kumparan
10 Nov 2018 14:33 WIB

5 Fakta Unik Perang Surabaya 10 November

Peringatan Hari Pahlawan. (Foto: Dok. gahetna.nl)
Jumat, 9 November 1945, suasana Kota Surabaya mencekam. Aroma petaka tercium kala Sekutu mengirimkan ultimatum melalui selebaran-selebaran yang dijatuhkan dari pesawat ke penjuru kota. Ultimatum tersebut berisi permintaan bagi seluruh pejuang kemerdekaan untuk melakukan gencatan senjata.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, pada tanggal 30 Oktober 1945 seorang jenderal dari pihak Sekutu, Mallaby, terjebak baku tembak di depan gedung Internatio dan tewas tertembak. Mengetahui hal itu, Sekutu naik pitam dan menuding prajurit Indonesia telah menembak Mallaby.
Kemarahan Sekutu atas kematian Mallaby membawa pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945. Sebanyak lebih dari 130 ribu pemuda Indonesia yang terdiri atas 20 ribu anggota Partai Rakyat Indonesia (PRI), 10 ribu Tentara Keamanan Rakyat (TKR), serta hampir 100 ribu masyarakat, bersatu melawan 6 ribu pasukan Inggris bersenjata lengkap.
Dilansir dari buku History of Modern Indonesia Since c.1300 milik Merle C Calvin, sebanyak 6 ribu-16 ribu pejuang Indonesia gugur dalam pertempuran dan 200 ribu rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Karenanya, untuk memperingati mereka yang gugur di medan perang demi mempertahankan Indonesia, tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.
ADVERTISEMENT
Namun, belum banyak yang mengetahui di balik perang sengit tersebut ada lima fakta unik yang terjadi.
1. Lokasi pertama terjadinya kontak senjata
House of Sampoerna, Surabaya (Foto: Flickr / Rini Septriani zakaria)
Sebagian orang hanya mengetahui pertempuran 10 November terjadi di Surabaya, namun tahukah Anda di mana lokasi terjadinya kontak senjata pertama kali?
Dalam buku berjudul Pertempuran Surabaya milik Nugroho Notosusanto, kontak senjata pertama antara Sekutu dengan pemuda Indonesia terjadi di Theater atau Bioskop Sampoerna dan Pabrik Rokok Liem Seeng Tee. Kini lokasi tersebut dikenal dengan sebutan House of Sampoerna (HOS) dan berubah menjadi tempat wisata sejarah juga budaya di Surabaya.
Bangunan yang dulu digunakan sebagai Sampoerna Theater telah beralih fungsi menjadi museum sejarah perjalanan theater tersebut. Sedangkan di lantai dua bangunan masih digunakan untuk memproduksi rokok kretek sejak tahun 1913.
ADVERTISEMENT
2. Terjadi perobekan bendera Belanda
Warga bersorak ketika bendera Merah Putih berkibar di Hotel Majapahit saat teatrikal peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato sekarang Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/9). (Foto: Antara/Zabur Karuru)
Bendera milik Belanda berwarna Merah-Putih-Biru yang berkibar di Hotel Yamato Surabaya disobek oleh pemuda Indonesia menjadi Merah-Putih. Peristiwa tersebut disinyalir menjadi salah satu penyebab pecahnya perang Surabaya pada 10 November 1945.
Hingga kini, hotel yang sebelumnya bernama Oranje itu masih berdiri kokoh dan berganti nama menjadi Hotel Majapahit pada tahun 1969. Bangunan tersebut kini berfungsi sebagai hotel sekaligus butik yang menyimpan banyak kenangan bersejarah.
3. Pemuda Surabaya rampas gudang senjata Jepang sebelum perang
Bangunan yang berada di Jalan Tidar No.115, Petemon, Sawahan, Surabaya, itu jadi saksi sejarah arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Gedung bergaya Belanda bernama Don Bosco itu dulunya digunakan sebagai gudang senjata Jepang.
ADVERTISEMENT
Sebelum tragedi 10 November terjadi, pemuda Indonesia menyadari perlengkapan senjata yang dimiliki masih kalah jauh dibandingkan Sekutu. Beberapa pemuda Surabaya yang terdiri dari pelajar dan rakyat mengepung Don Bosco. Lalu, tiga pemuda yakni Subianto Notowardojo, Mamahit dan seorang wartawan Sutomo (Bung Tomo) datang menemui Mayor Hazimoto untuk bernegosiasi dan menyerahkan senjata mereka kepada rakyat Indonesia.
Tak butuh waktu lama, disaksikan Kepala Polisi Istimewa, Moh Jasin, dan anak buahnya, Hazimoto, menyerahkan menandatangani penyerahan gudang senjata kepada Indonesia. Sebagian senjata tersebut dikirim ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jakarta, sisanya dipergunakan untuk melawan Sekutu pada 10 November 1945.
4. Teriakan ‘Allahu Akbar’ Bung Tomo
Bung Tomo. (Foto: Wikimedia)
Untuk terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap Sekutu, pria bernama asli Sutomo ini mendirikan sebuah radio bernama 'Radio Pemberontakan' dan mulai mengudara pada 16 Oktober 1945.
ADVERTISEMENT
Saat menyampaikan pidato, Bung Tomo selalu mengawali dan mengakhiri pidato dengan seruan 'Allahu Akbar'. Hal tersebut dilakukan sebagai kode memikat para kiai dan santri untuk ikut berperang melawan Sekutu pada 10 November 1945.
"Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!"
5. Kiai ikut perang Surabaya
Kiai Abbas menjadi salah satu kiai jebolan Ponpes Buntet Cirebon yang memiliki peran penting dalam perang Surabaya. Pada 10 November 1945, Kiai Abbas berperan menjadi komandan perang. Tak hanya itu, putra Kiai Abdul Jamil ini juga turut membawa serta para santri untuk ikut mempertahankan tanah air.
Sebelum berperang, Kiai Abbas membacakan amalan sebanyak tiga kali kepada para santri untuk dihafalkan. Dari ratusan santri, hanya 80 orang yang lulus. Para santri yang lulus diizinkan untuk ikut berperang melawan Sekutu dan Jenderal Mallaby. Hingga akhirnya, seorang santri menembak mati Mallaby.
ADVERTISEMENT
---------------------------------------
Simak story menarik lainnya mengenai Pertempuran Surabaya dalam topik 10 November 1945 .
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan