Pencarian populer

Berkunjung ke Masjid Taj Mahal ala Indonesia

Video

Ada yang berbeda dari deretan rumah-rumah di Jalan Danau Sunter Selatan, Jakarta Utara. Bangunan berpelitur putih, menjulang tinggi paling menonjol di antara rumah di kanan kirinya.

Mempunyai sebuah kubah besar dikelilingi tiang-tiang dan dihiasi ornamen khas Arab, bangunan ini tampak seperti Taj Mahal yang termasyhur di India. Namun bangunan di seberang Danau Sunter itu rupanya sebuah masjid yang bernama Masjid Ramlie Musofa.

Pengurus Masjid Ramlie Musofa, Soleh, mengatakan pendiri dari masjid berarsitektur mewah tersebut, H Ramli Rasidin, memang terinspirasi dari Taj Mahal India. Ramli yang merupakan mualaf keturunan Tionghoa asal Aceh ini menilai Taj Mahal memiliki filosofi yang kuat sehingga dinilai tepat sebagai inspirasi bangunan masjidnya.

Masjid Ramlie Musofa. (Foto: Marissa Krestianti/kumparan)

Jika Taj Mahal didirikan atas dasar lambang cinta seorang raja terhadap istrinya, Ramli juga membangunnya sebagai lambang cinta yang lebih luas kepada Sang Pencipta, agama, dan orang-orang terdekatnya.

"Bentuk cintanya beliau kepada Islam, dibuatlah masjid ini dengan bangunan yang luar biasa indahnya, beliau berharap masjid ini sebagai lambang cinta beliau terhadap Allah yang pertama, lambang cinta beliau Islam yang kedua, dan yang ketiga lambang cintanya terhadap keluarga," ujar Soleh, saat ditemui kumparan, di Masjid Ramlie Musofa, Senin (28/5).

Bangunan megah yang didominasi warna putih ini memiliki luas 2 ribu meter persegi dan terdiri dari tiga lantai. Masjid ini dibangun tahun 2011 namun baru diresmikan tahun 2016 oleh Ramli.

Masjid Ramlie Musofa. (Foto: Marissa Krestianti/kumparan)

Nama Ramlie Musofa diambil dari penggalan nama setiap anggota keluarganya. Ram dari nama H. Ramli Rasidin. Kemudian Lie merupakan nama istrinya Lie Njoek Kim. Mu dari Muhammad anak pertama. So dari kata Sofyan anak kedua. Dan Fa diambil dari anak ketiga Fabian.

Tidak hanya memiliki arsitektur yang menyerupai Taj Mahal, Masjid Ramlie Musofa mempunyai ciri khas pada kaligrafinya. Kaligrafi Al-Quran di masjid ini dipahat dengan memadukan tiga bahasa yang ditampilkan di dinding masjid, yakni bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Mandarin.

Dipilihnya bahasa Mandarin dalam desain kaligrafinya karena Ramli ingin menunjukan bahwa masjid tersebut didirikan oleh keturunan Tionghoa. Soleh juga menyebut kaligrafi Al-Quran berbahasa Mandarin juga ditunjukkan pada masyarakat asal China maupun keturunan China agar dapat memahami kemuliaan isi Al-Quran.

"Karena beliau mualaf dan memiliki keturunan Tionghoa, jadi beliau juga ingin masyarakat asal China paham dengan ajaran Islam yang mengajarkan kedamaian, dan selalu mengajarkan kebaikan untuk semua umat," jelas Soleh.

Setiap harinya masjid ini selalu dipenuhi oleh masyarkat untuk salat, beristirahat, hingga kunjungan wisata karena tertarik pada arsitektur bangunan masjid Ramlie Musofa.

"Kita terbuka untuk umum, siapapun boleh datang, biasanya mereka sehabis salat langsung berfoto-foto," pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57