kumparan
16 Sep 2019 14:55 WIB

BJ Habibie dan Cerita Lengsernya Soeharto

Soeharto turun. Foto: Wikimedia Commons
Tak ada ungkapan duka ataupun karangan bunga dari Keluarga Cendana yang mampir ke kediaman Presiden ke-3 RI BJ Habibie yang meninggal pada Rabu (11/9). Mereka juga tak terlihat melayat atau hadir di pemakaman.
ADVERTISEMENT
Sekretaris Pribadi BJ Habibie, Rubijanto, memberikan penjelasan soal ketidakhadiran keluarga Cendana. Rubijanto mengatakan keluarga Cendana kerap diundang jika ada acara besar yang diselenggarakan oleh keluarga Habibie.
"Setiap acara besar, acara ulang tahun, acara buka puasa kita selalu undang," kata Rubijanto seusai tahlilan, Kamis (12/9) malam.
Dia mencoba berprasangka baik kepada keluarga Presiden RI Ke-2 Soeharto itu. Dia menduga mereka sedang sibuk sehingga tak menyempatkan hadir.
"Enggak ada (ungkapan duka). Mungkin mereka sibuk, sedang ke luar kota saya tidak tahu," ujarnya.
Spekulasi berkembang. Faktor sejarah di antara Habibie dan Soeharto yang disebut-sebut menjadi penyebabnya.
Ada beberapa pandangan. Hubungan kedua pihak tak terlalu baik karena BJ Habibie menyatakan siap menggantikan Soeharto yang didesak mundur 21 Mei 1998 hingga pengusutan kasus dugaan korupsi.
ADVERTISEMENT
Soal yang pertama dibahas tuntas dalam beberapa buku. Ada beberapa versi yang berupaya mendudukkan perkara sebenarnya.
Dalam buku ‘Sidang Kabinet Terakhir Orde: 12 Jam Sebelum Soeharto Mundur’ karya Makmur Makka, dijelaskan secara gamblang siapa-siapa saja yang menghendaki jatuhnya Soeharto.
Buku Sidang Kabinet Terakhir Orde Baru. Foto: Dok. Istimewa
Inti dari buku ini adalah pertimbangan Soeharto ketika tiba-tiba pada tanggal 21 Mei 1998 memutuskan mengundurkan diri. Keputusan itu dianggap sangat mendadak, karena sebelumnya ia telah menyampaikan bahwa akan mengundurkan diri pada hari Kamis, 24 Mei 1998.
Dijelaskan Makka, ada desakan dari mana-mana yang membuat akhirnya Soeharto mundur lebih cepat. Yang terlihat di permukaan adalah soal aksi massa di banyak tempat.
Kericuhan demonstrasi hingga pendudukan gedung DPR/MPR menjadi sesuatu yang dipertimbangkan Soeharto. Lebih dari itu, ada tekanan-tekanan dari internal yang membulatkan keputusan Soeharto lengser sebelum waktu yang ia rencanakan.
ADVERTISEMENT
Dalam buku ini, Makka menceritakan jam per jam, sebelum Soeharto pidato.
Di bagian awal buku ini menjelaskan soal krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998. Krisis ini dianggap telah merusak sendi-sendi ekonomi nasional yang kemudian memberikan pengaruh kepada sektor kehidupan lainnya secara luas.
Dampak krisis yang terjadi menimbulkan kecemasan pada masyarakat yang kemudian ditunjukkan melalui unjuk rasa, terutama dimotori oleh mahasiswa. Mereka menuntut diadakan reformasi secara total, pengunduran diri Presiden Soeharto, serta dilaksanakannya Sidang Istimewa MPR.
Namun sejalan dengan itu Presiden Soeharto mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengundurkan diri, kecuali apabila rakyat Indonesia tidak mempercayainya lagi maka ia akan pensiun. Sehingga ia menanggapi tuntutan reformasi tersebut dengan melakukan reshuffle kabinet untuk memperbaiki kinerja pemerintahan.
ADVERTISEMENT
Makka menulis, para cendekiawan dan akademisi yang semula diam-diam mulai muncul secara terbuka mendukung mahasiswa, begitu juga para pemimpin oposisi seperti Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais. Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi telah menduduki gedung DPR menuntut reformasi dan mendesak agar Presiden Soeharto mundur.
Penyerahan Kekuasaan Soeharto Habibie Foto: Repro: Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia's Second President
Soeharto bersikukuh mengatakan Sidang Umum MPR akan dilaksanakan pada tahun 2000, lalu pemilu untuk memilih presiden dan wapres baru. Soeharto menegaskan bahwa dirinya tidak akan bersedia lagi untuk dicalonkan sebagai presiden. Namun, masyarakat sudah terlanjur tidak percaya lagi padanya. Mereka tetap menginginkan Soeharto lengser dari jabatannya sekarang juga.
Soeharto menyatakan bahwa alternatif untuk mengundurkan diri sekarang tidak akan menyelesaikan persoalan karena pengganti yang sesuai dengan konstitusi, yaitu wapres, masih diragukan mampu melanjutkan pemerintahan karena bukan tidak mungkin ia pun akan didemo para demonstran.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, ia mengambil kebijaksanaan yang tepat untuk meneruskan pemerintahan sampai selesai. Namun, apa yang diharapkan Presiden Soeharto tidak sejalan dengan kenyataannya. Di luar dugaannya, sebanyak empat belas menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin menyatakan tidak bersedia menjadi menteri lagi dalam kabinet yang akan direshuffle.
Makka menulis, di alinea pertama surat itu secara tegas ada desakan agar Presiden mundur. Ada keinginan dari mereka untuk menyampaikan langsung cara lisan kepada Presiden, tetapi akhirnya dibuatlah surat dan dikirim ke Cendana.
Surat dibuat tersebut pun menimbulkan kontroversi tersendiri. Rapat penandatanganan surat tersebut berlangsung di Bappenas pada 20 Mei 1998 yang dipimpin Ginandjar Kartasasmita selaku Menko bidang Ekuin.
Setelah mengirimkan surat tersebut melalui Kabiro dari Bappenas, Ginandjar pun menelepon Wapres BJ Habibie. Habibie mengatakan agar suratnya ditahan terlebih dahulu, namun surat terlanjur dikirim.
ADVERTISEMENT
Alhasil, ada desas-desus yang mengatakan bahwa surat tersebut merupakan rekayasaan dari Habibie. Namun Ginandjar dengan tegas menentang isu tersebut. Ia mengatakan, bukan Pak Habibie yang merekayasa surat tersebut, kedua, Pak Habibie yang mencegah melakukan tindakan itu, dan ketiga Pak Habibie meminta agar surat itu dicabut.
Namun apa mau dikata. Secara mengejutkan, setelah membaca surat tersebut, terujar kata “Saya berhenti” dari mulut Pak Soeharto. Kemudian Habibie hal tersebut dikabarkan kepada Habibie yang saat itu sedang mengadakan rapat Ad-Hoc di kediamannya bersama para menteri.
"Di sini saya tafsirkan bahwa surat tersebut merupakan salah satu penyebab lebih cepat turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan," tulis Makmur Makka.
Soeharto merasa para tidak ada lagi para menteri yang selama ini berada di belakang untuk mendukungnya. Selain itu Soeharto juga mungkin merasa bahwa Ginandjar Kartasasmita yang selama ini menjadi orang kepercayaannya kini telah mengkhianatinya.
ADVERTISEMENT
Lebih dari itu, kepercayaan rakyat kepadanya telah hilang. Padahal Soeharto bermaksud untuk menyelesaikan tanggung jawabnya terlebih dahulu dan tidak akan mencalonkan diri pada pemilihan berikutnya.
Soeharto merasa berat dengan meninggalkan kursi kepresidenan dengan beban dan masalah yang masih belum terselesaikan tersebut. Namun ia akhirnya terdesak dan harus mundur dengan digantikan oleh BJ Habibie.
Mantan Presiden Indonesia BJ Habibie (Tengah) berbicara kepada para wartawan setelah mengunjungi mantan presiden Soeharto di Rumah Sakit Pertamina di Jakarta, 15 Januari 2008. Foto: AFP/AHMAD ZAMRONI

Cerita versi lainnya

Tulisan bagian ini sepenuhnya mengutip tulisan dari Historia berjudul ‘Kekecewaan Soeharto pada Habibie’.
21 Mei 1998, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran diri di Istana Merdeka, Jakarta. Dia digantikan wakilnya, BJ Habibie, yang saat itu juga diambil sumpah sebagai presiden. Inilah pertemuan terakhir mereka.
Habibie kemudian sempat berbicara melalui telepon pada 9 Juni 1998, sehari setelah Soeharto ulang tahun ke-77. Selain mengucapkan selamat hari jadi, Habibie juga minta bertemu, namun Soeharto menolaknya.
ADVERTISEMENT
“Tidak menguntungkan bagi keadaan sekarang, jikalau saya bertemu dengan Habibie. Laksanakan tugasmu dengan baik, saya hanya dapat melaksanakan tugas sampai di sini saja. Saya sudah tua,” kata Soeharto.
Sejak itu, Soeharto tak pernah mau bertemu dengan Habibie.
“Sampai saat berakhirnya tugas saya sebagai presiden, walaupun saya selalu berusaha lewat berbagai jalur, saya tidak pernah berhasil bersilaturahim dengan Pak Harto, baik lewat telepon, apalagi bertemu langsung,” kata Habibie dalam Detik-detik yang Menentukan.
Habibie menilai sikap Soeharto itu misterius. “Saya yakin Pak Harto mempunyai alasan tersendiri, dan mungkin beranggapan sebaiknya saya tidak mengetahuinya. Saya ikhlas kalau memang begitu kehendak Pak Harto…Dan sejarah jualah nanti yang akan mengungkap teka-teki kemisteriusan ini,” kata Habibie.
ADVERTISEMENT
Pada 2010, Probosutedjo, adik Soeharto, menerbitkan memoarnya, Saya dan Mas Harto, karya Alberthiene Endah. Di dalamnya, dia mengungkap alasan mengapa Soeharto tidak mau bertemu dengan Habibie.
Menurut Probosutedjo, pada malam 19 Mei, Habibie bertemu Soeharto membicarakan perkembangan situasi yang sedang terjadi. Dia menyatakan tidak sanggup menjadi presiden jika Soeharto mundur. Namun, setelah 14 menteri mengundurkan diri pada malam 20 Mei, Habibie menyatakan sanggup menjadi pengganti Soeharto.
“Mas Harto sangat terkejut…Ini membuat kakak saya menjadi sangat kecewa. Hari itu juga dia memutuskan untuk tidak menegur atau berbicara dengan Habibie. Kabarnya, malam itu Habibie menghubungi Mas Harto lewat telepon, tapi Mas Harto enggan bicara,” kata Probosutedjo.
Kekecewaan kedua Soeharto kepada Habibie adalah menyangkut keputusan Habibie memberikan referendum kepada Timor Timur yang akhirnya lepas dari Indonesia. “Mas Harto benar-benar terkejut. Dia duduk tegang dengan wajah kaku. Sorot matanya menunjukkan kemarahan yang amat sangat,” kata Probosutedjo.
ADVERTISEMENT
Probosutedjo ingat perkataan Soeharto: “Bagaimana dia bisa memutuskan ini! Dia tahu pengorbanan Indonesia yang sangat besar untuk Timor Timur!”
“Keputusan Habibie pada Timor Timur semakin memperlebar jarak antara Mas Harto dan Habibie,” kata Probosutedjo.
Kekecewaan ketiga adalah Habibie menyetujui pengusutan kasus korupsi yang dilakukan Soeharto selama berkuasa. Setelah berkonsultasi dengan para pakar hukum, Habibie memutuskan “demi tegaknya hukum dan keadilan, siapa pun yang bersalah harus dikatakan bersalah, dan siapa pun yang benar harus dikatakan benar.”
Perintah mengusut mantan Presiden Soeharto ditetapkan dalam Ketetapan MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
“Baginya itu adalah sebuah penghinaan besar," kata Probosutedjo. "Pengadilan terhadap Mas Harto terus dilakukan, dan Habibie membiarkan itu terjadi."
ADVERTISEMENT
Soeharto satu kali dimintai keterangan oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Sejumlah saksi juga telah diperiksa. Namun, Soeharto terkena stroke dan dirawat di RS Pertamina.
Ketika Habibie akan menjenguk Soeharto, Tim Dokter Kepresidenan melarangnya.
“Menurut mereka ada dua kemungkinan jika saya menjenguknya, yaitu Pak Harto senang atau marah, dan keduanya akan mengakibatkan gejolak emosi yang dapat meningkatkan pendarahan otak yang berakibat fatal,” kata Habibie.
Setelah menerima laporan dari Kejaksaan Agung dan Tim Dokter Kepresidenan, Habibie mengajukan agar kasus Soeharto dideponir (ditutup dan tidak dapat dibuka lagi).
“Permintaan saya didiskusikan secara luas, profesional, dan mendalam,” kata Habibie. “Hasilnya adalah semua berkesimpulan agar masalah Pak Harto diselesaikan dengan mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan atau SP3 oleh Jaksa Agung.”
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan