Pencarian populer

Ali Karim Oei: Dakwah Masjid Lautze Memberi Contoh, Bukan Ceramah

Haji Ali Karim Oei, Ketua Yayasan Haji Karim OEI. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Selembar kertas berisi lafal kalimat syahadat terus dipegang Ahim di depan Masjid Lautze, Jakarta. Mulutnya terus melafalkan kalimat tersebut secara perlahan.

Kurang lebih setengah jam Ahim mengulang-ngulang bacaanya. Setelah mantap, dia kemudian bergerak menuju tempat di depan mimbar masjid untuk membaca kalimat syahadat dengan dibimbing pengurus masjid bernama Yusman.

Ahim perlahan mengucap kata per kata dari kalimat syahadat hingga akhirnya dia resmi menjadi seorang Muslim.

“Contohlah Nabi Muhammad. Salat Subuh 2 rakaat, tidak perlu lebih. Apapun semua dilakukan karena Allah,” Yusman berpesan kepada Ahim.

Sejak tahun 1997, tercatat seribu lebih orang keturunan Tionghoa berikrar untuk menjadi mualaf di Masjid Lautze. Mereka difasilitasi untuk belajar lebih dalam soal Islam baik sebelum maupun sesudah menjadi mualaf. Bagi para mualaf keturunan Tionghoa, Masjid Lautze adalah tempat yang nyaman untuk mendalami Islam. Masjid yang didesain bergaya arisitektur China ini berdiri di bawah naungan Yayasan Karim Oei.

Suasana di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

kumparan berkesempatan langsung berbincang dengan Ketua Yayasan Karim Oei, Ali Karim, tentang dakwah Islam di Masjid Lautze. Pria 63 tahun itu bertutur ihwal perjalanan dan tantangan yang dia jumpai saat menjalankan dakwah Islam. Ali masih ingat betul bagaimana sulitnya mendapat dana kala Masjid Lautze hendak dibangun 1991 silam. Berikut kutipan wawancara kumparan dengan Ali Karim, 25 Mei lalu.

Bagaimana cerita berdirinya Yayasan Karim Oei?

Setelah ayah saya meninggal, Pak Karim, kawan-kawannya minta dibikin yayasan atas nama beliau. Mereka melihat Karim Oei ini tokoh atau panutan ya. Karena jarang sekali melihat orang Tionghoa itu mempunyai nasionalisme tinggi. Tahun 30-an dia itu sudah, bayangin di jadi mualaf masuk Islam. Jaman dulu gimana itu perjuangannya. Jaman sekarang aja yang mualaf banyak diusir orang tuanya. Kan banyak. Apalagi tahun dulu. Nah mereka melihat perjuangan itu kemudian nasionalismenya, kemudian keberagaman.

Apa tujuan awal didirikan Yayasan Karim Oei?

Misi kita dari dulu satu, memberikan informasi Islam kepada WNI keturunan Chinese. Selama ini mereka enggak mendapat informasi Islam yang benar. Itu saja. Khusus orang Tionghoa karena kita melihat itu.

Bagaimana Islam dari kacamata orang Tionghoa?

Haji Ali Karim Oei, Ketua Yayasan Haji Karim OEI. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Orang-orang Chinese itu enggak tahu. Dia cuma tahu Islam enggak makan babi. Tahunya sekarang Islam itu teroris. Itu kan perlu dijelaskan sama mereka. Teroris itu bukan Islam. Islam enggak mengajarkan orang teroris. Saya pergi ke China, kecopetan, malingnya siapa, orang China.

Saya pergi ke Thailand, kena todong, siapa? Pasti orang Budha. Ada perampokan di Italia, mafianya orang Katolik pasti. Enggak mungkin orang Islam di sana.

Kayak gitu harus diceritain. Jadi bukan masalah agamanya segala macem. Agama itu enggak ada yang mengajarkan berbuat jahat.

Artinya komunikasi komunitas muslim dengan masyarakat Tionghoa masih kurang?

Enggak ada orang Chinese disentuh dengan kayak gitu. Dia cuma tahu kalau azan udah, itu masjid bikin ribut. Karena di samping rumahnya itu kan banyak masjid, musala-musala itu kan ribut. Tahunya itu aja. Timbul simpati? enggak ada. Di situ kita berdakwah.

Makanya tempat kita ini di daerah Pecinan, kenapa? Kalau kita bikin di Kebayoran siapa orang Tionghoa yang mau datang. Kalau kita mau dapat tanah macan kita mesti masuk ke sarang macan. Itu istilah kita. Akhirnya kita berdakwah di sini.

Sebagai Muslim Tionghoa masih merasakan perlakuan berbeda?

Saya keturunan China, orang Tionghoa, orang Chinese, China sama aja, enggak ada urusan kata-kata. Bapak saya, kakek saya semua lahir di Indonesia. Tapi tetap saya dianggap China. Orang Arab baru datang dari Arab, enggak bisa ngomong Indonesia, dicium tangan.

Ada cerita di balik konsep Masjid Lautze yang dikelola Yayasan Karim Oei?

Suasana di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Kita bikin modelnya ya agak-agak mirip Chinese sedikit, ada merah. Jadi mereka datang berani. Kita bikin seperti itu, orang datang. Merasa di rumah sendiri. Ngomong seenaknya kita jawab. Kita tukar pikiran segala macem. Jadi datang ke sini jangan cari perbedaanlah. Enggak kelar kalau kita cari perbedaan. Kita cari persamaan.

Orang Chinese diajarkan sama leluhurnya patuh dan hormat sama orang tua. Islam, lebih. bukan patuh saja, ngomong "ah" aja enggak boleh sama orang tua.

Kenapa memilih menggunakan nama Lautze, bukan nama lain yang lebih “Islami”?

Waktu cari nama, ada nama Islami. Tetapi, saya bilang enggak menariklah kalau nama Islami. Jadi apa? Ini Jalan Jalan Lautze kita pakai aja nama Masjid Lautze, selesai. Enggak pakai pusing-pusing. Gampang aja. Jadi dikenallah Masjid Lautze.

Masjid kita ada dua, satu di sini, satu di Bandung. Kayak (masjid) Chengho itu PITI yang dirikan. Tapi karena PITI itu ormas, kita bikin yayasan supaya geraknya lebih simpel. Tujuan yayasan itu bukan ormas, lebih kecil, lebih lincah.

Bagaimana metode dakwahnya?

Kalau dakwah kan kebanyakan di masjid enggak keluar. Islam kan enggak ada paksaaan. Dakwah itu bukan ceramah tapi memberi contoh. Mualaf kita kita anjurkan kalau dia sudah masuk Islam harus sopan santun sama keluarga. Orang China kan kadang etikanya.

Rasul kan Itu kan cuma ngasih contoh. Dia jujur, sidiq, amanah fatonah, itu kan sifat-sifatnya dia.

Apa tantangan membina mualaf Tionghoa?

Mualaf di Masjid Lautze. Foto: Dok. Ruli Johan

Mualaf itu kayak kita menghadapin anak TK. Jadi banyak pemahaman yang enggak enggak klop. Kita tiap hari minggu kan ada pengajian. Selama hari minggu selain bulan puasa itu kita ada pengajian. Setelah itu zuhur, orang-orang belajar agama. Ada yang belajar Alquran, salat, yang ngajar mualaf-mualaf juga yang lebih lama. Jadi lebih semangat. Karena di sini enggak diributin. Karena orang di sini China semua lidahnya cadel. Bilang hijaiyah “ra”, orang china “lo”. Susah, enggak bisa.

Enggak ada masalah. Kita kan enggak ributin tajwidnya, nahwunya. Kita maklum. Yang penting ada kemauan. Kendalanya itu kembali ke orang-orang Islam.

Jamaah muslim Tionghoa Masjid Lautze berasal dari mana saja?

Jemaah kita kan se-Jabodetabek. Jadi, misal, dari Bogor, kalau setiap hari ke sini gimana? Dulu pengajian hari minggu ada yang protes, yang dari Bogor sampe rumah jam 1 pagi. Besoknya sudah harus kerja lagi. Jadi kita seminggu sekali tiap sabtu.

Sepertinya muslim Tionghoa di sini lebih nyaman belajar Islam bersama sesama Tionghoa?

Karena ini tempatnya jauh jadi saya anjurkan dia mendekati lingkungan. Karena kalau dia enggak dekat sama lingkungan kalau ada masalah apa-apar, misal mati, rumahnya di Bekasi, masa sini, kan tetangganya yang tahu duluan. Kalau tetangganya tahu dia Islam, bisa disalatin. Kita anjurkan dekati lingkungan, membaurlah.

Apa perbedaan yang Anda rasakan dulu dan sekarang?

Jadi dari dulu saya lihat perubahannya, dari kecil kan saya ngelihat orang (Tionghoa) masuk Islam ya. sekarang banyak anak muda. Mayoritas itu anak anak masih muda, kuliah, orang masih aktif bekerja. Kalau zaman saya dulu stroke atau sudah tua segala macam.

Video

Simak story selengkapnya dalam Konten Spesial dengan topik Muslim Tionghoa Melawan Sentimen.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.36