kumparan
12 Sep 2019 3:07 WIB

Capim KPK I Nyoman Wara Cerita Pernah Diteror saat Menjalankan Audit

Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), I Nyoman Wara saat melakukan tes pembuatan makalah di Komisi III DPR RI, Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (9/9). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Capim KPK yang juga auditor BPK I Nyoman Wara menceritakan pengalamannya pernah mendapatkan teror ketika menjalankan pekerjaanya. Namun, ia mengaku teror itu tidak membuatnya takut dan membuktikan kesiapannya menjadi pimpinan KPK.
ADVERTISEMENT
"Risiko tentu ada, kami juga pernah memeriksa sebuah pelabuhan, kami kena teror, kami dibawakan linggis dan sebagainya. Itu biasa bagi kami di auditor. Auditor rezekinya mungkin kena teror atau tidak banyak yang suka, tapi kita tidak boleh cengeng," kata Nyoman saat fit and proper test di ruangan Komisi III DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (11/9).
Suasana saat sepuluh calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan tes pembuatan makalah di Komisi III DPR RI, Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (9/9). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Nyoman menuturkan, pengalaman saat menangani audit maupun menjadi ahli dalam persidangan berbagai kasus korupsi di KPK, Kejaksaan dan Kepolisian, membuatnya termotivasi ingin menjadi garda terdepan dalam penegakan korupsi.
"Kami berpikir barangkali kami akan bisa efektif jika bukan hanya membantu, tetapi juga langsung terjun didalam proses penegakan hukum di KPK dengan pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki," ucapnya.
ADVERTISEMENT
Ia menyampaikan mempunyai tiga strategi dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Ketiganya yaitu edukasi, pembangunan sistem, dan tindakan represif.
"Saya melihat bagaimana KPK menerapkan trilogi pemberantasan korupsi. Edukasi, pembangunan sistem, dan represif," ujarnya.
Suasana saat sepuluh calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan tes pembuatan makalah di Komisi III DPR RI, Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (9/9). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Edukasi mengedepankan pada kesadaran untuk tidak melakukan korupsi. Edukasi menurut Nyoman, efektif dalam pendekatan spiritual.
Sementara pembangunan sistem yaitu mengenai reformasi birokrasi yang perlu dikawal dan dioptimalkan oleh KPK. "Represif dilakukan jika keduanya tidak berhasil," ucapnya.
Selain itu, Nyoman menjelaskan dirinya bukan lah merupakan calon titipan pihak manapun.
"Kemudian capim titipan, saya sendiri daftar dengan kemauan sendiri dengan motivasi karena saya selama ini sudah bantu KPK, polisi, kejaksaan dalam pemberantasan korupsi, tentu saya ingin mungkin di KPK bisa lebih efektif membantu pemerintah dalam pemberantasan korupsi," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·