Pencarian populer

Babat Alas Menuju Asmat

Mencari jalan menuju Kabupaten Asmat. (Foto: Dok. ACT)
Kilau biru Danau Sentani menyapa dari luar jendela pesawat. Kontur bukit yang bergelombang dan hijau pohon berbaris asri, menggeser pemandangan penuh awan sejak lepas landas dari Merauke satu jam sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Hijau bukit mengintip dari sekitar, tatkala pesawat mendarat di landas basah Bandara Sentani yang berada di bibir danau. Kota Jayapura merdu usai diguyur hujan.
Di pintu keluar, otot terenggang dan bau gunung selepas hujan terhirup dalam-dalam. Namun ini bukan safari: tak ada jadwal mampir ke pusat kota hari ini.
Senin (5/2), wartawan kumparan Ardhana Pragota bersama Tim Aksi Cepat Tanggap--organisasi nirlaba yang fokus pada kerja kemanusiaan--cuma punya waktu satu jam di Jayapura. Hanya transit untuk terbang lagi ke Timika dan melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir di Distrik Agats, Kabupaten Asmat.
Rombongan berangkat ke Asmat untuk menyaksikan penanganan kejadian luar biasa wabah campak dan gizi buruk. Sudah 71 anak tewas di sana.
ADVERTISEMENT
Merauke dipilih sebagai titik pemberangkatan bantuan untuk dua alasan. Pertama, ia paling dekat dengan Asmat. Kedua, Merauke memiliki suplai logistik paling mumpuni di antara daerah lain di pesisir selatan Papua.
Mencari jalan menuju Kabupaten Asmat. (Foto: Dok Kodam Cendrawasih)
Merencanakan perjalanan di Papua bukan perkara mudah, bahkan untuk rute dekat seperti Merauke ke Asmat.
Merauke menuju Asmat memiliki jarak yang sama seperti Jakarta ke Semarang. Tetapi, Asmat hanya bisa ditempuh lewat dua cara: kapal laut dan pesawat.
Selama 73 tahun Indonesia berdiri, belum ada jalur darat menuju Asmat.
Masih untung, Asmat punya pelabuhan dan bandara yang melayani berbagai rute. Rute kapal dan pesawat langsung menuju Asmat dapat ditempuh melalui Merauke dan Timika.
Pesawat perintis rute Bandara Mopah, Merauke ke Bandara Ewer, Agats tersedia tiga kali seminggu. Harganya mahal, minimal Rp 1 juta per tiket. Itu pun hanya berkapasitas delapan penumpang sekali jalan.
ADVERTISEMENT
Pelabuhan Agats juga melayani pelayaran dari berbagai rute kapal. Kapal penumpang Pelni berlayar dari Merauke dan Timika menuju Agats dengan waktu perjalanan mencapai tiga hari. Sementara, kapal carteran speedboat berkapasitas 30 orang juga tersedia dengan waktu tempuh 5 sampai 10 jam.
Begini rencana awalnya: dari Jayapura di utara, terbang ke Timika yang berada di selatan. Setelah itu, beralih ke jalur laut menggunakan speedboat.
Ketika transit di Jayapura, skenario yang cukup matang tergenggam itu cukup membuat hati tenang. Seharusnya, lima jam berpusing di air akan melabuhkan rombongan ke Agats.
Mencari jalan menuju Kabupaten Asmat. (Foto: Dok Kodam Cendrawasih)
Butuh 50 menit untuk terbang dari Jayapura menuju Timika. Tak seperti di Bandara Sentani, panas menyengat kepala begitu pesawat mendarat di Bandara Mozes Kilangin Timika. Meski pengap, hati tetap bungah karena tinggal menunggu malam hari untuk berangkat ke Asmat menggunakan speedboat.
ADVERTISEMENT
Betapa naifnya.
Kabar datang tiba-tiba. Gelombang laut di Papua tengah tak bersahabat. Ombak menjulang mencapai enam meter. Secakap apapun Sang Juru Layar, kapal berkapasitas 20 orang hanya akan terpental menerjang badai setinggi itu.
Mau tidak mau, rencana harus diubah menjadi jalur udara. Penerbangan dari Timika ke Agats hanya tersedia tiga kali seminggu, itu pun dengan kapasitas delapan orang. Membeli tiket lewat aplikasi mobile hanya mimpi. Calo kerap jadi jawaban demi perjalanan lebih singkat.
Pilihan lain adalah pesawat carteran berkapasitas 20 orang. Pesawat sewaan ini dikenai harga Rp 40-50 jutaan sekali jalan. Durasi penerbangan hanya memakan waktu 15 menit. Pilihan ini, bagi rombongan besar, jauh lebih logis ketimbang menanti pesawat yang terbang seminggu tiga kali.
ADVERTISEMENT
Ini bukan pelesiran, ini kemanusiaan. Kemanusiaan tak bisa menunggu.
Mencari jalan menuju Kabupaten Asmat. (Foto: Dok Kodam Cendrawasih)
Transportasi memang menjadi kendala tersendiri bagi program penyaluran bantuan ke Asmat. Jalur laut sering terhadang oleh kondisi perairan yang bergejolak. Sementara, jalur udara dihadapkan pada biaya transportasi menjulang.
TNI, yang menurunkan alat angkutnya sendiri seperti helikopter dan pesawat angkut sejak Januari lalu, juga mengalami persoalan serupa.
Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih, Letkol M. Aidi, menuturkan pendistribusian logistik ke wilayah Asmat menyedot banyak sumber daya.
“Tidak bisa setiap hari karena sangat mahal,” ucap Letkol M. Aidi.
Dari pengalaman TNI bertugas di Asmat, persoalan transportasi tak berhenti ketika sudah mencapai daerah yang dituju. Sebab Distrik Agats sebagai ibu kota Asmat adalah kota yang berdiri di atas rawa-rawa.
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
Hampir seluruh wilayah Asmat merupakan rawa. Setiap distrik dihubungkan dengan sungai yang berkelok menyerupai labirin. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam pendistribusian logistik. “Jarak terdekat 1,5 jam, yang terjauh 16 jam. Bahkan kami bisa menginap di jalan,” kata Letkol M. Aidi.
Sementara, menyusuri sungai di Asmat juga bukan perkara mudah. Pengemudi kapal harus mampu memperhitungkan pasang surut air. Belum lagi semak belukar, yang oleh penduduk lokal disebut tebu rawa. Tebu rawa tumbuh menutupi bagian tengah sungai. Laju kapal akan dengan mudah terhambat.
“Kalau ketemu harus dibabat lagi. Turun, nyebur, babat baru bisa lewat. Belum lagi perhitungan pasang surut. Kadang-kadang berangkat airnya pasang, pulangnya surut. Kalau kondisi demikian, kita terdampar di rawa-rawa.”
ADVERTISEMENT
Tapi maju adalah satu-satunya jalan. Sekali lagi, ini bukan pelesiran. Ini kemanusiaan. Dan kemanusiaan tak bisa menunggu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80