kumparan
24 Mei 2019 16:54 WIB

Cerita Saksi: Harun Alami Luka Tembak Bahu Kanan Saat Kerusuhan 22 Mei

Suasana pemakaman Harun, korban kerusuhan 22 Mei. Foto: Andesta Herli/kumparan
Harun (15), turut menjadi korban tewas dalam kerusuhan pada Rabu (22/5) di Slipi, Jakarta Barat. Keluarga syok karena tak tahu Harun datang ke lokasi kerusuhan yang pecah antara polisi dan massa.
ADVERTISEMENT
Rekan Harun, Rijal Sumanto (15), yang turut bersama Harun saat tragedi itu terjadi, menyebut sahabatnya itu tewas karena luka tembak pada Rabu (22/5) sekitar pukul 20.00 WIB.
Menurut Rijal, Harun berada flyover Slipi sejak siang. Sementara dia baru malam hari berada di lokasi. Saat itulah dia melihat Harun rubuh kena tembak.
"Harun maju di depan, saya di belakang. Enggak terlalu mendekati Harun sih," ucap Rijal kepada kumparan, usai pemakaman jenazah Harun, di TPU Kepa Duri, Jakbar, Jumat (24/5).
Video
"Pas dia kena tembak dia sudah lemas, cuma mungkin pas jatuh itu dipukulin," imbuhnya tak mengetahui siapa yang menembak dan memukuli Harun.
Melihat kejadian itu, Rijal sudah lari dan tak sempat menyelamatkan Harun. "(Luka tembak) bahu sebelah kanan," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Soal alasan ikut aksi, Rijal mengaku karena alasan Pilpres, meski dia belum punya hak pilih."Nyari keadilan doang sih, biar adil aja," tuturnya.
"Jadi dalam pemilu itu sebenarnya yang menang kan Prabowo, tetapi yang menang Jokowi. Ya mau nyari keadilan aja," kata Rijal.
Jenazah harun tiba di rumah orangtuanya di Duri Kepa, Kebon Jeruk. Foto: Andesta Herli wijaya/kumparan
Kesaksian Angga
Rekan Harun lain yang juga ada di lokasi kejadian, Angga, menceritakan lebih detail. Angga bersama dengan Harun sejak siang sampai malam peristiwa nahas itu terjadi.
Menurutnya, Harun sebetulnya sudah terluka karena terkena gas air mata pada siang hari. Namun, malam hari ke lokasi lagi dan tertembak.
"Awalnya waktu siang dia kena pahanya sama (selongsong) gas air mata pas di fly over Slipi. Saya tarik harus masih pincang, saya beliin air ke warteg abis itu ngambil motor pulang ke bapak saya. Saya minta duit buat beli air sama makanan buat Harun," cerita Angga.
Angga teman harun di lokasi kerusuhan di Slipi, Jakarta. Foto: Andesta Herli/kumparan

"Harun ngerencanain ngajak kesana, dia bilang ayok kita lihat di Slipi yang perang."

- Angga, rekan Harun

ADVERTISEMENT
Siang usai dari warteg itu, Harun menolak pulang. Dia mengajak Angga untuk melihat lagi kerusuhan yang pecah di Slipi. "Dia bilang ayuk lanjutin aja, saya bilang terserah lu dah gua ikutin lu aja," tuturnya.
Sesampainya di Slipi, Harun buru-buru jalan paling depan, sementara Angga mencari lokasi parkir motor. Menjelang malam, mereka berdua berpisah.
"Pas pukul 22.00 WIB-an malam, udah mencar. Pas polisi udah maju, saya udah enggak ketemu sama dia. Dicariin udah enggak ketemu dia," terang Angga.
Barulah dia mengetahui pagi harinya Kamis (23/5), rekannya itu tewas terkena luka tembak dan dibawa ke RS Dharmais.
"Waktu pagi katanya ketembak, masih enggak percaya tuh. Tadi di sekolah baru dapat kabar Harun udah meninggal," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Belum diketahui apakah Harun bagian dari 8 korban tewas yang sudah dirilis Pemprov DKI sebelumnya. Di daftar itu ada satu korban tak bernama berusia 14 tahun dengan sabuk OSIS mengalami luka di lengan dan dada. Diduga korban ini adalah Harun.
Berikut data korban meninggal dunia berdasarkan informasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dokter, dan keluarga korban:
1. Farhan Syafero (30 tahun) warga Grogol, Kota Depok. Tewas dengan luka tembak di dada tembus ke belakang pada Rabu (22/5). Dibawa ke RS Budi Kemuliaan.
2. Adam Nurian (19 tahun), warga RW 2 Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat. Luka tembak di punggung pada Rabu (22/5). Dievakuasi ke RSUD Tarakan.
3. Rizki Ramadhan alias Rama (17 tahun), warga Jalan Slipi, Kebon Sayur, Kemanggisan, Slipi. Tewas dengan dua tembakan di dada dekat tenggorokan, dan bahu kanan tembus dada belakang pda Rabu (22/5). Dievakuasi ke RSUD Tarakan.
ADVERTISEMENT
4. Pria tanpa identitas, diduga berusia 14 tahun dengan luka di dada dan lengan kiri pada Rabu (22/5) di RS Dharmais. (Diduga Harun).
5. M. Reyhan Fajari (16 tahun). Meninggal di RSAL Mintoharjo pada Rabu (22/5).
6. Abdul Ajiz (27 tahun). Meninggal di RS Pelni pada Rabu (2/5).
7. Bachtiar Alamsyah. Meninggal di RS Pelni pada Rabu (22/5).
8. Sandro (31 tahun). Meninggal di RSUD Tarakan pada Kamis (23/2) usai dirawat sejak Rabu (22/5).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan