Pencarian populer

Ada Apa dengan Roy Suryo?

Mantan Menpora Roy Suryo (Foto: Wisnu A. Prasetyo/Tempo)

Penuh kontroversi. Barangkali begitulah jejak karier Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo, alias Roy Suryo, di jagat media dan politik.

Anak ketiga dari empat bersaudara generasi keempat keturunan Sultan Pakualam III ini pernah bercita-cita menjadi sopir bus. Saat masih kecil, ia gemar mengotak-atik mobil-mobilan, membuat peta jalan, hingga mengklasifikasikan mobil-mobilan yang dimiliki.

“Bisa bongkar tapi nggak bisa pasang,” ujar Yayik Suryo, kakak perempuan Roy, dalam sebuah wawancara bersama majalah Pantau.

Ketertarikan Roy ngoprek barang elektronik baru muncul kemudian di masa sekolah menengah ketika ia mengikuti ekstrakurikuler elektronika. Ia pun berniat masuk jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tapi takdir berkata lain. Roy gagal masuk jurusan yang dicita-citakan dan malah diterima di jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM pada 1986. Suka tak suka, ia jalan terus.

Di masa itu, Roy beralih hobi pada fotografi. Didukung kekuatan finansial orang tuanya, Roy bisa menjajal kamera terbaru lebih dulu ketimbang teman-temannya yang lain.

“Dulu kami pegang kamera Canon yang biasa, dia sudah pegang yang Canon Eos. Roy tahu betul kekuatannya di situ. Dia punya ketertarikan pada fotografi, didukung sumber dana, dan orang tuanya,” tutur salah seorang teman Roy kepada kumparan, Kamis (20/9). Sang kawan tak mau namanya disebutkan.

Roy Suryo. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Roy pun mulai banyak mengikuti kontes foto, seperti Piala Menteri Pertanian, Piala Menteri Riset dan Teknologi, juga Lomba Foto Model Nasional. “Kalau tidak juara satu, ya juara dua,” ujar Roy terkait prestasinya di bidang fotografi.

Selain mengikuti kontes, Roy rajin menerima order foto. Tahun 1996, Roy berupaya mengirim hasil-hasil jepretannya ke Kompas. Namun, karyanya itu baru berhasil dimuat setelah pengiriman ke-11.

Dikenal sebagai fotografer, karier pertama Roy adalah pengajar mata kuliah fotografi. Ia sempat menjadi dosen tak tetap di D3 Komunikasi UGM. Namun karena merasa jenjang kariernya sulit meningkat, Roy pindah ke Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Di sana, jabatannya dengan segera melesat. Roy sempat menjadi sekretaris jurusan hingga terpilih sebagai dosen teladan. Ia salah satu dosen favorit mahasiswa karena selalu membawa koleksi kameranya yang banyak nan beraneka rupa.

Sejak dulu, Roy memang dikenal suka menarik perhatian dengan memamerkan barang-barang yang dimilikinya. Tak hanya kamera, Roy juga tak segan memperlihatkan koleksi puluhan mobil Mercedes Benz yang ia miliki.

Roy Suryo. (Foto: Instagram/@ririen_suryo)

Dalam perjalanan karier Roy, peran Heru Nugroho, mantan Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, bisa dibilang penting.

“Saya kenal Roy sejak ia belum menjadi apa-apa,” ujar Heru yang kini menjadi juru bicara Roy.

Bagaimana Heru dan Roy bisa bertemu?

Di tengah perkembangan teknologi saat itu, Heru merasa membutuhkan seseorang yang bisa membantunya menerjemahkan berbagai istilah teknis dunia internet kepada khalayak luas.

Maka Roy, yang dikenalnya karena berada dalam satu jaring komunitas, ia ajak untuk membantu menyosialisasikan internet ke seluruh Indonesia.

Siapa sangka, keterlibatan Roy di sana menjadi pintu gerbang popularitas Roy Suryo sebagai pakar telematika.

Roy dikenal pertama kali oleh wartawan karena menggantikan Heru untuk diwawancara pada tahun 2000-an. “Aku kan ketua asosiasi internet. Wartawan minta wawancaraku soal analisis foto. Nah di sebelahku lagi ada RS (Roy Suryo), RS kan ngerti fotografi,” kenang Heru.

Sejak saat itulah sosok Roy banyak disorot kamera. Pria kelahiran 18 Juli 1968 itu tak hanya rajin memberi tanggapan di berbagai media, Roy juga sempat menjadi pembawa acara E-Lifestyle di MetroTV selama hampir lima tahun sejak 2001.

“Anak itu kalau perkara narsis, genit dalam tanda kutip, memang itulah Roy,” ujar Heru.

Selain itu, Roy pun gencar mengkritik kebijakan pemerintah dalam hal telekomunikasi, salah satunya kenaikan tarif dasar telepon. Kritikannya terhadap kebijakan PT Telkom saat itu berbuah perkenalannya dengan Gatot S. Dewa Broto yang dulu menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Humas Direktorat Pos Telekomunikasi.

Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto. (Foto: Jafrianto/kumparan)

Menurut kakaknya, Sony Suryo, Roy memang doyan mencari popularitas. “Roy ini sing penting mlebu koran (yang penting masuk koran). Nggak ada perhitungannya,” ujar Sony sambil tertawa seperti dikutip dari majalah Pantau. Pernyataan itu diamini oleh sejumlah teman Roy.

“Lha kayak dia ikut tim (pelacakan) Tommy Soeharto itu, sebenarnya kan bukan (mencari) Tommy-nya yang penting, tapi... popularitasnya,” ucapnya disusul derai tawa.

Di tahun 2001, Majalah Forum melaporkan jika tim yang bertugas melacak keberadaan Tommy Soeharto yang saat itu buron berhasil menelusuri nomor-nomor yang dihubungi oleh Tommy. Laporan tersebut membuat tim kepolisian waswas sebab metode pelacakan seharusnya bersifat rahasia.

Meski tak menyebut namanya, namun ia merasa segala tuduhan mengarah dan menyudutkan ia. Maka, Roy pun memilih mundur.

Meski begitu,“Roy itu pintar sekali memanfaatkan momentum,” ujar kawan Roy lainnya yang juga tak mau disebut nama. Menurutnya, Roy selalu mengambil setiap kesempatan yang ada tanpa berpikir panjang.

“Misal, dia declare sebagai ahli telematika di Yogya dan digebukin orang--dia emang gak terlalu pintar tapi kok bisa jadi pakar--ya dia (Roy) nggak ada urusan. Bodo amat,” lanjutnya memberi contoh.

Berulang kali perihal kepakarannya diperdebatkan baik karena latar pendidikan yang tak sesuai pun tak pernah melakukan penelitian terkait informasi dan teknologi. Tapi Roy tak peduli. Ia terus melaju dengan statusnya sebagai pakar telematika.

Namanya yang kian melambung membuat Susilo Bambang Yudhoyono kepincut. SBY pun menemui dan meminta langsung Roy Suryo untuk menangani sistem IT dan website kepresidenan di periode pertama Kabinet Indonesia Bersatu.

Latar belakang Roy yang berasal dari Yogyakarta dan salah satu keturunan, generasi keempat, Pakulaman tampaknya jadi salah satu faktor pendorong SBY mengajak Roy masuk Demokrat. Tak banyak ragu, Roy bersedia dan bersiap bergabung dengan partai berlambang Mercy itu.

Politik menjadi dunia baru yang kemudian ditempuh Roy. Padahal, menurut salah seorang temannya, Roy sama sekali tidak pernah tertarik pada politik sejak kuliah. Tapi, pintu kesempatan yang terbuka itu tentu sayang untuk disia-siakan begitu saja.

Ririn Suryo, dan Roy Suryo. (Foto: Instagram/@ririen_suryo)

Gemerlap kehidupan sebagai politisi menuntut Roy untuk terus menjaga popularitasnya di masyarakat. Ia semakin vokal merespon segala peristiwa meski terkadang penuh kontroversi.

Misalnya saja klaim Roy bahwa dirinya orang pertama yang menemukan rekaman lagu Indonesia Raya 3 stanza yang asli pada 2007. Padahal lagu aslinya dipercaya direkam oleh perusahaan piringan hitam milik Yo Kim Chan yang tak diketahui keberadaannya hingga kini.

Audio 3 stanza lagu Indonesia Raya pun sebenarnya telah beredar di Youtube sejak 2006. Roy berkelit bahwa ia orang pertama yang melaporkan ke negara, bukan semata menemukan audio tersebut.

Kontroversi lainnya terjadi ketika ia berebut tempat duduk di pesawat Lion Air penerbangan Jakarta-Yogyakarta pada 2011. Roy yang telah duduk terlebih dulu di bangku pesawat kudu legowo keluar dan minta maaf karena sebetulnya ia salah jadwal.

“Saya korban. Tapi sudah lah, pihak Lion juga sudah minta maaf,” ujar Roy saat itu.

Roy orang yang berani omong, kalau salah juga berani malu.

- Teman Roy

Ketika Roy diangkat menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga oleh SBY untuk menggantikan Andi Mallarangeng yang terjerat kasus korupsi Hambalang, banyak orang terkejut. Guyonan yang beredar, ia dipilih karena sama-sama dari Yogyakarta dan memiliki kumis yang serupa dengan Andi.

Tantangan ini dijawab Roy dengan berkata, “Saya dari dulu seperti prajurit, tugas seabrek harus bisa dilaksanakan.”

Roy Suryo (Foto: Dok. Kabupaten Seram Bagian Timur)

Masuk Kemenpora, Roy mengajak Heru sebagai staf khususnya dan menarik Gatot, seterunya di tahun 2002 soal tarif dasar telepon, dari Kemenkominfo untuk menjadi salah satu deputi di Kemenkominfo.

Ketika melantik Gatot, Roy berkelakar dengan berkata, “Yang dilantik hari ini juga termasuk musuh saya di tahun 2002.” Kalimat yang masih terus diingat sambil tersenyum oleh Gatot, yang kini menjabat Sekretaris Menpora.

Gatot kini harus kembali berhadapan dengan Roy dalam kasus pengembalian 3.226 aset Kemenpora yang diduga masih dikuasai oleh mantan atasannya itu. Kasus yang berlangsung sejak 2014 ini belum juga menemukan titik terang.

Roy Suryo dan Misteri 3.226 Aset Negara (Foto: Basith Subastian/kumparan)

“Gusti Allah tidak sare.”

Begitulah jawaban Roy Suryo sejak 2016 tiap kali dituding masih menguasai barang milik Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Dugaan ini bukan kali pertama membelit mantan Menpora pada 2013-2014 itu.

Ia telah tiga kali dikirimi surat oleh Kemenpora dengan tujuan yang sama: pengembalian barang milik negara.

Surat pertama bernomor 5.071/INS/XII20 tertanggal 31 Desember 2014 dikirim oleh Inspektorat Kemenpora. Ketika dimintai keterangan, Roy hanya menjawab, “Nggak ada itu, itu isu. Buat apa itu saya bawa.”

Roy bukan orang kere. Dia orang mampu, dia bukan orang yang serakah atau kemaruk karena urusan duit.

- Heru Nugroho, Jubir Roy

Berdasar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK, Roy kemudian mengembalikan 163 item dari total 3.296 barang yang diduga dimilikinya. Ketidakcocokan antara pencatatan belanja perlengkapan dan keberadaan fisik barang tersebut masih muncul di LHP tahun berikutnya.

Surat kedua pun dilayangkan pada 17 Juni 2016, lengkap dengan daftar 3.174 barang yang harus dikembalikan. “Sangat tidak logis kalau hal-hal yang terjadi 1,5 tahun lalu saat saya masih menjabat baru diaudit pada 2016 ini… Gusti Allah tidak sare,” ujar Roy saat itu.

Audit BPK soal skema pembelian reimburse Roy Suryo (Foto: Istimewa)

Saat itu, menghadapi lembaga yang pernah ia pimpin selama dua tahun, Roy belum merasa memerlukan bantuan kuasa hukum ataupun juru bicara. “Dia berpikir ini hanya persoalan administrasi,” ujar Heru Nugroho, mantan staf khusus yang kini menjadi juru bicara Roy Suryo.

Demi meluruskan hal itu, Heru berkata, Roy bertemu dengan Menpora Imam Nahrawi. “Gak tahu bagaimana ceritanya, diselesaikanlah baik-baik. Prinsipnya begitu,” jawabnya ketika dihubungi via telepon oleh kumparan, Jumat (15/9).

Nyatanya persoalan belum selesai. Surat permohonan pengembalian barang dari Kemenpora yang dikirim pada Mei 2018 beredar awal September lalu. Bantahan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya kembali ia sampaikan, tapi tak manjur.

Lelah menghadapi berbagai tudingan dari segala penjuru, ia mendadak lenyap dari sorot kamera dan meminta bantuan pengacara serta juru bicara. Pada Kamis (13/9), salah satu pekerja di kediaman Roy Suryo di Yogyakarta mengatakan Roy berada di Jakarta sejak lusa.

Hal yang berbeda justru disampaikan oleh Tigor Simatupang, kuasa hukum Roy Suryo. Ketika ditemui setelah acara mediasi dengan Kemenpora, Rabu (12/9), Tigor berkata bahwa Roy sedang berada di Jogja.

Tidak kebagian tiket, menjadi alasan absennya Roy dari pertemuan mediasi itu. “Emang gak ada tiket, cuman kan dia mau kelas bisnis atau apa, kita kan gak tahu,” kilah Tigor.

Ke mana Roy kini?

Kronologi Kasus Roy Suryo. (Foto: Brian Hikari Janna/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.55