juga harus ingat, bayi masih membutuhkan makanan tinggi lemak untuk mendukung pertumbuhannya. Karenanya, pembatasan asupan kalori pada bayi di bawah usia 2 tahun belum direkomendasikan.
Ilustrasi bayi gemuk Foto: Pixabay
Meski begitu, untuk mencegah obesitas, Anda tetap harus mengontrol segala hal yang berkaitan dengan berat badan dan tumbuh kembang si kecil dengan melakukan beberapa cara, seperti:
ADVERTISEMENT
  • Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahu atau lebih diiringi pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tindakan tersebut dapat menurunkan risiko obesitas pada bayi.
  • Berikan MPASI sehat dan alami, seperti buah atau sayuran segar murni dan hindari memberikan makanan yang tinggi gula.
  • Perhatikan porsi makanan yang diberikan. Pastikan tidak terlalu sedikit tapi jangan pula sampai berlebihan.
  • Jangan lansgung memberikan ASI atau susu formula untuk mendiamkan tangisan bayi. Bereksperimenlah dengan mencari cara yang tepat untuk membuat bayi Anda menghentikan tangisannya, kecuali jika si kecil menunjukkan tanda-tanda ia memang lapar.
  • Batasi penggunaan media. American Academy of Pediatrics tidak menganjurkan penggunaan media, seperti TV atau smartphone, bagi anak di bawah usia 2 tahun. Semakin sering menonton TV, kemungkinan anak untuk mengalami obesitas juga semakin tinggi. Anak Anda bisa saja mengembangkan selera makannya untuk mengonsumsi makanan siap saji yang dipromosikan dalam iklan TV.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan