kumparan
20 Mar 2019 5:30 WIB

Dosen di AS Baru Terima Telegram yang Dikirim 50 Tahun Lalu

Ilustrasi telegram. Foto: AFP/FRANK AUGSTEIN
Siapa sangka, setelah 50 tahun, telegram yang dikirim kerabat Robert Fink akhirnya sampai ke tujuan. Telegram tersebut sebenarnya dikirim pada tahun 1969, saat Robert baru saja lulus dari Universitas Michigan, namun baru diterima pada tahun 2019.
ADVERTISEMENT
Western Union, perusahaan penyedia jasa telegram, sebenarnya sudah tutup pada tahun 2006 lalu. Selain itu, pesan berisi ucapan selamat atas kelulusan Robert itu sebenarnya sudah dikirimkan ke apartemen Robert di Ann Arbor pada tahun 1969 silam, tepat sehari setelah Robert pindah ke New York untuk melanjutkan sekolah.
Lima puluh tahun kemudian, surat telegram itu ditemukan oleh Christina Zaskes secara tidak sengaja di dalam laci yang ia bersihkan. Christina, adalah salah satu pegawai sebuah perusahaan pemasaran digital yang kini mengambil alih bekas apartemen Robert sebagai kantor mereka.
“Aku melihat isinya karena penasaran, seperti apa bentuk asli telegram itu,” kata Christina kepada The Ann Arbor News.
Ia kemudian menemukan nama Robert Fink dalam pesan tersebut dan segera mencarinya di internet. Beruntung, Robert yang saat ini menjabat sebagai dosen di Universitas Oakland cukup mudah ditemui di internet.
ADVERTISEMENT
“Aku sangat terkejut karena dia tidak pernah menerima telegram ini, dan aku merasa lega karena bisa menyampaikan surat ini kepada pemiliknya setelah berpuluh-puluh tahun berlalu,” ucap Christina.
Sementara itu, Robert mengaku surat telegram yang akhirnya diterima olehnya itu membangkitkan kenangan-kenangannya di masa lalu. Ia mengaku bisa melihat kembali masa-masa indah bersama teman-teman lamanya.
“Intinya, bagi saya, ini seperti ada tangan panjang dari masa lalu yang menjangkau dan meraihku. Dan aku menganggap ini sebagai hal yang serius,” kata Robert.
Namun, Robert menyesal karena tidak akan pernah bisa membalas ucapan selamat dalam pesan telegram tersebut. Bukan karena perusahaan layanan telegram telah tutup, melainkan karena Ben dan Lillian Fischman, si pengirim pesan, sudah meninggal.
ADVERTISEMENT
“Itu juga meninggalkan perasaan bersalah yang lucu, karena mereka berdua begitu memikirkanku. Butuh upaya lebih untuk mengirimkan telegram, ini tidak seperti mengirimkan pesan kepada seseorang saat ini. Ini sangat menyentuhku, karena mereka begitu memikirkanku dan mereka berupaya untuk itu,” pungkas Robert.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan