Pencarian populer

Pro-Kontra Pistol-pistolan: Bolehkah Dimainkan Anak?

Ilustrasi anak menembak. (Foto: Shutterstock)

Di dunia pengasuhan, selalu saja ada pro dan kontra. Wajar, karena setiap orang tua bisa saja punya keputusan atau pilihan yang berbeda-beda untuk anaknya.

Soal memberi mainan untuk anak misalnya. Ada orang tua yang menganggap pistol-pistolan (atau mainan berbentuk senjata lainnya) berbahaya dan anak seharusnya tidak diberikan mainan pistol-pistolan. Namun orang tua lain mungkin berpikir mainan jenis ini boleh-boleh saja diberikan pada anak, dan tidak akan membawa dampak negatif apa-apa.

Tapi sebenarnya apa sih, yang menjadi kekhawatiran mereka yang melarang anaknya main pistol-pistolan? Apa pula yang menjadi alasan mereka yang memilih tetap memberikannya?

Anak mengenal alam (Foto: Pixabay)

Simak cerita dua ibu yang sama-sama memiliki balita laki-laki tentang pertimbangan mereka di balik pro dan kontra terkait mainan pistol-pistolan ini:

"Ya, saya membiarkan anak main pistol-pistolan."

Menurut Andrini -ibu dua anak laki-laki usia 3 dan 5 tahun- tidak mungkin orang tua melarang anak-anak bermain pistol-pistolan. "Mungkin kalau di dunia yang sempurna atau di dalam khayalan saya masih bisa. Tapi ini kan, dunia nyata yang jauh dari sempurna? Di dunia khayalan, anak-anak saya mungkin bisa duduk manis terus pura-pura jadi Sekjen PBB. Tapi di dunia nyata, mereka main tembak-tembakan sama teman atau sepupunya," ujar wanita yang sehari-hari bekerja di satu bank swasta di Bekasi ini.

Kalaupun ia tidak membelikan mainan pistol-pistolan, kata Andrini anak-anaknya pasti akan tetap main tembak-tembakan atau perang-perangan dengan berbagai cara. "Waktu diajak ke supermarket, anak sulung saya tiba-tiba mengambil pisang terus bilang 'dor-dor-dor' ke adiknya. Si adik langsung balas mengambil jeruk dan bilang 'aku juga punya glanat' yang maksudnya granat!" lanjutnya sambil tertawa.

Andrini mengaku, ia sendiri tidak mengerti bagaimana kedua anak laki-lakinya mendapatkan ide bermain seperti ini. Namun Andrini menangkap hal-hal seperti ini sebagai suatu kewajaran, sama seperti halnya anak perempuan suka main boneka atau masak-masakan.

Apakah Andrini tidak khawatir kalau dengan bermain pistol-pistolan anak-anaknya akan terbiasa dengan kekerasan? "Nggak, lah." jawabnya cepat, "Saya tidak mau bersikap naif dan hanya mengajarkan hal yang indah-indah saja pada mereka. Di dunia ini memang terjadi kekerasan setiap hari, kan?"

Andrini menambahkan, "Yang penting justru bagaimana mengajarkan anak-anak agar bisa mengontrol diri, mengelola emosi dan paham di sisi mana mereka harus berdiri. Kalau kelak dewasa mereka menggunakan senjata untuk membela bangsanya, kenapa tidak?"

Ilustrasi perilaku agresifitas pada anak (Foto: Thinkstock)

"Tidak, saya tidak akan memberi anak pistol-pistolan."

Lain lagi dengan pendapat Intan, ibu dua anak laki-laki usia 2 dan 4 tahun dan 1 anak perempuan usia 5 tahun dari Jakarta Timur. Ia tidak memberikan mainan pistol-pistolan maupun mainan bentuk senjata lainnya kepada anaknya. "Termasuk pistol air, atau mainan minifigures yang memegang senjata. Pokoknya nggak ada mainan bentuk senjata, nggak ada main perang-perangan," ujarnya tegas.

Apa alasan Intan?

"Meski anak laki-laki dan perempuan memang berbeda, kami ingin mengenalkan ragam permainan yang tidak terpaku pada stereotip masyarakat. Anak perempuan kami tidak pernah tertarik bermain masak-masakan, rumah-rumahan, atau main Barbie dan dia baik-baik saja. Tetap punya banyak mainan, suka bermain, tetap sehat dan gembira. Jadi kenapa adik-adiknya harus main pistol-pistolan atau main perang-perangan cuma karena mereka laki-laki?"

"Kekerasan meski dalam permainan menurut kami tidak perlu dibiasakan apalagi diajarkan," tambah wanita wirausaha ini.

Intan bercerita, pernah ada kerabat yang bilang -kalau tidak diberi mainan pistol-pistolan dan sejenisnya- anak laki-laki akan jadi manja atau lembek. "Saya sih, ketawa aja!" selorohnya. "Saya yakin anak-anak saya tidak begitu. Lagipula malah nggak lucu kalau setiap hari saya mengingatkan mereka untuk bersikap baik dan tidak berbuat kasar tapi malah memberikan pistol-pistolan? Bisa bingung mereka!"

Intan juga punya cara sendiri untuk melatih anak-anaknya menjadi berani dan kuat. "Mereka bisa berlatih main bola, berlari, atau memanjat. Kalau mereka ingin menghancurkan sesuatu, mereka bisa bermain balok, membangunnya sampai tinggi lalu menghancurkannya."

Intinya, Intan akan melarang anak-anaknya bermain atau pura-pura menghancurkan dan menyakiti mahluk hidup entah itu saudara, temannya ataupun binatang, "Kami percaya, mampu menghancurkan atau menyakiti bukan tanda anak laki-laki kuat dan berani."

Bagaimana menurut Anda, Moms? Setuju dengan pendapat Intan atau Andrini?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: