Pencarian populer

3 Isu yang Dikhawatirkan Jokowi: PKI, Asing, dan Kriminalisasi Ulama

Presiden Joko Widodo di acara pelantikan pelantikan 7000 Jokowi di Pergudangan Olympic Bogorindo. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Ada 3 isu besar yang selalu disampaikan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo di banyak kesempatan, baik forum resmi kepresidenan maupun pertemuan relawan untuk kampanye di Pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
Isu ini menurut Jokowi membuatnya gagal di beberapa daerah saat Pilpres 2014, salah satunya di Kabupaten Bogor. Isu pertama adalah tudingan bahwa dirinya merupakan antek PKI. Bolak-balik Jokowi membantah antek PKI.
"Kenapa sih di 2014 saya kalah? Karena isu-isu. Pertama isu yang pertama ini sampai sekarang masih ini perlu dijelaskan ke masyarakat mengenai isu PKI, banyak sekali (yang bilang) Presiden Jokowi itu PKI. Saya sampaikan PKI itu dibubarkan 65 66, saya lahir tahun 61 umur saya baru 4 tahun," kata Jokowi di hadapan relawannya di Sentul, Bogor, Selasa (27/11).
"Isu itu isu ngawur. Umur saya baru empat tahun. Apa ada PKI balita?" Tambahnya disusul tawa para relawan.
Jokowi memperlihatkan sebuah gambar pimpinan PKI DN Aidit sedang berpidato pada tahun 1955. Dalam gambar tersebut, ada sosok Jokowi yang mendampingi di samping mimbar.
ADVERTISEMENT
"Ini memang fitnah yang sangat brutal, fitnah sangat ngawur ini banyak yang percaya tapi. Banyak yang percaya ada sembilan juta yang percaya, di survei kita. Ini harus diluruskan. Loh logikanya aja enggak masuk, lahir saja belum," ujar Jokowi.
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Adian Napitupulu (kiri) di acara pelantikan pelantikan 7000 Jokowi di Pergudangan Olympic Bogorindo. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Isu kedua, yang menerpa Jokowi adalah tudingan bahwa dirinya antek asing. Jokowi membantah hal tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya berhasil menasionalisasi sejumlah perusahaan tambang yang sebelumnya dikelola asing.
"Presiden Jokowi antek asing. Ini harus bisa terangkan ke mereka, (asing) yang seperti apa? Yang namanya Blok Mahakam, bloknya besar itu sudah puluhan tahun dipegang Jepang dan Prancis. Tahun 2015 kita ambil 100 persen saya serahkan ke Pertamina. Antek asing dari mana?" kata Jokowi dengan nada tinggi.
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu, Blok Rokan yang dikelola Chevron Amerika sudah sekian tahun, berhasil dipegang negara. Begitu juga yang paling menyita perhatian adalah Freeport yang dikelola Amerika 40 tahun.
"Dulu kita hanya dapat 9 persen diam saja, pada demo. Kita sudah dapatkan mayoritas 51 persen itu enggak ada demo. Harusnya ada demo saya. Demo dukung. Saya tunggu-tunggu emggak ada demo," tambahnya.
Pendukung Jokowi menggunakan topeng Jokowi di acara pelantikan Jokowi Lantik 7000 Jokowi di Pergudangan Olympic Bogorindo. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Isu terakhir, lanjut Jokowi, adalah kriminalisasi ulama. Jokowi mengatakan, hal tersebut tidak terbukti. Hal ini bisa dilihat dari sosok Ma'ruf Amin yang ia pilih sebagai calon wakil Presiden.
"Yang ketiga yang mengenai kriminalisasi ulama. Saya dituduh, logikanya enggak masuk coba. Calon wakil presiden kita itu KH Ma'ruf Amin, sepuhnya ulama. Sudah level tertinggi karena sudah ketua MUI. Tiap minggu saya sudah keluar masuk pondok pesantren," ujar Jokowi.
ADVERTISEMENT

Jangan seperti itu dong buat fitnah. Perlu dijelaskan. Saya muslim. Bapak ibu saya muslim, kakek saya muslim. Jangan kriminalisasi ulama, yang mana?

- Jokowi

"Kita sedih lihat cara berpolitik yang tidak santun tidak beretika dan tidak bertata kerama," imbuh Jokowi.
Dengan demikian, ia pun meminta kepada para relawan untuk menyampaikan kebenaran kepada masyarakat agar isu-isu hoaks yang menimpanya dapat hilang dari masyarakat.
"Saya sudah sabar 4 tahun sabar. Masa disuruh sabar terus. Itulah yang perlu dijelaskan kepada masyarakat agar isu-isu hoaks fitnah sepeti itu hilang dalam persepsi dari masyarakat," pungkasnya.
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Adian Napitupulu (kiri) di acara pelantikan pelantikan 7000 Jokowi di Pergudangan Olympic Bogorindo. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86