Pencarian populer

Menegur Anak Orang Lain di Tempat Main: Setuju atau Tidak?

Seorang anak dan ibunya bermain di Taman Honda. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Saat bermain di taman atau tempat main umum, bila anak bersikap ‘tidak tertib’ atau melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya maupun anak lain misalnya, apa yang Anda lakukan? Mungkin segera mengingatkan atau menegur anak Anda ya, Moms.

Tapi bagaimana bila yang perlu ditegur adalah anak orang lain? Apakah Anda tetap akan melakukannya?

Bayangkan saja situasinya seperti ini. Anda duduk di bangku di pinggir taman, memperhatikan anak-anak bermain perosotan. Lalu Anda melihat ada seorang anak yang terus mendaki tidak dari tangga tapi dari ujung perosotan! Anak ini juga meluncur berulang sehingga anak-anak lain tertahan di puncak perosotan dan tidak mendapat kesempatan bermain.

“Iya, dong!” Linda, ibu tiga anak di Tebet, Jakarta Selatan, dengan cepat menjawab saat kumparanMom (kumparan.com) menanyakan hal ini. Menurut Linda, ia akan langsung bangkit dari kursi dan menegur anak ini meskipun misalnya anaknya sendiri tidak sedang bermain perosotan yang sama.

“Saya bakal bilang kepada anak tersebut untuk naik dari tangga dan main bergiliran,” lanjut Linda. Ia juga bercerita kalau ia pernah menegur anak balita yang melempar-lempar batu di area bermain dan seorang anak umur 9 atau 10 tahun yang menurut Linda bermain kasar padahal di sekitarnya banyak anak-anak yang lebih kecil.

Linda tidak sendiri. Farah, ibu satu anak yang tinggal di Bekasi, juga merasa kalau orang tua harus saling mengawasi anak-anak di tempat main -bukan hanya anak-anak mereka sendiri saja.

“Di rumah Anda, urusan disiplin anak kan, 100 persen tanggung jawab kita. Nah, kalau di tempat umum, ya sama-sama lah! Soalnya anak-anak itu juga perlu belajar bagaimana berbagi, memperhatikan keselamatan orang lain dan mengikuti peraturan. Kalau orang tua atau orang dewasa di sekitar mereka nggak mengajarkan, ya terkadang kita deh, yang harus peduli dan ikut mengajarkannya,” Linda menjelaskan sikapnya.


“Kalau anak saya yang bersikap tidak tertib atau membahayakan anak lain, saya juga berharap ada orang tua atau orang dewasa lain yang turun tangan, sih,” tambah Linda. Ia tidak merasa teguran orang lain terhadap anaknya merupakan sikap tidak sopan atau bentuk penghinaan. “Kan, bisa saja saya lengah mengawasi anak. Bisa saja, terjadi saat saya tidak melihat. Jadi ya nggak apa-apa, daripada diam saja.”

Taman bermain di Kalijodo. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Sementara Julius, ayah dua orang anak di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, punya pendapat lain. “Nggak perlu, lah!” katanya. Menurut Julius, menegur atau ikut campur jutsru akan menghilangkan makna bermain di tempat umum. “Di sana kan, justru seru karena banyak tantangan dan konfliknya. Dari soal siapa duluan yang pakai ayunannya, siapa yang menyelak antrian perosotan. Terus ada yang lebih cepat, ada yang ketinggalan. Ada yang terdorong atau tersenggol anak lain, ada yang marah, ada yang nangis. Ya, biarkan saja begitu.”

Julius mencontohkan bagaimana putranya yang berumur lima tahun sedang senang-senangnya mencoba bergelantungan pada mainan palang yang biasa disebut monkey bar. Saat bergelantungan itu anaknya kadang menyenggol hingga menenadang anak lain karena belum bisa mengontrol tubuhnya dengan baik.

“Anak saya pernah menendang seorang anak yang lebih besar. Anak ini marah lalu menarik kaki anak saya cukup keras sampai ia terjatuh dari palang,” tutur Julius. Meski ia menyaksikan kejadiannya, Julius memilih tetap diam dan mengamati dari jauh saja. “Saya pikir anak-anak harus belajar untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Tapi setelah bermain, saya ingatkan dia untuk lebih berhati-hati dan harus tetap menghormati orang lain. Karena kalau anak saya nggak benar, ya saya yang bertanggungjawab menegurnya —bukan orang lain apalagi yang nggak dikenal.”

Julius juga menyatakan tidak pernah mau menegur anak yang bukan anaknya. Ia merasa kalau sampai ia melakukannya itu artinya dia mencampuri urusan orang lain. “Setiap orang tua kan punya cara sendiri dalam mengasuh anaknya. Setiap anak juga beda-beda modelnya. Anak saya misalnya, bisa jadi malu atau sensitif banget kalau kami tegur langsung di tempat. Dia lebih mempan kalau kami jelaskan baik-baik setelahnya. Nah, kalau saya menegur anak orang yang tidak saya kenal bisa salah cara juga, kan?”

Menurut Julius, kalau hanya minta anak lain untuk bergantian mungkin ia masih mau. Tapi tetap tidak sampai menegur apalagi memarahi. “Kalau masalah giliran misalnya, lebih baik saya ajak anak saya main yang lain saja. Atau kalau ada kondisi yang betul-betul di luar kendali, saya akan memilih memberi tahu orang tuanya dan biarkan mereka yang mengurus anaknya sendiri.”

Bagaimana dengan Anda, Moms? Setujukah Anda dengan Linda dan Farah? Atau lebih memilih bersikap seperti Julius? Sampaikan pendapat Anda pada kolom komen agar dapat menjadi pertimbangan bagi orangtua lainnya —termasuk bila Anda memiliki pendapat lain yang betul-betul berbeda.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: