kumparan
23 Des 2017 16:19 WIB

Badai Tropis Tembin di Selatan Filipina Tewaskan 133 Orang

Badai Tembin Filipina (Foto: AFP/Josep DEVEZA )
Badai tropis Tembin yang melanda Filipina bagian selatan merenggut banyak korban jiwa. Pada Sabtu (23/12), angka tewas meningkat menjadi 133 orang, dengan belasan orang lain masih hilang.
ADVERTISEMENT
Mindanao, pulau terbesar kedua di Filipina, dilanda Badai Tembin sejak dua hari terakhir. Badai ini memicu banjir bandang dan tanah longsor yang berpotensi menghapus keberadaan desa-desa kecil di pelosok Filipina.
Dalam setahun, Filipina rata-rata dilanda 20 kali badai besar --meski Mindanao tergolong lebih jarang diserang badai-badai tersebut. Akibat badai dan banjir bandang itu, sebanyak 12 ribu dari 20 juta populasi Mindanao telah mengungsi dari tempat tinggalnya.
Polisi melaporkan, 19 dari 133 korban tewas berasal dari Desa Dalama di dekat kota Tubod yang terletak di daerah pegunungan. Sementara itu, 26 korban tewas lain berasal dari daerah-daerah sekitarnya yang berada di Provinsi Lanao del Norte --provinsi yang terkena dampak Badai Tembin terbesar.
ADVERTISEMENT
“Sungai-sungai meluap dan kebanyakan rumah langsung ambruk terseret arus. Desa-desa itu bahkan sudah tidak ada lagi,” ucap Gerry Parami, anggota kepolisian Tubod, seperti dikutip dari Agence France-Presse (AFP).
Badai Tembin Filipina (Foto: AFP/MANMAN DEJETO)
Polisi, tentara, dan para relawan ramai-ramai menggali gundukan lumpur dan reruntuhan di Dalama. Mereka berharap bisa menyelamatkan cukup banyak orang yang hilang di desa dengan jumlah penduduk 2 ribu orang itu.
Di Piagapo, 40 rumah tertimbun tanah setelah longsor menyerang desa yang terletak di kaki pegunungan tersebut. Menurut Saripada Pacasum, petugas keamanan daerah setempat, terdapat setidaknya 10 korban tewas.
“Kami sudah mengirim regu penyelamat, namun batu-batuan membuat kami kesulitan menyelamatkan mereka,” ucap Pacasum.
Badai Tembin Filipina (Foto: AFP/VMANMAN DEJETO )
Banyaknya korban yang jatuh, menurut Wali Kota Sibuco, Norbideiri Edding, kemungkinan dikarenakan warga yang enggan mengungsi.
ADVERTISEMENT
“Kemungkinan mereka tidak mengacuhkan peringatan dari pemerintah daerah tentang risiko banjir dan badai ini,” ucap Edding kepada stasiun radio DZMM sebagaimana dilansir AFP.
“Kami berharap mereka masih hidup,” lanjutnya.
Badai Tembin terjadi hanya dua hari setelah Badai Kai-Tak berakhir Kamis (21/12) lalu. Sementara Badai Kai Tak menewaskan 54 orang dan melukai 24 orang, Badai Tembin diprediksi masih akan menelan puluhan korban jiwa lainnya.
Meski sangat besar, Badai Tembin bukanlah badai tropis paling mematikan yang terjadi di sejarah Filipina. Status badai paling mematikan di Filipina masih dipegang oleh Badai Haiyan pada November 2013 yang menewaskan lebih dari 6 ribu orang.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan