Pencarian populer

Cerita Ustaz Halim Ambiya Ajak Anak Punk Hijrah

Ustaz Halim Ambiya, perintis komunitas Tasawuf Underground. Foto: Lutfan Darmawan/kumparan
Kolong jembatan layang Tebet tak seperti kolong-kolong jembatan lainnya. Di sana seakan menjadi gerbang para anak jalanan dan punk untuk hijrah.
ADVERTISEMENT
Adalah Komunitas Tasawuf Underground yang mengajak mereka untuk lebih dekat dengan Allah SWT.
Perintis Komunitas Tasawuf Underground, Ustaz Halim Ambiya, bercerita kepada kumparan bagaimana awal mula ia menggandeng mereka untuk hijrah ke jalan yang lebih baik.
Berawal dari media sosial, Ustaz Halim pada awalnya hanya membagikan kalimat-kalimat hikmah dari para tokoh agama. Lambat laun, upayanya di media sosial itu direspons positif oleh masyarakat. Hingga saat ini, pengikut laman Tasawuf Underground di Facebook sudah mencapai 400 ribu orang.
Akan tetapi, capaian itu masih dirasa kurang. Hingga akhirnya ia berinisiatif merangkul secara langsung masyarakat untuk berhijrah dengan turun ke jalan. Uniknya, Ustaz Halim menyasar anak punk dan jalanan.
"Saya lihat kalau Islam hanya didekati di dunia maya, tak tersentuh, terlalu melangit, tidak membumi. Islam tidak hadir di masyarakat karena itu sejak 3 tahun yang lalu ketika pengajian dari cafe ke cafe, saya berusaha merangkul anak punk dan jalanan," kata Ustaz Halim saat ditemui di kolong jembatan layang Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (17/5).
Ustad Halim Ambiya saat memberikan motivasi di komunitas Tasawuf Underground. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Tak disangka, para anak jalanan dan punk merespons dengan luar biasa usahanya tersebut. Ia bercerita bagaimana sedihnya anak punk saat hanya belajar mengenai kata istighfar.
ADVERTISEMENT
"Baru diajarin istigfar saja mereka langsung termehek-mehek. Itu artinya mereka sudah lelah sekali di jalanan, tetapi tidak ada yang merangkul," ungkapnya.
Kolong jembatan layang Tebet pun menjadi titik mula bagi anak punk dan jalanan yang ingin hijrah.
Di tempat tersebut, Ustaz Hakim membuat pengajian rutin tiap hari Jumat dan Sabtu. Selain mengaji, ia juga memberi bekal keterampilan kepada mereka agar bisa lepas dari kehidupan jalanan.
"Jadi barista kopi, lalu ada yang nyablon. Ada juga yang bisnis percetakan. Jadi betul-betul mereka lepas dari jalanan," ucapnya.
Suasana kegiatan Tasawuf Underground yang memberikan motivasi soal kehidupan dan mengajari ngaji untuk komunitas anak punk. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Alasan Menyasar Anak Punk dan Jalanan
Ustaz Halim kemudian bercerita mengapa ia menyasar anak punk dan jalanan. Menurutnya, mereka kerap kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Ditambah, fenomena anak jalanan sudah menjadi permasalahan bagi masyarakat urban di jakarta.
ADVERTISEMENT
"Selama ini kita nutup kaca mobil, pura-pura tidak melihat, padahal mah kita menyaksikan ribuan dan ini bukan hanya problem masyarakat Jakarta, tapi masyarakat urban di seluruh dunia," kata dia.
Ia juga melihat bahwa selama ini penanganan petugas baik dari pemerintah maupun masyarakat terlalu keras terhadap anak punk. Ia mencontohkan anak didiknya ada yang pernah ditangkap lalu ditelanjangi.
"Ini kan tidak manusiawi," ucapnya.
Sejumlah anak punk yang tergabung dengan Tasawuf Underground saat diberikan motivasi soal kehidupan. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Ia pun mengajak masyarakat agar memperlakukan anak punk dan jalanan sebagaimana mestinya. Tak membedakan-bedakan.
"(Harusnya) dirangkul, ajarkan mereka jalan pulang, kasih tahu mereka peta jalan pulang. Itu lebih baik," kata Ustaz Halim.
Hingga saat ini anggota komunitas Tasawuf Underground berjumlah 95 orang yang tersebar di beberapa titik se-Jabodetabek. Dari jumlah tersebut, paling banyak berada di kolong jembatan layang Tebet sebanyak kurang lebih 40 orang.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81