Pencarian populer

Cerita Anggota Marinir 10 Menit Dialog Lalu Massa di Slipi Bubar

Dua prajurit Korps Marinir TNI AL saling mengoleskan pasta gigi ke wajah sebelum mendatangi massa aksi 22 Mei. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, mendadak dipenuhi massa. Api membakar belasan mobil di depan asrama Brimob. Hal serupa juga terjadi di sekitaran flyover Kemanggisan, Slipi, Jakarta Barat. Massa melempari polisi dengan batu hingga petasan.

Kerusuhan berlangsung sejak Rabu (22/5) dini hari hingga malam hari. Sepanjang aksi, polisi sudah berupaya meminta massa untuk bubar.

Aksinya, anggota TNI diturunkan ke lokasi. Mereka datang untuk berdialog dengan warga. Anggota TNI dari Marinir TNI AL dan Kodam III/Siliwangi TNI AD ditempatkan di Slipi untuk berdialog dengan warga.

Puncaknya, kericuhan terjadi di Jalan Brigjen Katamso, Slipi, Jakarta Barat. Massa lagi-lagi melempari polisi dengan batu, petasan, hingga bom molotov. Kekacauan sempat terhenti sejenak. Anggota TNI lalu mendekati massa untuk berdialog.

Personel TNI diterjunkan di kawasan Petamburan, Jakarta Barat. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

Dialog dilakukan oleh Komandan Batalyon Infanteri 7 Marinir, Letkol (Mar) Kanang Budi Raharjo. Dia bersama empat anggota lainnya sempat bertemu dengan tokoh agama setempat, melakukan berdialog.

Letkol Kanang mendatangi salah seorang perwakilan massa untuk berdiskusi. Dia menilai, tidak ada tujuan jelas massa dalam melakukan aksi sehingga banyak alasan untuk menghentikan aksi ricuh ini.

"Saya tidak melihat ada suatu urgensi yang harus dibela massa. Maka saya ajak mereka berbicara," kata Letkol Kanang, seperti dikutip dari instagram resmi Puspen TNI, @puspenTNI, Kamis (23/5).

Loading Instagram...

Letkol Kanang mendengar keluhan warga. Massa merasa kurang bisa menerima cara petugas membubarkan mereka. Massa juga ingin berdialog.

"Justru mereka ingin dialog dan cara-cara persuasif didahulukan," tambah dia.

Anggota TNI sedang berdialog dengan massa demonstran. Foto: Ricad Saka/kumparan

Saat itu, Letkol Kanang tidak melihat ada senjata tajam atau senjata api yang dibawa oleh massa. Setelah terus diyakinkan, massa akhirnya bersedia untuk membubarkan diri.

"Ya sekitar 10 menit, saya cuma berlima enggak bawa apa-apa, tangan kosong. Saya ketemu kalau dibilang ya koordinator ya. Lalu ditemani oleh tokoh masyarakat, akhirnya mereka mau membubarkan diri," tutur dia.

Kapuspen TNI Mayjen Sisriadi membenarkan adanya upaya dari anggota TNI untuk turut membubarkan massa dengan cara berdialog. "Iya, ini upaya kami berdialog dengan warga," ucap dia, Kamis (23/5).

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31