Pencarian populer

Cerita Ketua KPU Sering Dapat Hujatan di Pemilu 2019: Jadikan Koreksi

Ketua KPU, Arief Budiman. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Ketua KPU Arief Budiman secara terbuka menceritakan situasi yang dialaminya mulai dari tahapan rekapitulasi penghitungan suara nasional Pemilu 2019 hingga tahapan gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK).

Selama itu, Arief mengaku sering mendapatkan hujatan. Bahkan mendapatkan banyak ancaman dari orang tak dikenal dibandingkan saat Pemilu 2014. Menurutnya, banyaknya ancaman ini dikarenakan perkembangan teknologi yang sudah semakin maju.

"Menurut saya sih sama ya, kualitas dan tekanannya sama, cuma kan lebih masif di media sosial. Mungkin ribuan ada yang keberatan, mencaci maki, dan mengolok-olok walaupun ada juga yang mem-back up, menyanjung dan berterima kasih," jelas Arief di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (12/6).

"Tapi buat saya, semua itu saya perlakukan sama saja, terhadap olok-olok, caci maki, saya menjadikan hal itu sebagai koreksi diri saya. Jangan-jangan ada yang salah. Tetapi untuk yang menyanjung, biasa saja itu justru membuat saya harus lebih waspada," imbuhnya.

Ketua KPU Arief Budiman (kiri) saat menyerahkan berkas KPU di Mahkamah Konstitusi, Rabu (12/6). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Bagi Arief, semua hujatan dan ancaman yang ditujukan kepadanya maupun keluarganya tidak akan mempengaruhi kinerjanya di KPU. Selama hal itu tidak mengganggu secara fisik.

"Saya pikir semua saling menghargai saling menghormati tidak mengganggu secara fisik mereka tidak mengganggu kita kalau komentar pendapat di medsos itu biasa aja semua orang harus bisa bersikap itu. Tidak terbuai dengan sanjungan, ucapan selamat, dukungan, biasa saja, saya tidak menyikapi dua sisi itu secara berlebihan," terang Arief.

Arief mengungkapkan dirinya bersama seluruh Komisioner KPU mendapatkan pengawalan dan pengamanan ketat dari pihak kepolisian. Hal ini dilakukan demi keamanan. Bahkan, beberapa anggota keluarga turut mendapat pengamanan dari polisi.

"Soal strategi pengamanannya mau menerjunkan berapa banyak orang mau membawa peralatan apa, ditempatkan di mana itu saya percayakan sepenuhnya kepada aparat keamanan karena mereka yang tahu dan ahli soal strategi pengamanan jadi pokoknya saya nyaman saja mau kerja pagi-siang-malam nyaman saja saya bersama anggota KPU biasa aja mau datang pagi-siang sore malam ke kantor nyaman aja," ucap Arief.

Sejumlah polisi di depan Gedung KPU, Jakarta, Rabu (22/5). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Meski dikawal ketat kepolisian, namun Arief menegaskan tidak pernah merasa mempunyai musuh selama Pemilu 2019. Menurutnya, seluruh pihak yang ditemui selama Pemilu 2019 merupakan kerabat dekatnya.

"Saya biasa aja ya ada yang ikut dengan kita, tapi bagi saya biasa aja, bagi saya semua adalah kawan saya gitu mau penyelenggara pemilu, mau peserta pemilu mau pemilih atau siapapun teman-teman media, saya tidak pernah merasa ada musuh saya gitu loh," beber Arief.

"Karena semua sahabat saya kawan saya jadi saya nyantai-nyantai saja mau pergi kemana sendiri juga gak apa mau pergi kemana-mana pakai motor juga biasa saya," lanjutnya.

Selain itu, Arief juga mengaku keluarganya yang ada di rumah tidak mempermasalahkan pengamanan yang diberikan kepolisian. Bahkan termasuk dengan segala jenis ancaman dan hujatan yang disampaikan oleh pihak-pihak tertentu.

"Keluarga saya sudah terbiasa kadang dia ikut merespons kadang dia diam saja. Sampai saat ini aman-aman saja," ujar Arief.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32