kumparan
6 Nov 2017 9:48 WIB

Ditahan Kerajaan, Bisnis Alwaleed Mulai Terganggu

Pangeran Alwaleed bin Talal al Saud (Foto: Neil Hall/Reuters)
Pemerintah Arab Saudi menahan 11 pangeran dan empat menteri mereka atas tuduhan kasus korupsi. Di antara yang ditahan, adalah Pangerang Alwaleed bin Talal, yang dikenal sebagai miliuner pebisnis di kancah global.
ADVERTISEMENT
Forbes menyebut kekayaan pribadinya mencapai 17 miliar dolar AS. Sedemikian populernya dia sebagai pebisnis, sejumlah media menyebut Alwaleed sebagai wajah bisnis Arab Saudi di mancanegara. Di antara keluarga kerajaan, dia yang paling sering tampil di media internasional.
Dalam salah satu edisinya di 2013, majalah Forbes menggambarkan istana pribadi Alwaleed di Riyadh dengan kapasitas 420 kamar. Dia juga memiliki jet pribadi Boeing 747 yang dilengkapi kursi khususnya untuknya.
Alwaleed bersama putri-putrinya. (Foto: Gallery www.alwaleed.com.sa)
Dia juga memiliki properti lain di pinggiran Riyadh, berupa resor seluas 1,2 hektare. Di dalamnya terdapat lima bangunan dengan lima danau buatan. Juga terdapat mini-Grand Canyon yang dibuat serupa dengan aslinya di Colorado, hanya dalam versi lebih kecil.
Penggemar kuda ini diketahui sebagai pemegang saham pengendali di Citigroup, perusahaan perbankan terkemuka Amerika Serikat. Investasinya sebesar miliaran dolar AS juga menyebar ke berbagai perusahaan Barat.
ADVERTISEMENT
Selain saham di Citigroup, pria 62 tahun ini juga memiliki saham penting di Twitter, perusahaan penyewaan terkemuka Lyft and Time Warner.
Ilustrasi Citibank (Foto: Flickr)
Dikutip dari Reuters, penahanan ini memicu kekhawatiran sejumlah kalangan atas kelangsungan investasi Alwaleed di perusahaan-perusahaan tersebut. Setelah penahanannya pada Sabtu (4/11), saham perusahaan investasi milik Alwaleed, Kingdom Holding, harga sahamnya anjlok 10 persen pada Minggu (5/11).
"Akan ada pertanyaan mengenai apa artinya (kasus penahanan dan tuduhan korupsi) ini," kata seorang eksekutif senior di sebuah lembaga keuangan Eropa, yang dikutip Reuters. Sumber itu mengunjungi Riyadh akhir bulan lalu, untuk menghadiri sebuah konferensi internasional besar yang mempromosikan Arab Saudi sebagai tujuan investasi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan