kumparan
4 Jan 2018 13:58 WIB

Ayatollah Khamenei dan Bayang Revolusi Iran

Cuplikan Film Les Misérables (Foto: Youtube/Gerardo Ochoa-Vargas)
Do you hear the people sing?
Singing the songs of angry men?
ADVERTISEMENT
It is the music of the people
Who will not be slaves again!
Petikan lagu itu tentu tak asing bagi seseorang yang pernah menikmati kisah Les Misérables karya Victor Hugo. Termasuk bagi sang Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
“In my opinion, Victor Hugo’s Les Misérables is the best novel that has been written in history,” ujar Khamenei di sebuah stasiun televisi pada 2004.
Sebagai pengagum Les Misérables, barangkali Khamenei bukannya tak paham mengapa ribuan orang selama tujuh hari turun ke jalan di berbagai kota Iran mengadakan protes kepada pemerintahan. Berawal dari protes terkait harga-harga kebutuhan pokok yang tak terjangkau, hingga seruan penggulingan Presiden Hassan Rouhani dan Khamenei karena dinilai korup.
ADVERTISEMENT
Demonstran meneriakkan yel-yel, "Matilah Rouhani" dan "Matilah Khamenei!"
Mungkinkah di telinga Khamenei, yel-yel itu terdengar seperti seruan dari orang-orang yang marah dan protes menolak hak-haknya dirampas? Namun alih-alih memandang demikian, Khamenei --bak seorang psikotik yang menyukai teori konspirasi, malah menunjuk hidung pihak yang dituding sebagai musuh-musuh Iran.
"Terkait berbagai peristiwa beberapa hari ini, musuh-musuh telah bersatu dan menggunakan segala cara, uang, senjata, kebijakan, dan jasa keamanan untuk menciptakan masalah untuk rezim Islam," kata Khamenei, menanggapi aksi protes itu pertama kalinya, Selasa (2/1).
"Musuh selalu mencari peluang dan celah untuk menyusup dan menyerang negara Iran," lanjut pemegang kekuasaan absolut Iran itu.
Kerusuhan di Iran (Foto: REUTERS/Francois Lenoir)
Musuh-musuh Iran yang dimaksud Khamenei patut diduga adalah negara-negara Barat dan Amerika Serikat. Seperti dua kerabatnya yang berkontribusi pada teori “Westoxication” dan merupakan intelektual Iran berpengaruh pada masa sebelum revolusi 1979, Jalal Al-e Ahmad dan Ali Shariati, Khamenei merupakan seorang yang begitu curiga pada AS dan Barat.
ADVERTISEMENT
Ia tidak membiarkan begitu saja pengaruh yang berasal dari Barat “merusak” Iran. Satu sikap yang sudah dimiliki Khamenei sejak muda.
Khamenei lahir di Mashhad, kota terpadat kedua yang terletak di timur laut Iran, pada 17 Juli 1939. Pada 1962, di bawah kepemimpinan pendahulunya, Ayatulloh Ruhollah Khomeini, ia sudah memulai aktivitas politiknya dengan menentang kekuasaan monarki Iran saat itu. Termasuk mengambil peran penting dalam revolusi 1979.
Kemudian pada 1980 hingga 1987, Khamenei menjadi anggota komando pusat dan sekretaris jenderal Islamic Republic Party yang didirikan pada 1979. Partai itu mendukung tujuan Ruhollah Khomeini untuk membuat Iran sebagai negara teokrasi --cara menjalankan negara berdasarkan kepercayaan bahwa Tuhan langsung memerintah negara, dipimpin oleh ulama.
ADVERTISEMENT
Selain sebagai elit partai, Khamenei juga menjabat sebagai Presiden Iran dari Oktober 1981 sampai Agustus 1989. Kekuasaan absolutnya sebagai pemimpin agung atau supreme leader atas Iran dimulai tepat setelah Ruhollah Khomeini wafat pada Juni 1989. Sebagai suksesor Ruhollah Khomeini, ia merangkap jabatan tersebut selama dua bulan.
Aktivitas Khamenei dalam berpolitik sempat beberapa kali membahayakan nyawanya. Misalnya, ia mengalami cedera akibat sebuah bom yang ditempatkan di tape recorder meledak ketika ia mengadakan konferensi pers pada 1981. Lalu pada 1985, ia selamat dari bom bunuh diri yang meledak di dekatnya.
Revolusi Iran tahun 1979. (Foto: AFP/Gabriel Duval)
AS dan Barat dalam Kecemasan Khamenei
Dua bulan sejak menjadi supreme leader, Agustus 1989, Khamenei memberitahukan kepada AS bahwa, “Tak seorang pun di Republik Islam Iran yang pernah bernegosiasi dengan anda, juga bukan mereka. ... Selama kebijakan AS didasarkan pada kebohongan, penipuan, dan standar ganda, dan mendukung rezim korup, seperti Israel, dan melanggengkan penindasan terhadap negara-negara yang lemah dan miskin.”
ADVERTISEMENT
“Dan selama kejahatan dan pelanggaran para penguasa AS ... tetap berada dalam ingatan bangsa kita, tidak ada kemungkinan perundingan dengan pemerintah AS atau membangun hubungan diplomatik dengannya. Kami benar-benar menolak hubungan antara mereka dan kami,” ungkapnya, seperti dipetik Akbar Ganji, seorang jurnalis yang dikenal sebagai pembangkang politik Iran terkemuka, dalam Who Is Ali Khamenei?.
Perangai Khamenei mengarahkan tuduhan kepada pihak luar atas gejolak dalam masyarakat Iran bukan kali ini saja. Pada demonstrasi yang dilakukan Juni 2009 lalu, ia pun melakukan hal serupa.
Ketika demonstrasi mulai meluas saat itu, dalam khotbah Jumat, Khamenei menyampaikan bahwa para demonstran serupa halnya dengan gerakan "color revolutions", secara khusus yang ada di Georgia, yang ia sebut didalangi oleh AS dan Inggris.
Khamenei. (Foto: Reuters)
Dua tahun kemudian, Juni 2011, Khamenei menyebut demonstran yang dikenal sebagai Green Movement itu adalah kelanjutan dari perubahan kebijakan rezim AS dan sekutunya. Ia juga menyampaikan propaganda bahwa revolusi 1979 hingga saat itu tetap bertahan karena tidak termakan hasutan yang dilakukan AS dan sekutu mereka.
ADVERTISEMENT
"Sebuah revolusi yang tidak dapat mempertahankan dirinya sendiri dalam masa penghasutan, terhadap berbagai usaha kudeta politik dan militer dan tindakan lainnya, tidak bertahan hidup. Revolusi (1979) ini masih hidup, karena ia membela diri dan memang kuat dan menang. Ini sudah pasti, seperti yang anda lihat terjadi pada 2009, " ungkap Khamenei.
Dalam sebuah pertemuan resmi dengan pemerintah Iran pada 2000 silam, Khamenei menegaskan kecemasannya sekaligus sikap permusuhannya dengan AS dan Barat yang kerap ia ungkapkan secara konsisten.
Menurutnya, seperti diungkapkan Ganji, AS sudah merencanakan dan mengatur segala hal untuk berupaya meruntuhkan sistem Republik Islam Iran. Rencana tersebut telah dirancang sejak bubarnya Uni Soviet.
“Mereka harus --dalam imajinasi mereka sendiri,” lanjut Khamenei, “menghidupkan kembali rencana runtuhnya Soviet sesuai dengan kondisi di Iran,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Khamenei bukannya tidak rasional, ia menyadari kehancuran Uni Soviet dipengaruhi oleh kemiskinan, represi, korupsi, serta konflik antagonisme etnis dan nasionalis. Tetapi ia menilai AS telah mendorong semua masalah itu pada kehancuran Uni Soviet. Di antaranya, dengan memanipulasi pemberitaan, melakukan invasi budaya, dan melalui tekanan politik dan ekonomi.
Khamenei juga berpikir bahwa AS dan secara umum negara-negara Barat serta Israel, ingin menggunakan pemilihan umum berbagai badan pemerintahan di Iran untuk membuat sebuah "dualisme kedaulatan", melalui “sekutu internal" mereka alias penyusup. Tujuannya, menurut Ganji, untuk membuat perpecahan antara supreme leader dengan pejabat pemerintah yang dipilih secara resmi.
Seperti obsesi seorang Javert untuk memburu dan menghukum Jean Valjean --sang tokoh protagonis yang sempat diperbudak karena mencuri roti-- dalam kisah Les Misérables. Khamenei mungkin terobsesi memburu dan menghukum hal-hal terkait kepentingan AS dan Barat, terlepas dari AS maupun Barat tak bisa dipersonifikasikan sebagai Jean Valjean.
ADVERTISEMENT
Sikap itu tidak berbeda dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang oleh Richard Pearson dalam Ayatollah Ruhollah Khomeini The Mullah Who Transformed Iran pada 1989, disebut terus menyerukan kemurnian agama dan budaya. “Dia tidak pernah mendengar tentang Bach atau Verdi, tetapi dia melarang musik mereka hanya karena itu asing.”
Revolusi Iran tahun 1979. (Foto: AFP)
Sanjungan untuk AS dan Barat
Menurut Ganji, Khamenei selalu kritis terhadap demokrasi liberal dan berpikir bahwa kapitalisme dan (dunia) Barat mengalami penurunan jangka panjang yang tak terelakkan. AS pun dalam pandangan Khamenei secara inheren Islamofobia.
“Meski begitu, ia tidak secara refleks anti-Barat atau anti AS. Dia tidak percaya bahwa AS dan Barat bertanggung jawab atas semua masalah dunia Islam, bahwa mereka harus dihancurkan, atau bahwa Alquran dan syariah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan dunia modern,” ujar jurnalis jebolan University of Tehran itu.
ADVERTISEMENT
“Khamenei menganggap bahwa ilmu pengetahuan dan kemajuan (modern) sebagai ‘kebenaran peradaban Barat’, dan dia ingin orang-orang Iran mempelajari kebenaran ini. Dia bukan orang fanatik yang gila, tidak rasional, atau ceroboh mencari peluang untuk melakukan agresi,” sambung Ganji.
Sanjungan Khamenei terhadap AS dan Barat kerap ia lontarkan secara terbuka. Bagi Khamenei --meski dalam satu dan lain hal mungkin terkesan sarkastik-- keunggulan-keunggulan yang ada pada AS dan Barat tidak bisa tidak harus diakui sebagai fakta. Misalnya, ketika ia bertemu dengan para pemuda di Kota Caspian, Rasht, pada 2001.
Khamenei mengatakan, sebuah kualitas dari masyarakat Barat dan menjadi sumber utama kesuksesan mereka adalah kesediaan mereka untuk mengambil risiko. Kemudian, kualitas lainnya adalah ketekunan dan ketahanan bekerja keras.
ADVERTISEMENT
Pada kesempatan lain di tahun 2004, Khamenei menyampaikan pidatonya dengan memuji peradaban materialis AS dan negara-negara Barat. Ia bahkan menyalahkan rezim otoriter Shah di Iran sebelum revolusi 1979 dan rezim otoriter lain di negara-negara berkembang atau dunia ketiga sebagai penyebab ketertinggalannya kepada AS dan Barat.
"Di AS, anda melihat puncak bangkitnya peradaban materialis dari perspektif sains, kekayaan, kekuatan militer, dan usaha politik dan diplomatik. AS adalah negara yang memiliki kekayaan legendaris, dan kekuatan militer dan mobilitas politik yang luar biasa," jelas Khamenei.
Ayatollah Ali Khamenei (Foto: AFP/AFP FILES/Jamshid Bairami)
Sikap mendua dan kejujuran tersebut barangkali yang dimaksud oleh Khamenei ketika mengatakan, “kebudayaan Barat adalah sebuah kombinasi dari hal-hal yang indah dan jelek.”
“Tak ada seorang pun yang mengatakan bahwa kebudayaan Barat sepenuhnya jelek. Tidak, seperti kebudayaan lainnya, pasti memiliki manifestasi yang indah. ... Sebuah negara yang masuk akal dan sekelompok orang yang masuk akal akan mengambil yang baik dan menambahkannya ke budaya mereka sendiri, sehingga memperkaya; dan menolak yang buruk."
ADVERTISEMENT
Walaupun menyanjung tinggi kebudayaan dan peradaban Barat, Khamenei tetap memandang peradaban Islam yang terbaik. Sebab, menurutnya, peradaban Barat hanya memiliki satu dimensi: materialisme. Meski pada dimensi itulah yang membuat Khamenei tersanjung.
Iran Sesudah Khamenei
Sebagai negara Teokrasi, Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei merupakan pemimpin sebenarnya di Iran, bukan presiden. Ia adalah seorang pemegang keputusan tertinggi, keputusan seorang presiden pun dapat ia batalkan.
Restunya sangat menentukan nasib seseorang yang hendak maju sebagai presiden Iran. Pada April 2017 lalu, misalnya, seperti yang terjadi pada mantan Presiden Iran periode 2005 hingga 2013, Mahmoud Ahmadinejad. Ia didiskualifikasi setelah mencalonkan diri sebagai kandidat presiden Iran untuk pemilu pada Mei.
Keputusan Dewan Pelindung Iran untuk mendiskualifikasi Ahmadinejad dikarenakan Khamenei hanya memberikan persetujuannya pada Hassan Rouhani dan Ebrahim Raisi. Pemilu itu kemudian dimenangkan oleh Hassan Rouhani.
ADVERTISEMENT
Kedudukan absolut seorang pemimpin agung atau supreme leader dimulai ketika Rohullah Khomeini berhasil menggulingkan Shah dalam revolusi 1979. Pada Maret tahun itu juga sebuah plebisit menyetujui transformasi Iran dari sebuah kerajaan turun-temurun atau monarki ke sebuah republik Islam.
Kemudian diciptakan sebuah konstitusi baru yang menciptakan posisi pemimpin agama nasional, vilayat-e-faqih. Melalui pasal 107, seperti diungkapkan Pearson, Khomenei secara hukum disebutkan sebagai pemimpin agama nasional seumur hidup. Dengan kedudukan tersebut dia juga adalah komandan tertinggi angkatan bersenjata dan Garda Revolusi.
Khamenei juga memiliki kekuasaan untuk mengumumkan perang dan memberhentikan presiden. Pearson mengungkapkan, secara teori, seseorang yang mengisi kedudukan ini harus "saleh, berdedikasi, dan tulus," dan memberikan panduan moral namun, jauh dari proses pengambilan keputusan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Kedudukan tersebut membuat Khamenei memegang kekuasaan yang sebenarnya dan mutlak. Sementara kedudukan presiden tidak lebih sebagai semacam pelaksana teknis sehari-hari dari keputusan-keputusan yang sudah digariskan atau yang tidak bertentangan dengan Khamenei.
Khamenei dan Hassan Rouhani. (Foto: Dok. Wikimedia)
Lalu bagaimana nasib Iran jika Khamenei akhirnya berakhir, entah karena berhasil digulingkan oleh rakyat Iran atau karena kematian? Khamenei kini berusia 78 tahun. Pada 2014 ada rumor yang menyebut bahwa kesehatannya sudah semakin menurun selama 15 tahun terakhir. Rumor itu kemudian diperkuat dengan operasi prostat yang dijalani Khamenei.
Pada September 2015, dalam sebuah pidato kepada korps perwira Garda Revolusi, Khamenei mengatakan, musuh-musuh Iran “menunggu saat ketika bangsa dan sistem tertidur, contohnya dalam 10 tahun (yang akan datang) ketika saya mungkin tidak berada di sini, untuk mewujudkan tujuan mereka”.
ADVERTISEMENT
Massoumeh Torfeh dalam Iran after Khamenei mengatakan, di antara para ayatollah di Iran tidak satu pun yang memiliki gabungan dari karisma, popularitas, dan kredensial Islam. Suara oposisi yang tidak setuju dengan Republik Islam menjadi begitu otoriter pun dinilai kurang kuat.
Torfeh meragukan akan ada regenerasi sosok dengan pendirian seperti Khamenei. Terlebih sosok Khamenei sendiri selama empat dekade memimpin Iran tidak terlepas dari bayang-bayang pendahulunya, Khomeini. Selama hampir empat dekade di bawah Khamenei, Iran belum bisa “meregangkan kaki” keluar dari pandangan revolusioner. Dengan kalimat lain, Iran masih berkubang dalam semangat revolusi 1979.
“Dasar pemikiran revolusi atau revolusioner harus begitu kuat sehingga kematian dan kehidupan orang semacam itu tidak akan mempengaruhi gerakan revolusioner negara kita,” ujar Khamenei dalam satu-satunya pidato yang menyinggung tentang suksesi, seperti dipetik Torfeh.
ADVERTISEMENT
===================
Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan