kumparan
19 Sep 2018 12:09 WIB

Susu Formula untuk Bayi, Bolehkah Diminum Balita?

Ilustrasi Anak Minum Susu Formula sambil Tiduran (Foto: Shutterstock)
Ada beberapa kondisi yang membuat anak terpaksa mengonsumsi susu formula. Misalnya ketika bayi menderita galaktosemia, yakni penyakit yang disebabkan tidak adanya enzim galactose -l-phosphate uridyltransferase, yakni enzim yang diperlukan untuk mencerna galaktosa, hasil penguraian laktosa.
ADVERTISEMENT
Namun, pada bayi yang tidak memiliki masalah kesehatan khusus, maka sudah sepatutnya dan atas anjuran WHO pula, maka bayi tetap mengonsumsi ASI selama 6 bulan pertama, dan dapat dilanjutkan hingga dua tahun berikutnya, bersamaan dengan pemberian makanan bayi (MPASI). Ini artinya pemberian susu formula sebaiknya atas indikasi medis dan saran dokter.
Namun, ada dari beberapa orang tua yang menambahkan pemberian susu formula pada balita, tujuannya agar ia bisa mendapat nutrisi secara maksimal. Mengingat harga susu formula yang relatif mahal, saat susu si kakak lebih cepat habis daripada susu adik, mungkin pula Anda kerap memberikan susu formula milik adik kepada si kakak. Padahal, anjuran usia pada masing-masing susu sudah tertera jelas pada kaleng susu. Lalu, apa kata dokter mengenai hal ini?
ADVERTISEMENT
Susu formula untuk bayi, ya harus diminumnya oleh bayi. Tidak boleh diminum sama kakaknya. Mengapa? Karena susu anak yang misalnya untuk umur satu sampai tiga tahun, maka susunya itu akan lebih kental ketimbang susu untuk anak enam tahun. Jadi kalau kita sesuaikan 0-6 maka itu kekentalannya lebih besar karena kebutuhan energinya lebih besar. Nah, kalau 6-12 bulan kan lebih encer karena bisa dicampur dengan MPASI. Nutrisinya jadi lebih besar. Jadi lebih baik sesuaikan dengan umurnya, ” tambah Dr. Galih Linggar Astu SpA dari Brawijaya Hospital, Depok, saat diwawancarai kumparanMOM.
Lantas apa jadinya jika anak yang lebih besar, mengonsumsi susu formula untuk bayi?
Ilustrasi susu formula. (Foto: Thinkstock)
“Kalau akibatnya si kakak minum susu adiknya, ya itu bisa menjadi beban ke ginjal dan saluran pencernaan. Kita, kalau minum sesuatu yang terlalu thick (kental), tubuh kita bisa terkena diare osmotik. Misalnya kita minum teh yang terlalu banyak gula, karena lambung tidak terbiasa dengan hal itu, maka tubuh akan berusaha untuk mengencerkannya kembali. Dengan cara apa? Dengan cara, mengeluarkan air dari sel-selnya, supaya komposisinya bisa disesuaikan dengan makanan harian. Cairannya yang keluar itu berbentuk diare, ” tambah dr. Galih.
ADVERTISEMENT
Selain itu, perlu diperhatikan pula soal takarannya, Moms. “Bayi berusia enam bulan ke atas, bisa diberi sekitar 500 cc dan untuk anak berumur satu tahun ke atas itu sekitar 300 cc. Nah, kebutuhan cairan lainnya bisa diambil dari makanan lain misalnya jus buah. Lalu kalau sudah MPASI, bisa dari kaldu dan lain-lainnya. Air putih juga sudah boleh kalau sudah enam bulan ke atas,” tutup dr. Galih.
Takaran seperti ini tentunya harus dipatuhi oleh setiap ibu yang memberikan bayinya susu formula. Pasalnya, jika takaran ini tidak dipatuhi, maka akan kemungkinan, anak jadi bisa kekurangan nutrisi maupun menyebabkan masalah kesehatan lainnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan