kumparan
29 Nov 2018 8:16 WIB

5 Temuan KNKT soal Pesawat Lion Air PK-LQP yang Jatuh di Karawang

Armada Lion Air. (Foto: Aviatren.com)
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah merilis laporan awal jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610. Dalam laporan tersebut, KNKT mencatat ada sejumlah fakta yang diduga menjadi penyebab insiden tersebut.
ADVERTISEMENT
Pesawat Lion Air nahas itu jatuh setelah 13 menit terbang di perairan Ujung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018. Pesawat berangkat dari Bandara Soetta menuju ke Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang.
Pesawat membawa total 189 penumpang dan kru pesawat. Tim SAR gabungan akhirnya melakukan evakuasi dan berhasil mengangkat 195 kantong jenazah termasuk Flight Data Recorder (FDR) yang merekam perjalanan pesawat.
Berikut sejumlah fakta terkait jatuhnya pesawat PK-LQP tersebut:
1. Alami 6 Kali Kerusakan Komponen Sebelum Jatuh
Ilustrasi Lion Air (Foto: Basith Sebastian)
Dalam laporannya, tercatat pesawat nahas itu sempat mengalami kerusakan komponen hanya dalam kurun waktu 4 hari sebelum jatuh. Kepala Sub Komite Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo menyebut, salah satu komponen yang rusak adalah indikator ketinggian dan kecepatan pesawat.
ADVERTISEMENT
"Indicated Airspeed (IAS) dan altituted (ALT) flight disagree 3 kali, lalu speed trim dan mach trim failed 2 kali. Lalu IAS dan ALT disagree 1 kali pada penerbangan Bali-Jakarta," jelas Cahyo.
Namun, kerusakan tersebut memang sudah diperbaiki dalam penerbangan Bali-Jakarta yang menjadi penerbangan terakhir sebelum jatuh. Saat itu, pihak Lion Air telah menyatakan pesawat tersebut lolos tes dan dinyatakan layak terbang.
"Teknisi melakukan pembersihan air data module (ADM) pilot dan static port kiri untuk memperbaiki IAS dan ALT disagree disertai dengan tes operasional di darat dengan hasil tidak masalah. Kemudian teknisi melakukan pembersihan sambungan listrik pada elevator feel computer disertai dengan tes operasional dengan hasil baik," ucap dia.
2. Masalah di Dua Penerbangan Terakhir Hampir Sama
Lion Air (for Headline) (Foto: Istimewa)
Data penerbangan yang tercatat di kotak hitam pesawat menunjukkan bahwa hidung pesawat cenderung selalu turun selama penerbangan. Masalah tersebut, menurut KNKT, terjadi selama dua penerbangan terakhir PK-LQP.
ADVERTISEMENT
"Problem yang terjadi dari dua penerbangan terakhir apa yang dilihat oleh kami di FDR itu sama, mirip, similiar. Namun di penerbangan lain sebelumnya masalahnya beda. Yang sama hanya penerbangan dua terakhir," kata Cahyo.
Namun, masalah tersebut juga telah diperbaiki oleh teknisi di Jakarta. Selain itu, masalah yang dilaporkan oleh pilot adalah indikator kecepatan serta ketinggian yang berbeda-beda, dan menyalanya lampu Feel Dirt Press pada Aircraft Flight And Maintenance Logbook.
3. Pilot Berjuang Naikkan Pesawat Sebelum Jatuh
Lion Air (for Headline) (Foto: Istimewa)
Berdasarkan data yang sama, pilot PK-LQP juga harus berusaha keras menaikkan hidung pesawat yang selalu turun tersebut. KNKT menyebut, saat itu, pilot mengalami masalah kendali dalam penerbangan.
Ketika pilot menaikkan flap pesawat, secara otomatis sistem menurunkan hidung pesawat atau nose down. Data kotak hitam menunjukkan, pilot langsung menaikkan hidung pesawat atau nose up.
ADVERTISEMENT
Namun yang terjadi kemudian, hidung pesawat kembali turun lagi, lalu dinaikkan lagi oleh pilot. Kondisi ini terjadi berkali-kali hingga pesawat jatuh di laut 13 menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.
"Pergerakan nose up dan down berlangsung lagi hingga akhir rekaman penerbangan," kata Cahyo.
Dengan kondisi itu, pilot telah melaporkan ke menara pengawas bahwa ketinggian pesawat tidak bisa dipertahankan. Pilot lantas meminta menara pengawas untuk mengamankan wilayah udara di bawah dan atas pesawat.
"Pilot minta controller menutup ketinggian 3.000 di atas dan di bawah. Hal ini untuk menghindari adanya tabrakan di udara," kata Cahyo.
4. Pesawat PK-LQP Diterbangkan Manual dari Bali ke Jakarta
Ilustrasi Lion Air (Foto: AFP/ADEK BERRY)
Sebelum jatuh di Karawang, pesawat PK-LQP sempat mengalami masalah pada indikator kecepatan dan ketinggian di penerbangan terakhirnya dengan rute Bali-Jakarta. Akibatnya, pilot kemudian memutuskan untuk menonaktifkan sistem otomatis pada pesawat.
ADVERTISEMENT
"Tiga kali kapten melihat pesawat turun, kopilot mengeluh kendali sangat berat. Kapten lalu mematikan stabilizer trim ke cut out, artinya mematikan motor penggerak trim, tidak bisa lagi digerakkan secara elektrik dan digerakkan dengan tangan. Pesawat dikendalikan tidak dengan autopilot," kata Cahyo.
Melihat kondisi seperti itu, kapten pilot pesawat akhirnya menyampaikan kode 'pan pan' karena mengalami kegagalan instrumen. Hal ini langsung dilaporkan ke menara pengawas. Petugas pengatur lalu lintas pesawat lalu meminta melanjutkan penerbangan searah dengan landasan pacu.
"Pilot melaksanakan 3 non-normal checklist dan tidak ada satu pun dari ketiga prosedur itu memuat instruksi untuk melakukan pendaratan di bandara udara terdekat," lanjut dia.
Pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Soetta pada pukul 22.56 WIB atau setelah terbang selama 1 jam 36 menit. Pesawat lalu diperbaiki sesuai dengan laporan pilot hingga kemudian dinyatakan layak terbang dan digunakan untuk terbang ke Pangkalpinang.
ADVERTISEMENT
5. Boeing Baru Keluarkan Panduan Bagi Pilot Setelah Insiden
Perusahaan Boeing (Foto: REUTERS/Jim Young)
Seluruh laporan awal yang dirilis KNKT tersebut menunjukkan adalah beberapa kerusakan pada pesawat Boeing 737 Max 8 tersebut. Padahal, pesawat ini baru dibeli pada Agustus 2018 lalu atau dua bulan sebelum insiden terjadi.
"Dalam peristiwa ini ada multiple malfunction," kata Cahyo.
Namun, pihak Boeing baru mengeluarkan sebuah buletin yang ditujukan kepada pilot Boeing 737 Max 8. Dalam buletin tersebut, terdapat sebuah panduan bagi para pilot untuk mengatasi jika terjadi masalah serupa.
Sumber penyidik sebelumnya kepada Wall Street Journal (WSJ) bulan lalu mengatakan, jika Boeing memberitahukannya lebih dulu bisa jadi insiden Lion Air ini bisa dihindari. Pasalnya sistem ini tidak ada di 737 versi sebelumnya sehingga tidak familiar di kalangan penerbang.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan