kumparan
10 Nov 2018 17:16 WIB

7 Pahlawan Wanita dan Kehebatan Aksinya

7 Pahlawan Wanita. (Foto: Nunki Lasmaria Pangaribuan/kumparan)
Selain pahlawan pria, Indonesia juga memiliki begitu banyak pahlawan wanita yang tak kalah pemberani. Mereka berjuang melalui bidang masing-masing, seperti pendidikan, tulisan dan pemikiran tajam, hingga berjuang langsung di medan tempur.
ADVERTISEMENT
kumparan merangkum 7 dari sekian banyak wanita-wanita hebat itu. Mereka berjuang di zaman, wilayah, dan bidang yang berbeda. Simak dalam ulasan singkat berikut:
1. Laksamana Malahayati dan keberaniannya membunuh Cornelis de Houtman (abad 16)
Laksamana Malahayati. (Foto: Wikimedia Commons.)
Keumalahayati atau yang lebih dikenal dengan nama Malahayati ini adalah cucu dari pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Meski seorang putri kerajaan, sejak kecil dia lebih suka berlatih ketangkasan dan bercita-cita menjadi panglima perang.
Berkat kegigihannya, sekitar tahun 1589-1604 dia jadi panglima perang di era Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Pada tahun 1599 dia memimpin 2 ribu pasukan tentara perempuan Inong Balee, yakni janda para pahlawan yang gugur melawan Belanda.
Dalam pertempuran itu, dia berhasil membunuh kapten Belanda Cornelis de Houtman dalam duel di geladak kapal Belanda. Karena keberaniannya tersebut, Malahayati mendapat gelar laksamana. Dia bahkan disebut-sebut sebagai laksamana laut pertama di dunia.
ADVERTISEMENT
2. Martha Christina Tiahahu yang bertempur di usia 17 tahun (1800-1818)
Patung Martha Christina Tiahahu (Foto: Flickr / RP)
Gadis pemberani ini mulai terjun ke medan perang sejak masih usia belia. Dengan rambut panjang terurai dan ikat kepala berwarna merah, Martha Christina Tiahahu menemani ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, bertempur di medan perang.
Sejak awal perjuangan ia selalu ambil bagian dan pantang mundur. Christina juga memberi semangat pada kaum wanita untuk membantu perjuangan para kaum pria melawan Belanda.
Dalam pertempuran itu, ayahnya tertangkap dan ditembak mati oleh Belanda. Christina akhirnya juga tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa. Di kapal perang Eversten, fisik Christina melemah. Namun dia menolak makan dan diobati, hingga akhirnya meninggal dunia saat usianya baru memasuki 18 tahun.
ADVERTISEMENT
3. Cut Nyak Dhien yang memimpin pertempuran hingga jelang akhir hayat (1850-1908)
Pahlawan Cut Nyak Dhien. (Foto: Wikipedia)
Kabar meninggalnya sang suami, Ibrahim Lamnga, saat bertempur melawan Belanda membuat Cut Nyak Dhien sangat marah. Dia bersumpah akan menghancurkan Belanda dan dengan gagah berani, memimpin pertempuran di medan perang.
Setelah 2 tahun menjanda, dia menikah dengan Teuku Umar dan berjuang bersama-sama melawan Belanda. Sama dengan nasib suami pertamanya, Teuku Umar juga meninggal di medan perang. Namun Cut Nyak Dhien tak patah arang. Meski kembali memimpin pasukan seorang diri, dia terus berjuang.
Cut Nyak Dhien ditangkap Belanda saat fisiknya mulai lemah. Dia dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, dan meninggal dunia pada tahun 1908.
4. Cut Nyak Meutia dan rencong maut untuk Belanda (1870-1910)
Cut Nyak Meutia di Uang Rp 1000 (Foto: Dok. Wikipedia)
Keberanian Cut Nyak Meutia atau Cut Meutia melawan Belanda tak perlu diragukan lagi. Selain gagah di medan perang, dia juga ulung dalam menyusun strategi melawan musuh.
ADVERTISEMENT
Setelah bercerai dengan suami pertamanya, Syamsarif, Cut Meutia memimpin perang bersama suami keduanya, Teuku Chik Tunong. Meski hanya bermodalkan senjata tradisional Aceh, rencong, pasukan ini berhasil melumpuhkan musuh dan merampas 42 pucuk senapan.
Pada tahun 1905 Tunong tertangkap dan ditembak mati oleh Belanda. Cut Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe dan melanjutkan perjuangan melawan penjajahan Belanda.
Pada September 1910 Pang Nanggroe tewas di medan pertempuran. Namun Cut Meutia tak pernah menyerah. Hingga pada 24 Oktober 1910, dia dan pasukannya dikepung pasukan Belanda bersenjata lengkap. Cut Meutia gugur setelah 3 peluru menembus kepala dan dadanya.
5. RA Kartini dan tekadnya memperjuangkan pendidikan bagi wanita (1879-1904)
RA Kartini (Foto: Wikimedia Commons)
Raden Ajeng atau Raden Ayu Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia. Selama hidupnya dia bertekad memperjuangkan kesetaraan hak-hak kaum wanita yang di zamannya masih sangat terbatas dibanding kaum pria.
ADVERTISEMENT
Meski terlahir dari kaum bangsawan, Kartini begitu peduli dengan nasib rakyat. Dia mendirikan sekolah khusus wanita di kawasan tempat tinggalnya, Jepara, dan Rembang (tempat tinggalnya setelah menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat).
Kartini kerap menceritakan pemikiran dan usahanya memperjuangkan kesetaraan hak-hak wanita kepada sahabat-sahabatnya di Belanda melaui surat. Kumpulan surat-surat itu kemudian dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya 'Dari Kegelapan Menuju Cahaya' atau lebih dikenal dengan 'Habis Gelap Terbitlah Terang'.
Kartini meninggal di usia yang masih muda, yakni 25 tahun, setelah melahirkan putra pertamanya. Namun pemikirannya telah menginspirasi banyak orang dan terus dilanjutkan oleh para penerusnya.
6. Dewi Sartika dan Sekolah Istri (1884-1947)
Pahlawan Dewi Sartika. (Foto: Wikipedia)
Sebagai keturunan priyayi, Dewi Sartika mendapat kesempatan mengenyam pendidikan, hal yang langka bagi wanita di zamannya. Karena kepeduliannya yang tinggi, Dewi kerap membagikan ilmunya kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Ia menggunakan papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting sebagai alat bantu mengajar.
ADVERTISEMENT
Pada usia 20, Dewi Sartika membangun sekolah yang diberi nama 'Sekolah Istri'. Dia mengajarkan membaca, menulis, menjahit, merenda, hingga ilmu agama kepada para perempuan. Meski sempat ditentang Belanda, sekolah ini kemudian berkembang pesat di berbagai wilayah.
7. HR Rasuna Said dan pemikiran kritisnya (1910-1965)
Pahlawan Rasuna Said. (Foto: Wikipedia)
Banyak yang mengira Rasuna Said adalah sosok laki-laki. Padahal dia adalah perempuan pejuang emansipasi wanita dari Sumatera Barat. Dia tegas menentang poligami dan menganggap hal itu sebagai pelecehan terhadap kaum wanita.
Di masa mudanya Rasuna Said banyak terlibat dalam berbagai organisasi dan kegiatan politik seperti Sarekat Islam, Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), mendirikan Sekolah thawalib, dan lain sebagainya.
Dia juga sempat menjadi pemimpin redaksi majalah Raya. Rasuna Said dikenal sebagai jurnalis yang kritis dan tulisannya tajam. Karena pemikirannya itu, pada 1932 Rasuna dipenjara di Semarang.
ADVERTISEMENT
Setelah Indonesia merdeka, Rasuna aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekret Presiden 5 Juli 1959 sampai akhir hayatnya, 2 November 1965 di Jakarta.
---------------------------------
Simak story menarik lainnya mengenai peringatan Hari Pahlawan dalam topik 10 November 1945.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan