kumparan
28 Agu 2019 6:17 WIB

Bela Diri Irjen Antam saat Ujian Capim KPK

Antam Novambar saat wawancara dan uji publik capim KPK di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, (27/8). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Irjen Antam Novambar mengklaim ada sejumlah pihak yang gelisah ketika ia memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi Calon Pimpinan (Capim) KPK. Pernyataan itu untuk menjawab cecaran Pansel KPK soal dugaan intimidasi Ambar terhadap penyidik KPK, Endang Tarsa, saat kasus rekening gendut oleh Budi Gunawan (BG) bergulir.
ADVERTISEMENT
"Logika saja, kalau saya salah, orang gila saya masuk ke sana (Capim KPK). Kok, mereka yang gelisah saya masuk sana (Capim KPK). Karena saya enggak merasa salah," jelas Antam menjawab wartawan usai tes wawancara Capim KPK di Kantor Setneg, Jakarta, Selasa (27/8).
Wakil Kepala Bareskrim (Wakabareskrim) Irjen Pol Antam Novambar bersiap mengikuti tes uji kompetensi Seleksi Calon Pimpinan KPK di Pusdiklat Kementerian Sekretaris Negara. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Saat mengikuti sesi terbuka wawancara dan uji publik, Antam memang kembali menyinggung soal kasus BG. Antam menilai penetapan tersangka BG saat itu terkesan dipaksakan.
Pada 2015, BG ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas dugaan transaksi mencurigakan. BG (berstatus eks Komjen) yang kala itu merupakan calon Kapolri kemudian mengajukan praperadilan. Hasilnya, gugatan BG dikabulkan dan kasusnya dilimpahkan ke Kepolisian.
"Saya tahu Pak Budi dizalimi karena saya orang hukum, dipaksakan jadi tersangka. Saya tahu berdasarkan bukti dan fakta yang ada," kata Antam di depan Pansel.
Kepala BIN Budi Gunawan. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Antam juga merespons pertanyaan Pansel soal dugaan intimidasi dan ancaman terhadap Endang Tarsa. Menurut Antam, ia justru yang dihubungi oleh Endang untuk meminta bertemu, menyebut akan membantu kasus BG karena menilai ada yang tak beres dalam kasus tersebut.
ADVERTISEMENT
"Ada adik-adik di sana (KPK) menyampaikan, Pak Endang Tarsa ingin bertemu dengan saya untuk menyampaikan tentang beberapa hal yang menguntungkan di persidangan KPK tentang Pak Budi Gunawan," lanjut Antam.
Versi Antam, ia mengajak dua rekannya untuk menemui Endang. Saat itu, kata Antam, Endang datang bersama anaknya, dan pertemuan berlangsung tanpa tekanan.
"Ada saksinya. Tonton dari awal sampai akhir, jangan diedit. Karena mereka sita itu CCTV-nya. Silakan lihat terakhirnya, berpelukan, kami," ungkap Antam.
Endang Tarsa Foto: Endang Tarsa
Dalam pertemuan itu, Antam mengaku sempat menawarkan Endang untuk menjadi saksi meringankan saat BG mengajukan praperadilan. Endang pun mengiyakan.
Namun, Antam mengaku kaget karena merasa dibohongi oleh Endang yang tak hadir saat persidangan. Apalagi, kata dia, tersebar pengakuan bahwa ada teror dari dirinya terhadap Endang.
ADVERTISEMENT
"Ini saya terangkan saja. Dibohongi saya. Endang Tarsa, [Anda] takut sama Tuhan apa Abraham Samad (eks Ketua KPK)? Takut Abraham Samad. Silakan baca rekamannya. Mereka yang rekam, bukan saya," ucap Antam.
"Empat tahun atau tiga tahun saya bertahan, tidak pernah menjawab. Saya tidak pernah meneror Endang Tarsa. Saya sampaikan, ya, ini kejadian sebenarnya," kata Antam, nadanya meninggi.
Antam menuturkan, kebohongan Endang ini menjadi alasannya untuk mengikuti seleksi Capim KPK. Tujannya, untuk mengubah KPK agar menjadi lebih 'beretika'.
"Ini lembaga penegak hukum (KPK) yang semua orang elu-elukan, tapi orangnya seperti itu. Saya izin masuk. Kita harus ubah etika. Tiga tahun saya dipojokkan terus, ini saatnya," tegas Antam.
ADVERTISEMENT
"Saya ke sana [KPK0 berniat mengubah. Mungkin, zona nyaman ini kalau saya di sana, takutnya ada perubahan. Saya jujur saja. Siapa yang tidak nyaman dengan kewenangan, kehebatan UU KPK sekarang. Yang ada di dalam pasti nyaman. Nah, itu takut yang ada di dalam berubah. Ada beberapa yang ingin saya ubah di KPK," tegas Antam tanpa merinci konkret.
Wakabareskrim, Irjen Antam tinjau situasi di Bawaslu. Foto: Kutfan Darmawan/kumparan
Antam juga menepis tudingan "KPK disusupi Polri" yang bertujuan untuk melemahkan lembaga antirasuah tersebut. Menurutnya, anggapan polisi ingin memperlemah KPK hanya rumor belaka. Bahkan Antam berani berjanji jika terpilih ia tak akan membeda-bedakan tersangka, sekalipun anggota polisi maupun seniornya di Polri.
"Saya orang Sunda. Ada pepatah, 'memancing ikannya dapat, airnya enggak keruh'. Kita tetapkan, tegakkan hukum tanpa bikin kegaduhan. Kalau pejabat, ya, tangkap, enggak usah di koran-koran," jawab Antam.
ADVERTISEMENT
"Hajar," tegasnya.
Endang Arsa menjawab
Kepada kumparan, Endang akhirnya merespons pernyataan BG. Tak banyak klarifikasi yang ia sampaikan, kecuali penegasan soal fitnahan Ambar.
"Alhamdulillah, insyaallah dosa-dosa saya akan berkurang diambil yang memfitnah. Kita serahkan saja kepada Allah SWT, insyaallah, Allah tidak akan pernah salah. Aamiin," ucapnya, Selasa.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan