kumparan
28 Des 2017 14:03 WIB

Saat Anak Meniru Aksi Negatif YouTuber dan Selebgram

Anak dan gadget (Foto: Thinstock)
Media sosial kini tak asing lagi di kalangan anak dan remaja. Faktor usia, kemampuan pola pikir (kognitif) dan kebutuhan emosional yang lebih besar, menjadikan pengaruh media sosial justru lebih berisiko terhadap anak dan remaja daripada dengan orang dewasa.
ADVERTISEMENT
Risiko tersebut terjadi seiring dengan waktu yang digunakan para remaja untuk bereksperimen dengan media sosialnya masing-masing. "Beberapa risiko dalam media sosial bagi anak remaja adalah perilaku bully, geng (berkelompok), perilaku seksual, sexting (mengirim pesan dengan konten seksual), kecanduan internet, berkurangnya waktu tidur dan istirahat," jelas Elizabeth T. Santosa pada bukunya yang berjudul "Raising Kids in Digital Era".
Ia juga memaparkan sejumlah risiko tersebut secara lebih mendalam, terutama agar orang tua dapat memahami dan tanggap terhadap segala bentuk tindakan yang dilakukan anak. Berikut adalah pemaparannya:
1. Pelecehan Secara Online atau Cyber Bully
Anak bisa menjadi pelaku atau korban cyber bully (Foto: Thinstock)
Menggunakan media digital untuk mengkomunikasikan informasi yang salah, mempermalukan, dan mengintimidasi orang lain (umumnya antar teman sebaya) disebut cyber bully. Ini merupakan salah satu risiko terbesar yang bisa terjadi pada remaja yang aktif menggunakan media sosial.
ADVERTISEMENT
Lebih dari itu, cyber bully juga dapat mengakibatkann terjadinya gangguan psikis pada salah satu korbannya, yaitu anak remaja. Beberapa gangguan yang bisa terjadi di antaranya adalah depresi, gangguan kecemasan yang berlebihan, mengisolasi diri dari lingkungan (anti-sosial), dan yang paling tragis adalah bunuh diri.
2. Sexting (mengirim, menerima atau meneruskan pesan dan foto yang berkonten seksual)
Tindakan ini biasa dilakukan melalui telepon genggam (smartphone), komputer dan alat digital lainnya yang telah terkoneksi internet. Pada bukunya, Elizabeth menjelaskan bahwa fenomena sexting muncul di kalangan remaja, saat suatu survei menyatakan bahwa 20 persen populasi remaja (berdasarkan pengakuan dari remaja dan orang tua di beberapa sekolah terkemuka di Jakarta) pernah mengirimkan atau mem-posting foto atau video.
ADVERTISEMENT
Mulai dari yang menampilkan foto atau video semi telanjang atau telanjang diri sepenuhnya. Hal yang lebih mengejutkan, fenomena ini bukan hanya terjadi di sekolah publik menengah atas, namun juga yang memiliki latar belakang sekolah agamis.
3. Depresi Media Sosial
Anak bisa mengalami depresi karena media sosial (Foto: Thinstock)
Ini merupakan karakteristik depresi yang dapat muncul saat remaja menghabiskan waktu berlebih pada sejumlah situs media sosial seperti facebook, path, twitter dan YouTube. Intensitas yang terlalu tinggi dalam dunia maya seperti itulah yang akan memicu depresi bagi sebagian besar remaja pada umumnya.
Pada masa remaja, sebuah penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya merupakan elemen penting agar mereka merasa bahagia. Namun, jika seorang remaja sedang dalam kondisi psikis yang tidak stabil, atau bahkan depresi, maka tak jarang mereka mencari bantuan melalui internet.
ADVERTISEMENT
Hal ini akan berisiko mempertemukan remaja dengan para predator negatif yang mempromosikan penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti narkoba, pergaulan bebas, dan agresifitas atau perilaku yang dapat merusak dirinya sendiri.
4. Terpengaruh Konten Media Sosial
Selain ketiga hal di atas, perilaku yang terjadi pada anak akibat menggunakan media sosial secara berlebihan adalah mulai terpengaruh dan meniru apa yang telah dilihatnya. Konten media sosial sedikit banyaknya akan memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka dalam kesehariannya.
Misalnya saja seperti fenomena yang baru saja terjadi belakangan. Salah seorang youtuber yang biasa dipanggil Ria Ricis, mem-posting salah satu video pada (25/12) yang memperlihatkan kegiatannya yang membuang squishy (salah satu permainan anak masa kini) ke dalam lubang kloset.
ADVERTISEMENT
Rupanya, video tersebut telah ditonton oleh lebih dari 300.000 orang, dan anak maupun remaja termasuk di dalamnya. Video tersebut seketika menuai reaksi dan kecaman dari sejumlah orang tua yang mengatakan bahwa anak mereka telah meniru perilaku tersebut.
Hal itu menjelaskan secara langsung bahwa penggunaan YouTube secara berlebihan dengan mudahnya memengaruhi perilaku anak, tanpa membuat anak sadar dan memahami apa yang sedang dilakukannya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan