kumparan
18 Des 2018 11:12 WIB

Aria Bima: Kami Tak Khawatir Markas Prabowo di Jawa Tengah atau Bulan

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyapa warga saat acara Prabowo Menyapa Yogyakarta di Alun-alun Selatan Yogyakarta, Rabu (28/11/2018). (Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berencana mendirikan posko Jawa Tengah. Ketua BPN Prabowo-Sandi, Djoko Susanto, menyebutnya sebagai Pos Tempur, sementara Direktur Materi Debat BPN Sudirman Said memberinya nama Markas Perjuangan.
ADVERTISEMENT
Apapun nama dan bentuknya nanti, yang jelas tujuannya adalah untuk menggoyahkan suara Jokowi di kampung halamannya sendiri.
Pada Pemilu Presiden 2014, Prabowo kalah di provinsi dengan jumlah pemilih terbesar ketiga ini. Sekarang kubu Prabowo-Sandi memberi perhatian lebih terhadap provinsi berjuluk Kandang Banteng.
Bagaimana Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin menanggapi perihal rencana markas Prabowo di tanah Jokowi ini?
Selama kurang lebih satu jama kami berbincang dengan Aria Bima, Direktur Program Kampanye TKN Jokowi-Ma’ruf di Rumah Cemara, Kamis (13/12). Tiga periode menjadi anggota DPR RI fraksi PDI-P Daerah Pemilihan V Jawa Tengah membuat Aria Bima paham betul tabiat masyarakat di sana.
Ia merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagi Aria, fokus Jawa Tengah bisa membuat Sandiaga Uno, sebagai politikus muda, belajar banyak soal politik yang lebih bermartabat. Berikut petikan obrolan kami bersama Aria Bima mulai dari soal antisipasi hingga peta politik Jawa Tengah.
Ario Bimo anggota Fraksi PDIP (Foto: Facebook/Aria Bima Trihastoto)
Bagaimana tanggapan TKN Jokowi-Ma’ruf Amin terkait rencana pendirian markas Prabowo-Sandi di Jawa Tengah?
ADVERTISEMENT
Saya tidak melihat ada satu korelasi antara kantor posko tim sukses dengan tingkat elektabilitas dalam pilpres. Karena kita di TKN Jokowi-Ma’ruf Amin ini mendesain bagaimana komunikasi dan informasi itu lebih didasarkan pada aspek teknologi, kecepatan berkomunikasi.
Kenapa harus berpikir secara konservatif dengan memindahkan posko untuk kerja yang lebih maksimal. Dengan tetap berkantor di Jakarta, menurut saya, tidak ada sesuatu yang berbeda.
Tapi kalau itu merupakan suatu hal yang diperlukan oleh tim Prabowo-Sandi untuk memindahkan markasnya ke Jawa Tengah, saya anggap biasa-biasa saja. Mau kantornya di Jakarta, di Jawa Tengah, atau di bulan sekalian tidak jadi persoalan yang mengkhawatirkan.
Jawa (Tengah) adalah Kunci (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Seluruh parpol pengusung dan teman-teman kemaren hanya bilang, "Nantilah, setelah Januari-Februari baru kerja." Tetapi sekarang justru ada cambuk yang secara psikologis membuat teman-teman lebih rajin melakukan penggalangan suara.
ADVERTISEMENT
Saya berterima kasih kepada Pak Sandi karena justru membantu menggiatkan tim sukses Jokowi-Ma'ruf di Jateng dengan keinginan memindahkan posko di sana. Jadi Mas Bambang Pacul sebagai ketua TKN Jokowi-Ma'ruf di Jawa Tengah menyampaikan terima kasih ada instrumen yang lebih menggairahkan di Jateng dan tentunya itu akan berdampak pada penguatan elektoral bagi Jokowi-Ma'ruf Amin.
Antisipasi yang dilakukan TKN Jokowi-Ma’ruf untuk mengamankan suara di sana bagaimana?
Saya malah melihat bagaimana Sandi belajar cara kampanye yang lebih bermartabat dari Jawa Tengah. Jawa Tengah ini… masyarakatnya, tokoh-tokohnya—baik tokoh agama maupun tokoh masyarakat—cukup matang dalam hal yang menyangkut masalah kontestasi-kontestasi di Pilkada, Pilgub, dan Pilpres.
Jadi bagaimana Sandi belajar kampanye cerdas, kampanye yang lebih bermartabat. Orang di Jawa Tengah mengerti ketulusan, kejujuran, orisinalitas seseorang—dia itu baik atau hanya kelihatan baik.
Sandiaga Uno (kanan) didampingi Direktur Materi Debat dan Kampanye Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Sudirman Said (kiri). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Supaya Sandiaga tahu kenapa Jawa Tengah ini menjadi pusat dari ‘Banteng’, pusat PKB dan NU, serta pusat dari Golkar, tapi tidak pernah ada perselisihan. Dalam kontestasi, kita ya biasa-biasa saja karena masyarakat dan elitenya cerdas.
ADVERTISEMENT
Menurut saya itu penting buat Sandi untuk mengerti betul peradaban-peradaban kebudayaan yang ada di sana dengan berbagai lintas persoalan dan berbagai lintas ideologi dan lintas politik. Masyarakat Jawa Tengah terbiasa mengalami konflik, membangun negosiasi, dan konsensus dengan memberikan kontestasi yang hampir tidak pernah memunculkan konflik-konflik yang sebenarnya tidak perlu.
Masuk Jawa Tengah tidak masalah asal jangan bawa keributan. Jangan seperti saat kampanye ganti presiden oleh Neno Warisman dan Mardani yang secara terang-terangan berkampanye di depan warung anaknya Pak Jokowi, Markobar. Apakah cara itu yang mau dibawa Sandi?
Strategi Prabowo-Sandi Merebut Jawa Tengah (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Masyarakat Solo tidak suka kampanye yang mencaci maki, mereka lebih suka mengamplifikasi kebaikan dan nilai-nilai positif yang dikampanyekan.
ADVERTISEMENT
Saat itu masyarakat Solo diem dan tidak ada keributan direm, wes tekno wae (ditahan, sudah biarkan saja). Tapi nalar sehat dan martabat kultur Solo ndak bisa demikian. Karena di Solo itu cenderung pada fase perbedaan yang tidak manifes.
Yo wis bedo ra popo lah, wong kabeh yo apik (berbeda tidak masalah asal semuanya bagus). Cenderung begitu, tidak dengan gaya-gaya antagonis.
Video
BPN Prabowo-Sandi percaya diri sebab Sudirman Said kalah tipis ketika Pilgub Jawa Tengah 2018. Bagaimana pendapat Anda?
Oh tidak bisa. Saat itu ada Mbak Ida Fauziah yang NU dan PKB. Di dalamnya ada Muslimat, Fatayat, dan Banser yang bersama Mbak Ida Fauziah. Sekarang Ida sebagai Ketua Relawan Perempuan Keren Pak Joko Widodo
ADVERTISEMENT
Jadi pattern (basis) pemilih Pilgub Jateng kemarin dari Nahdliyin dan PKB cenderung tidak akan kembali ke Pak Sudirman Said (Prabowo-Sandi).
Saya tidak melihat perolehan dari Pak Sudirman Said dan Ida pada Pilgub Jateng kemarin akan berpengaruh kuat. Mohon maaf, ini karena pattern-nya adalah komunitas Nahdliyin.
Pak Sudirman Said tidak punya pattern. Kalau pak Sudirman Said masih dapat dukungan, paling di sekitar Brebes, karena itu wilayah kelahiran beliau.
Mbak Ida pattern-nya adalah NU dan PKB, Nahdliyin. Sekarang Mbak Ida di kubu Jokowi.
Perubahan Elektabilitas Pasca-Pilkada (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Saya juga belum melihat pengaruh kehadiran Pak Sandi di sana, mungkin basis Islam yang tidak terafiliasi manapun. Islam yang tidak terfiliasi ini dalam artian bukan NU, Muhammadiyah, dan LDII, ada kecenderungan cair tetapi masuk ke platform partai seperti PDIP dan Golkar
ADVERTISEMENT
Pengaruh Sandi bisa saja di kalangan milenial. Tapi milenial di sana juga tidak cair karena, ada milenial gaya Ario Bimo, gaya Nusron Wahid, gaya Mbak Puan Maharani. Calon-calon legislatif ini relatif memberikan penguatan kepada partai dan caleg di Jateng.
Bahkan yang lebih diragukan adalah kader PKS dan Gerindra saat harus mempromosikan Pak Prabowo di Jateng. Itu jadi persoalan.
Sementara jika memang ada kawan-kawan Nahdliyin yang memberikan dukungan ke Pak Prabowo, saya kira sah-sah saja. Tidak ada yang perlu dipersoalkan. NU secara keseluruhan lebih dipentingkan buat bangsa ini daripada sekadar memanfaatkan atau menggunakan NU sebagai satu afiliasi untuk memberikan dukungan politik. Jadi beda pilihan tidak apa.
Tapi kita super yakin platform yang diusung Jokowi-Ma'ruf ini adalah platform yang sebenarnya secara ideologis adalah narasi besar yang diusung Nahdlatul Ulama.
Prabowo Subianto saat sowan ke KH Maimun Zubair di Rembang. (Foto: Dok. Tim Media Prabowo)
Bagaimana dengan massa 212 di Jawa Tengah?
ADVERTISEMENT
Untuk massa 212 atau 411 simbolisasi kita itu ada di Pak Kiai Ma’ruf. Kalau Kiai Ma’ruf bukan bagian dari 212 dan 411 mungkin nggak akan jadi wakil presiden. Justru karena Pak Kiai Maruf adalah representatif dari kawan-kawan yang waktu itu resisten terhadap pemerintahan Jokowi, makanya dia dipilih.
Kenapa tidak Kiai Said Aqil Siroj atau Mahfud MD? Karena kita ingin meyakinkan bahwa tidak ada lagi kalangan umat Islam yang merasa terpinggirkan di masa depan. Kiai Ma’ruf itu representasi mereka walaupun tidak secara terbuka mendukung atau tidak mendukung.
Tapi saya yakin ketika Jokowi-Ma’ruf menang, Kiai Ma’ruf menjadi representasi simbol 212. Sebab Islam yang progresif seperti NU dan Muhammadiyah yang kita anggap pluralis telah terepresentasikan dalam konfigurasi pemimpin mulai dari Menteri Agama hingga Menteri Pendidikan.
ADVERTISEMENT
Kemenangan Jokowi-Ma’ruf akan mengakomodasi kepentingan umat terutama ekonomi syariah, ekonomi kerakyatan, ekonomi umat. Supaya isu-isu pembangunan ini tidak hanya untuk kepentingan kelas menengah atas.
Apakah itu langsung mendulang suara? Yang penting sekarang minimal meredam emosi. Yang lebih penting adalah meredam gejolak lima tahun ke depan.
------------------------
Simak pertempuran kedua kubu di tengah Jawa di Liputan Khusus kumparan: Markas Prabowo di Tanah Jokowi
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan