kumparan
14 Jan 2019 19:10 WIB

BNPB Usul Alat Deteksi Bencana Jadi Objek Vital Nasional, Dijaga TNI

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo meninjau lokasi terdampak tanah longsor di Kampung Cimapag, Kabupaten Sukabumi, Jumat (11/1). (Foto: Fachrul irwinsyah/kumparan)
Banyaknya korban jiwa akibat tsunami yang melanda Selat Sunda salah satunya diakibatkan oleh sistem deteksi dini tsunami yang dinilai tidak berfungsi maksimal. Dalam rapat terbatas (ratas) soal Peningkatan Kesiagaan Menghadapi Bencana, Presiden Jokowi sempat menyinggung hal itu.
ADVERTISEMENT
Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, dirinya sudah mengusulkan ke Jokowi agar alat-alat vital seperti pendeteksi tsunami bisa dijaga oleh unsur TNI.
"Tadi saya laporkan ke Bapak Presiden bahwa kalau boleh alat-alat deteksi ini dianggap sebagai objek vital nasional dan harus diamankan oleh unsur TNI," kata Doni Monardo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (14/1).
"Karena kalau alat ini tidak berfungsi maka mata dan telinga masyarakat yang ada di kawasan pesisir pantai itu tidak mendapatkan informasi," lanjut dia.
Diharapkan dengan adanya penjagaan dari TNI, maka saat tsunami menerjang korbannya tidak akan banyak. Doni kemudian menjelaskan dalam ratas, Jokowi minta manajemen kesiapan bencana harus dioptimalkan.
Kepala BNPB, Doni Monardo beserta staff saat meninjau lokasi terdampak tsunami Selat Sunda di Tanjung Lesung. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
"Disusun secara detail terinci sehingga BNPB sudah mencoba untuk merumuskan sebuah program terkait dengan masalah gelar alat deteksi dini terutama yang berhubungan dengan tsunami dan patahan lempeng," ucap Doni.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Jokowi ingin agar tanda-tanda peringatan bencana dipasang di seluruh kawasan yang rawan. Karena ada dua tempat yang rawan terhadap bencana.
"Pertama adalah dari Selat Sunda. Mulai dari Selat Sunda sampai kawasan bagian timur selatan dari Pulau Jawa. Kemudian yang kedua, adalah kawasan yang ada di bagian barat Pulau Sumatera," bebernya.
Termasuk juga sejumlah patahan yang ada di Pulau Jawa yang penduduknya sangat padat. Mantan Danjen Kopassus ini lalu mengungkapkan, pagi tadi sebelum ratas sudah membicarakan mengenai ini bersama sejumlah lembaga terkait.
"Kami juga tadi pagi sudah mengundang sejumlah lembaga yang berhubungan dengan penyiapan early warning system. Kenapa sekarang ini banyak alat-alat itu tidak berfungsi. Karena sebagian hilang," tutur Doni.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan