Pencarian populer

Bagaimana Miras Oplosan Membunuh Ratusan Orang di India

Masyarakat India yang tewas akibat miras oplosan. Foto: AFP/Biju Boro

Februari 2019, 150 orang tewas di India akibat menenggak minuman keras oplosan. India tampaknya tidak pernah kapok. Pasalnya, setiap tahun ada ratusan orang yang meninggal dunia akibat miras bernama sulai ini.

Kasus kematian akibat sulai di India terjadi sejak 1981 dengan 308 orang tewas di Bengaluru. Lantas nyaris setiap tahun ratusan jiwa melayang di India setelah miras murahan ini masuk kerongkongan.

Biang keladinya adalah metanol yang terdapat di dalam miras tersebut. Sulai terbuat dari air tebu yang dicampur metanol. Diberitakan Times of India, terkadang sulai ditambah campuran lain seperti daun tembakau kering, isian baterai kering, hingga plastik sandal agar lebih "nendang".

Tidak hanya di India, miras oplosan dengan metanol juga ditemui di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tahun lalu lebih dari 30 orang tewas setelah konsumsi miras dioplos metanol berlabel "ginseng" di Jakarta Selatan.

Di berbagai negara miras metanol ini punya banyak nama. Di Amerika namanya moonshine, di Kenya kumi kumi, di Uganda namanya waragi, di Malaysia disebut tuak tapai, di Rusia bernama Samogon, dan di Ethiopia bernama talla.

Pada 2014, Organisasi Kesehatan Dunia WHO telah mengeluarkan maklumat soal bahaya metanol pada miras. Metanol adalah bahan kimia yang bisa dibeli bebas, biasanya terdapat pada pernis, cairan anti-beku, pembersih kaca, dan bahan bakar mainan pesawat.

WHO mencatat, 225 juta liter metanol digunakan orang di seluruh dunia setiap harinya. Metanol juga ditemukan di minuman jus buah atau minuman alkohol berlisensi. Namun kadarnya sangat sedikit, tidak berpengaruh pada tubuh, tidak mematikan.

Berbeda halnya dengan miras yang dioplos metanol tanpa pengawasan dan kadar tuang. Hasilnya mematikan. Menurut WHO, 30 persen dari korban miras oplosan ini tewas, sisanya mengalami cacat permanen seperti kebutaan.

Warga India yang jadi korban miras oplosan. Foto: REUTERS/Stringer

Cara Metanol Membunuh

Ketika metanol masuk ke sistem pencernaan manusia, maka akan memicu gas formaldehyde, agen pemicu kanker. Formaldehyde kemudian dikonversi tubuh menjadi asam format.

Jika metanol yang dikonsumsi sedikit, maka asam format ini akan keluar dari tubuh dengan sendirinya melalui ekskresi. Namun jika metanol yang masuk berkadar tinggi, maka asam format terakumulasi di jaringan tubuh, menyebabkan penimbunan asam atau asidosis.

Beberapa jam pertama seseorang keracunan metanol mirip gejala mabuk, seperti mengantuk, tidak stabil, lemas. Gejala ini dianggap mabuk biasa, sehingga tidak segera ditangani.

Keadaan berikutnya, dia akan mengalami pusing, muntah-mutah, dan sakit perut hebat lalu vertigo karena penumpukan asam di tubuhnya. Nafasnya kemudian luar biasa cepat atau hiperventilasi, lalu kehabisan nafas dan meninggal dunia.

Masyarakat India yang tewas akibat miras oplosan. Foto: AFP/David Talukdar

Korban dengan tingkat keracunan tinggi akan mengalami gejala lainnya, yaitu kebutaan, koma, kejang-kejang, lalu meninggal dunia akibat berhenti bernafas.

Korban bisa diselamatkan jika segera dilarikan ke rumah sakit. Masalahnya, konsumen sulai biasanya warga berekonomi rendah yang memilih mengobati sendiri penyakitnya sehingga ujungnya fatal. Jika pun selamat, mereka akan mengalami efek samping yang permanen.

"Pasien yang selamat kemungkinan menderita gangguan penglihatan permanen," tulis WHO.

WHO mengimbau masyarakat waspada akan konsumsi miras oplosan. Di antaranya jangan membeli alkohol di tempat tidak berizin, atau hindari membeli miras dengan botol tanpa label atau labelnya rusak.

Namun cara terampuh terhindar dari bahaya konsumsi miras oplosan adalah dengan tidak membelinya sama sekali. Karena seperti kata Rhoma Irama dalam lagunya "Mirasantika": Miras dapat menghancurkan hidupku.

Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53