kumparan
6 Mar 2018 12:20 WIB

Eks Mata-mata Rusia Kritis Setelah Diracun di Inggris

Sergei Skripal, eks mata-mata Rusia yang membelot. (Foto: AP Photo/Misha Japaridze)
Bekas mata-mata Rusia yang membelot, Sergei Skripal, ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di Inggris. Kini keadaannya kritis, diduga akibat terpapar racun yang belum diketahui jenisnya.
ADVERTISEMENT
Hal ini disampaikan oleh sumber kepolisian Inggris kepada Reuters, Selasa (6/3). Kepolisian Inggris dalam pernyataannya mengatakan, warga menemukan dua orang, pria berusia 66 tahun dan wanita 33 tahun, dalam keadaan tidak sadarkan diri di kursi sebuah mal di Wiltshire, bagian selatan Inggris.
"Di kursi ada pasangan, seorang pria tua dan wanita muda. Si wanita bersandar pada pria itu, sepertinya dia pingsan. Pria itu melakukan gerakan tangan yang aneh, melihat ke atas," kata seorang saksi, Freya Church, kepada BBC.
"Saya tidak yakin apakah harus membantu atau tidak, jadi saya meninggalkan mereka. Tapi sepertinya mereka usai mengkonsumsi sesuatu yang kuat," lanjut dia.
Kepolisian Inggris tidak menyebut identitas pria tersebut, namun mengatakan bahwa ini adalah kasus besar. Sumber Reuters memastikan, pria itu adalah Skripal. Dia dan wanita itu saat ini dalam perawatan intensif karena kondisinya yang memburuk.
ADVERTISEMENT
"Kasus ini belum dinyatakan sebagai insiden terorisme dan kami meminta masyarakat tidak berspekulasi," kata asisten kepala polisi Wiltshire Craig Holden.
Pengkhianat Rusia
Skripal adalah bekas kolonel di badan intelijen militer Rusia atau GRU yang ditangkap pada 2004 karena dianggap berkhianat dengan bekerja sama dengan agen intelijen Inggris. Rusia menjatuhinya vonis penjara 13 tahun atas pengkhianatannya itu.
Namun dia diampuni oleh presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, pada 2010 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tawanan dengan Amerika Serikat.
Skripal adalah bagian dari tahanan yang ditukar dengan 10 mata-mata Rusia yang tertangkap di AS, salah satunya yang paling terkenal adalah Anna Chapman.
Ilustrasi polisi Inggris (Foto: REUTERS/Toby Melville)
Ini adalah pertukaran tawanan terbesar sejak Perang Dingin berakhir pada 1991, berlangsung di landasan pacu bandara Wina. Ketika itu, pesawat Rusia dan AS parkir bersebelahan, dan tawanan yang ditukar langsung masuk ke dalamnya.
ADVERTISEMENT
Pembunuhan agen Rusia yang membelot bukan kasus baru. Sebelumnya pada 2006 mantan agen KGB Alexander Litvinenko tewas setelah sebelumnya kritis akibat penyakit yang aneh.
Dalam penyelidikan diketahui, pengkritik Vladimir Putin itu tewas karena mengkonsumsi racun radioaktif polonium-210 yang dicampur di minuman tehnya di Millenium Hotel, London.
Penyidik Inggris juga mendapati fakta bahwa Putin telah menyetujui pembunuhan Litvinenko. Namun pemerintah Kremlin berkali-kali membantah terlibat dalam kasus itu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan