Pencarian populer

Pantaskah Seorang Anak Melihat Pertengkaran Orang Tua?

Ilustrasi pertengkaran pasangan. (Foto: Shutterstock)

Setiap anak tak selalu mendapati kedua orang tuanya menjalani hubungan yang bahagia. Konflik menjadi bumbu yang sering muncul dalam kehidupan rumah tangga.

Konflik tidak selalu buruk. Untuk menemukan kebenaran yang hakiki, konflik menjadi salah satu jalan yang ditempuh. Namun, konflik terkadang berujung ke arah yang destruktif ketika pasangan suami istri terlibat dalam pertengkaran hingga kekerasan.

Pertengkaran di dalam rumah semakin problematis dengan kehadiran anak. Anak kerap menjadi saksi langsung pertengkaran ayah dan ibunya. Diperlukan cara penyelesaian masalah secara dewasa, agar konflik yang terlihat tidak berdampak pada psikis anaknya.

Psikolog anak dan keluarga Roslina Verauli, M. Psi., Psi, berkata bahwa konflik orang tua tidak selamanya dipandang negatif. "Pertengkaran dalam rumah tangga itu bagus dan bisa bersifat positif asalkan orang tua tidak hanya sekadar bertengkar, namun mereka mampu menyelesaikannya dengan menemukan solusi atas permasalahannya," ungkapnya saat ditemui secara langsung oleh kumparan (kumparan.com) di Plataran Dharmawangsa, beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya, anak perlu paham saat orang tua sedang bertengkar.Penting bagi anak untuk belajar mengenai bagaimana orang tua mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah rumah tangganya. Selain itu, anak juga perlu diberikan pengertiaan saat orang tua sedang bertengkar di hadapannya.

"Saat saya sedang berargumen dengan suami, seringkali saya katakan kepada anak saya; 'Nak, maaf ya, mama dan papa sedang beradu argumen'. Karena, hal itu tidak masalah apabila dilihat oleh anak. Sebenarnya, ciri rumah tangga yang sehat dan bahagia adalah adanya konflik di dalamnya yang mampu terselesaikan dengan baik," tambahnya.

Ilustrasi anak yang melihat pertengkaran orang tua (Foto: Thinkstock)

Vera selanjutnya menjelaskan bahwa hal yang tidak boleh dilihat oleh anak adalah pertengkaran tanpa akhir yang tidak menemukan solusi untuk pemecahan masalahnya. Pertengkaran yang terjadi pun haruslah berjalan dengan 'sehat', tanpa adanya kekerasan antar satu sama lain.

"Pertengkaran yang saya maksud di sini, bukan pertengkaran yang agresif dan mengakibatkan terjadinya baku hantam. Suami maupun istri yang berargumen dalam suatu konflik sebenarnya memiliki nilai yang positif. Namun, akan menjadi negatif jika konflik menjadi tidak berujung baik," jelasnya.

Saat konflik terjadi secara terus menerus tanpa menemukan titik terang, maka sang anak justru akan menyalahkan dirinya sendiri atas situasi yang terjadi pada kedua orang tuanya. Untuk itu, hendaknya baik pihak suami maupun istri, keduanya harus memiliki kepribadian yang dewasa.

"Apabila kita meyakini bahwa kita adalah orang yang dewasa. Kemudian kita memiliki masalah, kita akan berdiskusi hingga permasalahan selesai. Lalu, saling berdamai satu sama lain. Apabila dilihat oleh anak, maka anak justru akan belajar banyak hal dari kejadian tersebut. Mereka akan belajar mengenai kedewasaan dan hak menghargai perbedaan pendapat," tutupnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60