kumparan
27 Agu 2018 11:50 WIB

Moms, Ini Tahapan Pendidikan Seks Sesuai Usia Anak

Tahapan Pendidikan Seks Sesuai Usia Anak (Foto: Shutterstock)
Pendidikan seks seharusnya didapatkan anak pertama kali dari keluarga. Sayangnya, membicarakan seks dengan anak masih dianggap tabu oleh sebagian orang tua. Padahal saat rasa penasaran anak tak terjawab di rumah, anak cenderung mencari informasi sendiri seperti mengakses pornografi di internet.
ADVERTISEMENT
Karena itu alih-alih dihindari, pendidikan seks untuk anak justru seharusnya dilakukan berulang-ulang dan berkelanjutan. Itulah yang dipaparkan Irma Gustiana M.Psi, psikolog tumbuh kembang anak pada diskusi Puberty Talk yang diadakan Ruang Tumbuh di Rimba Baca Library, Jakarta.
“Masalah seksualitas bukanlah single lecture. Jangan harap, sekali diberikan anak dapat langsung mengerti. Harus diberikan berulang-ulang mulai balita,” papar Irma. Ia juga menekankan bahwa pendidikan seks harus ditanamkan sejak dini melalui tahapan-tahapan berdasarkan usia anak. Jadi tak usah ragu mempraktikkannya hanya karena merasa anak terlalu kecil.
Nah, agar Anda tak bingung, berikut tahapan-tahapannya:
Ilustrasi Ibu dan Balita (Foto: Shutterstock)
Anak Usia 0-2 Tahun
Kebanyakan orang tua biasanya menyamarkan nama area privat anak dengan sebutan seperti burung, titit, atau si otong. Sebaiknya Anda langsung mengenalkan organ intim dengan nama sebenarnya, seperti penis atau vagina.
ADVERTISEMENT
Ini lah langkah awal untuk membuat diskusi tentang seks menjadi normal. Ibu bisa mengenalkan nama organ intim saat mengganti popok atau sehabis mandi.
“Misalnya saat mengganti popoknya, ibu bisa bilang ‘Wah, vaginanya basah ya, Nak’. Ucapkan saja dengan biasa seperti itu, enggak masalah,” tutur Irma.
Pada rentang usia ini, anak juga sedang berusaha mengenal tubuhnya sendiri. Orang tua bisa membantu dengan menginformasikan fungsi bagian tubuh secara sederhana. Ibu juga tidak perlu panik saat balita mulai menyentuh area privatnya sendiri. Sebab, pada usia ini anak tidak punya maksud lain untuk menyentuh tubuhnya selain rasa ingin tahu.
“Biarkan dia mengeksplorasi tubuhnya sendiri. Enggak usah panik. Itu normal. Kadang-kadang yang bikin anak makin penasaran itu justru reaksi orang tuanya yang agak berlebihan,” imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Ibu juga bisa mulai mengenalkan adanya perbedaan jenis kelamin. Misalnya dengan menyebut-nyebut bahwa dia adalah anak laki-laki sedangkan kakaknya adalah anak perempuan.
Yang tak kalah penting, tanamkan batasan untuk membuka sejak dini. Anda juga harus memberi contoh pada si kecil untuk membuatnya paham ada area privat di tubuh yang tak boleh sembarang ditunjukkan ke orang lain.
“Sejak kecil anak harus diberitahu kalau ia boleh telanjang di kamar mandi, sedangkan saat di luar rumah tidak boleh. Agar anak mulai mengenal rasa malu. Ibu juga tidak boleh ganti baju di depan anak untuk mengenalkan batasan itu,” papar Irma.
Ilustrasi Ibu dan Anak Usia Prasekolah (Foto: Shutterstock)
Anak Usia 3-5 Tahun
Pada usia 3-5 tahun, Anda perlu mengulang konsep perbedaan laki-laki dan perempuan. Ini juga sudah termasuk pendidikan seks lho, Moms. Ibu bisa menanyai si kecil sejauh apa yang sudah ia ketahui lalu melengkapinya. Biasanya pada usia ini, anak sudah paham bahwa yang hamil adalah perempuan.
ADVERTISEMENT
Ibu sudah bisa mulai membicarakan bahwa area privat milik anak adalah miliknya sendiri dan harus dijaga. Tanamkan bahwa Ia boleh menyentuh organ intimnya sendiri asal di waktu dan tempat tertentu, seperti setelah buang air di toilet.
Menanamkan rasa malu juga perlu diulang pada usia ini. Seperti saat keluar kamar mandi, setidaknya si kecil sudah memakai celana atau berbalut handuk. Ibu bisa bilang,”Kok, enggak pakai baju sih, keluar kamar mandi. Kan, malu. Sini ditutup pakai handuk dulu,”.
Pada anak usia 3-5 tahun, orang tua bisa mulai membicarakan soal reproduksi sebagai cara manusia, hewan, dan tumbuhan berkembangbiak. Sebab, anak sudah mulai penasaran dari mana datangnya adik atau bayi yang baru lahir. Anda tidak perlu menghindar saat mendapatkan pertanyaan ini .
ADVERTISEMENT
Anak juga mulai membandingkan tubuhnya sendiri dengan orang lain. Maka tak heran jika ia mulai bertanya, “Dada Ibu kok, gede tapi dadaku enggak?” atau “Kenapa ketiak Ayah ada rambutnya?”
Ilustrasi Pendidikan Seks Sesuai Usia Anak (Foto: Shutterstock)
Anak Usia 6-8 Tahun
Pada usia ini, pentingnya menjaga area privat harus kembali diulang. Tegaskan padanya bahwa organ intimnya adalah hanya miliknya seorang dan hanya dia yang boleh menyentuh. Bahkan kerabat dan tetangga sendiri tak boleh menyentuh. Hal ini perlu dikatakan ke anak dan jadi fokus pendidikan seks di usia ini sebab sebagian besar predator seksual anak adalah orang-orang terdekat.
Orang tua sudah bisa membicara soal kehamilan pada anak usia 6-8 tahun. Misalnya dengan mendiskusikan ibu hamil yang biasa ia temui di sekolah. Coba gali seberapa dalam ia memahami konsep hamil. Anda bisa melengkapinya dengan kalimat yang sederhana.
ADVERTISEMENT
Anak juga perlu tahu perubahan bentuk tubuhnya begitu ia menginjak masa pubertas nanti. Anak perempuan yang umumnya lebih dulu puber, tak sedikit yang mulai menstruasi pada usia 8 tahun. Agar anak tak kaget tentang perubahan tubuhnya, Anda perlu menginformasikan lebih dulu.
Pada usia ini anak sudah siap untuk memahami konsep saling menghargai perbedaan dan norma sosial. Jika ada teman yang tubuhnya lebih gendut, lebih besar, lebih kecil di sekolah, ajarkan pada anak ia tak boleh mengolok.
Ilustrasi Ibu dan Anak Usia Praremaja (Foto: Shutterstock)
Anak Usia 9-12 Tahun
Ini adalah usia praremaja. Orang tua harus lebih jelas dalam menjelaskan perubahan bentuk tubuh anak saat pubertas. Misalnya perkembangan payudara, penis, tumbuhnya bulu di ketiak dan kelamin, perubahan suara. Anak perlu tahu tentang perubahan tubuh yang akan ia alami.
ADVERTISEMENT
Yang paling penting, Anda perlu memberitahu bahwa menstruasi atau mimpi basah pertamanya merupakan tanda ia siap memiliki bayi. “Maka dia harus menjaga dirinya ketika bermain. Jelasnya bahwa anak tidak boleh ke kamar mandi berdua saja dengan teman lawan jenis,” tutur Irma.
Pada usia ini anak juga perlu memahami tentang konsep menghargai diri sendiri. Sebab, anak sudah memiliki dunianya sendiri selain keluarga. Kadang, persetujuan dari teman-temannya dianggap lebih penting daripada persetujuan orang tua. Seperti saat menggunakan media sosial, anak akan sangat peduli betapa unggahannya akan disukai temannya atau tidak.
Tidak sesulit yang Anda duga kan, Moms, memberi pendidikan seks pada anak? Yang penting, sesuaikan dengan usia anak dan ikuti tahapannya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·