kumparan
30 Jun 2019 8:49 WIB

Disertasi Terorisme Alumnus Ngruki Dinominasikan Terbaik di Australia

Pakar Terorisme dan Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail. Foto: Faisal Rahman/kumparan
Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo cukup dikenal masyarakat karena sebagian kecil alumninya pernah terlibat tindak terorisme di Indonesia. Namun, Anda mungkin tak pernah menyangka apabila ada alumni Ponpes Ngruki yang justru berkomitmen untuk mendalami terorisme dan berusaha menanganinya.
ADVERTISEMENT
Noor Huda Ismail adalah alumni Ponpes Ngruki tersebut. Baru tahun 2018 lalu, ia menyelesaikan studi Politik dan Hubungan Internasional di Faculty of Arts, School of Social Sciences, Monash University. Disertasinya berjudul “The Indonesian Foreign Fighters, Hegemonic Masculinity and Globalisation” dinominasikan menjadi yang terbaik.
“Kalau Ph.D di Australia itu kan lulus kemudian dikirim oleh penguji, hasilnya bagus, supervisornya tampak senang, ya udah dinominasikan jadi salah satu tesis terbaik di Monash gitu, terus kemudian di Asian Society di Melbourne. Alhamdulillah,” kata pria yang kerap disapa Huda kala bertandang ke kantor kumparan, Selasa (25/6).
Pengujinya Prof. Robert Hefner dari Boston University dan Henri Myrttinen, peneliti gender dari London, Inggris, mengapresiasi temuan Huda yang menganalisis relasi antara maskulinitas dan kecenderungan seseorang angkat senjata menjadi pejuang asing (foreign fighter). Sebab, hal itu menyuguhkan kebaruan dalam khazanah kajian terorisme.
ADVERTISEMENT
Video
Selain itu, penyajian disertasi Huda yang pernah berada di lingkaran dibesarkannya pelaku terorisme dianggap mampu memberikan sentuhan komprehensif secara personal dan empatik. Itu juga yang membuat Huda mampu menghadirkan 32 narasumber eks kombatan pejuang asing untuk memperkaya penelitiannya.
“Karena saya pernah jadi orang dalam, pernah menjadi bagian dari kelompok ini secara sosiologis makanya apa yang saya dengar, apa yang saya refleksikan itu subjektif. Nah menunjukkan subjektivitas itu ternyata juga dihargai,” terang pria yang kini tinggal di Singapura.
Bahkan, Prof. Robert Hefner sangat merekomendasikan disertasi Huda untuk menjadi buku populer. Dari 3 rekomendasi yang ia kemukakan, 2 di antaranya terkait publikasi untuk menjadi buku.
“Kalau menjadi buku itu hampir pasti gitu tapi kan kita harus cari apa ya penerbit yang pas,” katanya.
Pakar Terorisme dan Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail. Foto: Faisal Rahman/kumparan

Bukan karena Agama

Sebagian orang mungkin menganggap bahwa penyebab seseorang melakukan terorisme itu karena faktor agama. Apalagi jika melihat orang yang terlibat terorisme membawa simbol-simbol agama. Namun, anggapan itu dipatahkan oleh tesis Huda.
ADVERTISEMENT
Dalam disertasinya, Huda membawa argumentasi bahwa seseorang menjadi teroris lebih disebabkan oleh proses sosialisasi dari orang sekitarnya. Dalam sosialisasi tersebut, seseorang diperkenalkan dengan nilai-nilai yang berkaitan dengan maskulinitas.
“Sejak kecil orang itu disosialisasikan, dikenalkan, didengarkan, disosialisasi untuk menjadi lelaki yang paling top itu adalah mujahid. Menjadi fighter, mujahid itu kan bertempur, membela Islam (jihad),” jelas Huda.
Ilustrasi Teroris Foto: Shutter Stock
Menurut Huda, orang yang menjadi teroris itu tak belajar konsep-konsep Islam dari Alquran terlebih dahulu. Melainkan justru diperkenalkan pada kisah-kisah heroik yang inspirasional.
Huda mencontohkan kisah itu seperti Pangeran Diponegoro atau Jenderal Sudirman yang berjihad melawan Belanda. Kisah-kisah itulah yang akhirnya menjadi penarik seseorang untuk bergabung ke kelompok jihad.
“Orang menjadi foreign fighter itu rata-rata hampir semuanya yang saya wawancarai itu enggak ada keinginan untuk membunuh, tapi keinginan mereka membela yang tertindas. Artinya apa? Mereka terlibat digerakkan oleh niatan positif,” tutur ayah dua anak itu.
ADVERTISEMENT
Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian itu menjelaskan bahwa dengan membaca Alquran, hadis, hingga buku Osama Bin Laden sekalipun tak bisa membuat orang lantas menjadi teroris. Menurut Huda, prosesnya tak seperti itu.
Pakar Terorisme dan Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail. Foto: Faisal Rahman/kumparan
“Biasanya, satu, galau dulu. Mencari identitas diri dia dulu. Nah, kemudian punya permasalahan sosial. Permasalahan itu bisa jadi karena kemiskinan, bisa jadi merasa tidak diterima, bisa jadi merasa tertekan bisa jadi kekecewaan,” katanya.
Kekecewaan individu yang tidak terwadahi oleh gerakan masyarakat umum itu yang lantas membuat orang berpotensi bergabung ke kelompok-kelompok teroris. Menurut Huda, barulah di situ agama berperan untuk memengaruhi orang tersebut melakukan tindakan terorisme.
“Mereka menggunakan ideologi itu ketika mereka sudah bergabung di dalam kelompok. Tapi sebelum jadi kelompok bukan karena ideologi pesonanya, tapi ada pesona-pesona lain gitu,” terang Dosen Tamu di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura itu.
ADVERTISEMENT
Melalui disertasinya itu, Huda selalu mengajak kepada keluarga, masyarakat, dan kalangan terdidik untuk memahami bahwa menjadi teroris adalah sebuah proses. Tidak ada orang yang terlahir sebagai teroris, karena itu merupakan sesuatu yang diajarkan.
“Jadi membaca terorisme itu harus dengan sebuah cara pandang yang lebih canggih,” tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·