kumparan
24 Nov 2018 14:08 WIB

Berbagai Penyebab Tingginya Angka Gangguan Jiwa di Yogyakarta

Ilustrasi Gangguan Jiwa (Foto: Commons Wikimedia)
Gangguan jiwa sering tidak disadari oleh penderitanya. Alih-alih melakukan pengobatan, masyarakat justru abai pada gejala gangguan jiwa. Dari data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, hingga Oktober 2018 ini setidaknya ada 6.753 orang yang terindikasi gangguan jiwa.
ADVERTISEMENT
Indikasi ini tidak bisa dianggap sepele, pasalnya jika tidak segera ditangani, gangguan jiwa akan berlanjut ke depresi dan berujung ke sakit jiwa. Dari angka 6.753 jiwa tersebut, 9 persen di antaranya sudah masuk kategori depresi.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Agus Sudrajat kepada kumparan mengatakan bahwa jika diruntut benang merahnya, tingginya angka ganguan jiwa ini panjang. Penyebabnya bisa berbagai faktor dan berlangsung sejak seseorang bahkan masih dalam kandungan.
“Jadi gini ini (kasus tingginya gangguan jiwa) tidak bisa lepas dari benang merah. Waktu dia (ibu) hamil apakah hamilnya diinginkan atau tidak. Karena faktor emosi sudah merawat kehamilan, kalau tidak diingankan bisa jadi lahirnya ada masalah,” beber Agus.
Saat proses persalinan ibu juga rentan mengalami gangguan jiwa lantaran rasa sakit maupun faktor kelahiran yang tidak diinginkan. Menurut Agus apa yang dialami ibu saat mengandung juga akan berpengaruh pada janin yang ada dalam kandungan.
ADVERTISEMENT
“Kedua setelah dia lahir ASI ekslusif harusnya diberikan 6 bulan kalau ini tidak dipenuhi bisa jadi pertumbuhan otaknta tidak sempurna. Bisa juga pertumbuhan kepribadian saat ibu menyusui bayi itu mendapat rasa aman dan nyaman dia dekat dengan degup jantung ibu. Kalau diganti dot, rasa amannya hilang,” katanya.
Faktor penyebab gangguan jiwa juga akan berlanjut di masa remaja. Beberapa tahun ini fenomena klitih di kalangan remaja begitu merajalela. Klitih sendiri bermakna jalan-jalan santai, tapi kini makna tersebut tereduksi ke hal negatif yaitu kenakalan remaja yang mengarah ke kriminal seperti pembacokan yang berakibat hilangnya nyawa seseorang.
Polisi amankan pelajar yang hendak tawuran (Foto: Dok Polres Bogor)
“Rasa aman kurang maka ada fenomena klitih. Klitih itu gangguan jiwa kenapa mereka tidak merasa aman di rumahnya, kumpul dengan sekumpulan mereka di situ dia mendapat aktualisasi diri. Di situ dia akan sangat berani. Kemudian oleh pimpinan kelompoknya kamu (remaja tersebut) mau gabung kalau pernah membacok dan lain sebagainya. Ditambah lagi mohon maaf adanya game-game yang itu mengajarkan kekerasan itu yang dilihat,” bebernya.
ADVERTISEMENT
“Rasa aman hilang dia mendapat aman di kelompoknya dan loyal. Kalau keluar dari kelompoknya sebenarnya dia anak baik-baik,” timpalnya.
Pencarian identitas remaja Yogya tersebut juga seperti remaja yang lain di Indonesia yaitu mencari sensasi dengan merokok. Parahnya, ketika merokok sudah tidak dianggap memuaskan maka bermacam hal aneh akan dilakukan termasuk alkohol maupun ngelem.
“Dan yang agak aneh rebusan pembalut wanita,” cetusnya.
Indikasi gangguan jiwa yang sudah tampak saat remaja akan berlanjut saat seseorang masuk di dunia kerja yang penuh target dan tekanan. Lantas karena keadaan mental yang tidak siap mereka akan jatuh saat masa tersebut. Hal tersebutlah yang membuat tingginya angka ganguan jiwa di usia produktif yaitu 20-45 tahun.
ADVERTISEMENT
“Kalau sudah sakit jiwa ongkos secara ekonomis Rp 1,5-2 juta perbulan. Dia juga akan terganggu kerjaannya akibat efek obat jadi ngantuk,” sebutnya.
Ilustrasi pacaran anak SMA (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Gangguan di Masa Remaja
Pernyataan Agus soal klitih merupakan indikasi gangguan jiwa tampaknya bukan isapan jempol belaka. Pada Juni lalu, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwi Ramadhani Herlangga (26) menjadi korban klitih di Perempatan Mirota Kampus, Jalan C. Simanjuntak, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta pada pukul 02.30 WIB.
Dwi merengang nyawa usai senjata tajam jenis bendo melukai punggung sebelah kirinya dengan kedalaman 8 cm hingga tembus paru-paru. Atas kejadian tersebut, polisi kemudian menangkap 2 pelaku yang salah satunya masih berada di bawah umur masing-masing AYT (19) dan MWD (15).
ADVERTISEMENT
Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Armaini mengatakan bahwa kedua remaja tersebut memang biasa mengonsumsi rokok hingga alkohol. Faktor tersebut ditengarai menjadi penyebab keduanya melakukan tindakan kriminal.
"Dari pengakuan si tersangka pada malam itu tidak dalam keadaan menggunakan minuman beralkohol. Tetapi tersangka mengakui pernah meminum itu, minuman, alkohol, bahkan tato sudah menjadi bagian hidupnya. Tapi pada saat malam kejadian tidak menggunakan (alkohol)," jelasnya beberapa waktu lalu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan