Pencarian populer

Bom Hidrogen Korut Lebih Dahsyat dari Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki

Kim Jong Un dan senjata nuklir Korea Utara (Foto: North Korea's Korean Central News Agency (KCNA)/Reuters)

Anything that can go wrong will go wrong.

- Murphy's Law

Korea Utara kembali memamerkan perkembangan kekuatan militernya. Setelah Selasa (28/8) lalu meluncurkan rudal Hwasong-12 (sebuah rudal balistik jarak menengah yang bisa mencapai jarak jangkauan 3.000 kilometer) ke atas langit pulau Hokkaido, Jepang, hari ini Minggu (3/9) Korut ganti melakukan uji coba peledakan bom hidrogen yang jauh lebih kuat ketimbang bom atom biasa.

Ledakan dari bom hidrogen tersebut sedemikian kuatnya hingga radar U.S. Geological Survey (USGS) merekam gempa dengan kekuatan 6,3 magnitudo tercipta karenanya.

Hanya beberapa jam setelahnya, Korut mengakui bahwa gempa tersebut berasal dari uji coba bom hidrogen mereka, menyebutnya sebagai “keberhasilan yang sempurna” dan langkah yang amat berarti dalam perkembangan proyek senjata nuklir mereka.

Kekuatan ledak bom hidrogen Korut itu memang amat besar, yaitu mencapai 60 kiloton, jauh lebih besar ketimbang bom atom yang pernah dijatuhkan Amerika Serikat di kota Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II..

Kekuatan bom atom “Little Boy” yang dilepaskan Amerika Serikat ke Hiroshima sebesar 15 kiloton, sementara bom atom “Fat Man” ke Nagasaki 20 kiloton.

Lebih jauh, Korut juga mengklaim bom hidrogennya itu bisa dimasukkan ke dalam rudal balistik antar benua mereka. Klaim ini membuat ancaman bom hidrogen berkekuatan besar tersebut secara efektif juga dirasakan Amerika Serikat, mengingat jangkauan rudal balistik antarbenua bisa mencapai 5.500 kilometer.

Gempa akibat uji coba nuklir Korut (Foto: usgs.gov)

Rentetan Gempa Akibat Bom Nuklir Korut

Ini bukanlah kali pertama Korut menggelar uji coba peledakan bom hidrogen. Sebelumnya, pada Januari 2016, Korut juga melakukan uji coba peledakan sebuah bom hidrogen yang menghasilkan gempa sebesar 5,1 magnitudo. Berdasarkan data yang dikeluarkan AFP, besaran ledakan tersebut merupakan yang ketiga tertinggi sepanjang Korut melakukan uji coba peledakan bom nuklir.

Sejak tahun 2009, Korut telah enam kali menggelar uji coba peledakan bom nuklir. Dua di antaranya merupakan bom hidrogen, yaitu pada Januari 2016 dan September 2017. Sementara itu, uji coba ledakan yang dilakukan pada 2006, 2009, 2013, dan September 2016 hanyalah bom atom biasa.

Infografis gempa akibat uji coba bom nuklir Korut (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Beda Bom Atom dan Bom Hidrogen

Teknologi bom hidrogen membuatnya jauh lebih kuat ketimbang bom atom. Sementara bom atom hanya bergantung pada teknologi “fission” atau pembelahan nukleus (inti) atom, bom hidrogen punya kekuatan lebih besar karena teknologi termonuklir. Sederhananya, beda keduanya dimulai dari level atom.

Bom atom bekerja dengan membelah nukleus sebuah atom. Ketika neutron --partikel netral atom-- dari inti atom terbelah, beberapa pecahannya akan menabrak inti atom-atom terdekatnya. Ini membuat inti atom terdekat juga terbelah, dan memulai rantai pembelahan inti-inti atom selanjutnya. Hasilnya: ledakan yang sangat keras, seperti 15 kiloton di Hiroshima dan 15 kiloton di Nagasaki.

Nagasaki sebelum dan sesudah dibom. (Foto: perpusnas.go.id)

Sementara itu, bom termonuklir pertama yang diuji coba oleh Amerika Serikat pada November 1952 menghasilkan ledakan 10.000 kiloton, seribu kali kekuatan bom Hiroshima.

Proses bom hidrogen sama dengan reaksi pembelahan yang sama dengan di bom atom. Namun demikian, bedanya di bom atom, kebanyakan uranium dan plutonium yang ada di bom tersebut terbuang dan tidak digunakan. Di bom hidrogen, ada langkah tambahan yang membuat dua kandungan itu lebih efektif digunakan.

Langkah pertama adalah dengan membuat ledakan kecil yang menekan ruang atom plutonium-239 dan kemudian membelahnya. Bedanya, ruang tempat plutonium-239 diletakkan diisi penuh oleh gas hidrogen. Ledakan awal membuat temperatur ruang tersebut naik tinggi dan membuat atom hidrogen melebur.

Peleburan ini membuat hidrogen melepaskan neutron-netronnya, yang pada gilirannya kembali menabrak nukleus plutonium-239 lainnya. Rangkaian pembelahan ini menghasilkan lebih banyak atom terbelah dan konsumsi plutonium/uranium lebih efektif dan menghasilkan lebih banyak kekuatan ledak.

Rudal Korut (Foto: Reuters/Jason Lee)

Dengan rangkaian keberhasilan Korut meluncurkan rudal balistik dan kemampuan mereka membuat bom nuklir sekecil mungkin untuk muat menjadi hulu ledak nuklirnya, dunia jelas tak bisa meremehkan ancaman Korut lagi.

Meski memang tergolong kecil untuk ukuran bom hidrogen lainnya (bom hidrogen terbesar Rusia berkekuatan 50 megaton, bom hidrogen terbesar AS berkekuatan 25 megaton), perkembangan pesat dan semakin agresifnya Korut dalam beberapa tahun terakhir ini membuat kita harus berpikir lagi dan berharap, semoga Hukum Murphy yang masyhur itu tak akan jadi kenyataan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.38