Pencarian populer

Cerita Sulitnya Agus Sutanto Bermain Tenis Meja di Atas Kursi Roda

Atlet Asian Para Games 2018, Agus Sutanto. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Dua kaki yang optimal adalah aset yang berharga bagi setiap atlet. Namun, bagaimana bila dua kaki itu tak lagi berfungsi?

Itulah kenyataan hidup yang harus diterima oleh Agus Sutanto. Tahun 2004 silam dia harus kehilangan fungsi optimal dari dua kakinya. Sebuah kecelakaan nahas yang dialaminya.

Delapan tahun dia habiskan untuk menata diri hingga akhirnya berani kembali ke arena tenis meja. Meski saat kembali Agus tak lagi diiringi langkah-langkah kakinya.

Atlet tenis meja difabel Agus Sutanto (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Agus kembali ke arena dengan menggunakan kursi roda. Baginya itu tak mengapa, karena tenis meja adalah separuh jiwanya. Kecelakaan telah membuat Agus kehilangan semangat hidup, tapi tenis meja berhasil menghidupkan jiwanya kembali.

“Ya beda sekali permainannya sama standing (berdiri). Kalau main standing kita ngejar bola kalau main kursi roda kita nunggu bola. Jadi paling sulit kursi roda main. Jadi gimana caranya bola gimana juga harus pukulannya harus tepat,” ungkap pria 50 tahun itu saat berbincang dengan kumparan di Hartono Trade Center Solo Baru, Senin (10/9).

Bermain tenis meja kursi roda adalah perkara tentang mobilitas. Menurut Agus, mobilitas untuk mengejar bola lebih sulit dari pemain yang berdiri. Untuk pemain kursi roda yang piawai sekali pun.

Atlet tenis meja difabel Agus Sutanto (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Terjatuh, terjungkal, tersungkur adalah sederet peristiwa yang sering terjadi kala bermain tenis meja kursi roda.

“Kalau masalah jatuh ke kiri ke kanan sampai ke belakang udah biasa itu. Waktu bertanding, saya bertanding beberapa kali jatuh. Jatuhnya ke belakang lagi jengkang,” Agus menyebutkan.

Agus ingat saat gelaran ASEAN Para Games di Singapura beberapa tahun lalu, dia terjatuh ke samping saat sedang bertanding. Kala itu dia harus bangkit sendiri dari jatuhnya tanpa bantuan siapa pun.

Agus menuturkan, hal itu merupakan peraturan yang telah ditetapkan dalam cabang tenis meja kursi roda. Setiap pemain yang jatuh harus bangkit sendiri. Pemain akan mendapat bantuan kala sudah terjadi cedera.

Video

Dengan kondisi tersebut, Agus menyiasatinya dengan berlatih lebih giat dan berat. Sebisa mungkin latihannya lebih dari pemain yang berdiri dengan dua kaki.

“Harus latihannya harus lebih berat daripada yang standing. Saya itu jadwal latihannya bertambah terus. Kadang-kadang latihan tambahan apa gimana untuk mendapatkan pukulan yang sedikitnya sempurna gitu,” jelas Agus.

Saat berbincang dengan kumparan Agus sedang berlatih intens untuk persiapan Asian Para Games, Jakarta. Dari Senin hingga Sabtu, Agus terus berlatih.

Bersama David Jacobs yang turun di kelas standing, Agus adalah andalan tenis meja untuk mendulang medali emas. Nantinya, Agus akan turun di dua nomor, ganda putra dan ganda campuran.

Turun di nomor ganda nyatanya juga menjadi tantangan tersendiri bagi Agus. Ada kalanya dia tidak diberi bola oleh lawannya.

“Ya kadang-kadang saya enggak kebagian bola. Bola enggak dikasih-kasih ke saya. Dikasih ke teman saya terus. Boleh, bebas mukul dua kali, tiga kali, empat kali enggak apa-apa. Makanya kadang-kadang saya enggak dikasih bola. Saya kadang-kadang nyerobot bola,” ungkap Agus.

Kursi roda patah saat di Korea

Ada kisah tersendiri tentang kursi roda yang dipakai oleh Agus. Kursi roda itu sudah dimodifikasi beberapa kali. Sekarang kondisinya jauh lebih baik. Namun, dulu kursi roda yang dipakai Agus bisa dibilang kurang layak. Hal itu sempat membuatnya malu bukan main.

Video

Tepatnya tahun 2014, Agus didapuk menjadi kontingen di Asian Para Games, Incheon, Korea Selatan. Namun, turun dari bus peristiwa yang tak ia duga sebelumnya terjadi.

“Pas pertandingan di Incheon baru saja turun dari bus patah as-nya malu kan. Ya terpaksa diam dulu di hotel, beberapa 2 jam 3 jam lah. Kursi rodanya dibetulin. Dulu sampai malu benar,” kata Agus.

Atlet tenis meja, Agus Sutanto. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Setelah kursi rodanya diperbaiki, baru Agus melangkah ke arena pertandingan. Sesampai di sana Agus saat itu masih menjadi kuda hitam. Dia mengaku tak sedikit pun dilirik oleh pemain negara-negara lain. Namun, begitu medali emas dia dapatkan, keadaan justru berbalik 180 derajat.

“Begitu saya juara pada ngedeketin semua. Iya pemain kelas dunia semua peringkat satu dunia, dua dunia kan di Asia,” curhat Agus.

Terlepas dari sekelumit pengalaman di Korea, Agus kini mengaku sudah banyak berteman dengan petenis meja kondang dunia. Meski di lapangan mereka adalah lawan, di luar itu mereka saling berteman.

Atlet tenis meja difabel Agus Sutanto (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Sementara, soal kursi roda yang sempat patah itu, Agus mengungkap kondisinya saat ini jauh lebih baik dengan modifikasi yang sesuai untuk bertanding.

“Kalau sekarang ini enak. Iya dari NPC buatan NPC,” tutup Agus.

kumparan menyajikan story soal atlet-atlet penyandang disabilitas kebanggaan Indonesia dan hal-hal terkait Asian Para Games 2018 selama 10 hari penuh, dari Kamis (27/9) hingga Sabtu (6/10). Saksikan selengkapnya konten spesial dalam topik ‘Para Penembus Batas’.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53