kumparan
5 Apr 2018 15:50 WIB

Eloknya Musala Bergaya China di Kolong Tol Warakas

Musala di bawah kolong tol. (Foto: Lolita Claudia/kumparan)
Tepat di kolong Tol Ir Wiyoto-Wiyono, sebuah bangunan berwarna hijau dan merah tampak mencolok dari ruas jalan Warakas Gang 21, Warakas, Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
ADVERTISEMENT
Tak ada yang mengira, bangunan elok bergaya Tiongkok itu nantinya akan dijadikan musala bagi warga sekitar. Padahal, setahun yang lalu kolong tol ini masih kumuh dan jadi tempat pembuangan sampah oleh warga.
Musala bergaya china di kolong tol (Foto: Lolita Valda/kumparan)
Ide pembangunan musala ini diprakarsai oleh Yusuf Hamka seorang mualaf keturunan Tionghoa sekaligus penasihat di PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk.
Menurut Muntaha seorang penjaga musala, dana pembangunan musala ditanggung secara pribadi oleh Yusuf Hamka. Sementara itu, Muntaha menyebut desain musala bergaya Tiongkok ini bukan untuk membeda-bedakan namun justru untuk menciptakan akulturasi kebudayaan dan toleransi.
Musala bawah kolong tol (Foto: Lolita Valda/kumparan)
"Jadi desainnya seperti ini bukan untuk membeda-bedakan China dengan umat Islam namun untuk mempersatukan budaya," ujar Muntaha saat ditemui kumparan (kumparan.com) pada Kamis (5/4).
ADVERTISEMENT
Musala seluas 15x17 meter tersebut memiliki delapan pilar besar yang menyangga atap. Langit-langit musala dilukis menyerupai awan dengan dominasi warna biru dan putih. Terdapat fasilitas kursi keramik yang disediakan pada tempat wudhu putra dan putri.
Musala bawah kolong tol (Foto: Lolita Valda/kumparan)
"Ya ini tempat wudhunya dibuat ada kursinya supaya tidak terburu-buru, jemaah bisa berdoa dulu," kata Muntaha.
Diperkirakan, musala ini mampu menampung 300 hingga 400 jemaah. Meski pembangunan musala sudah mencapai tahap akhir, masih terlihat beberapa tukang bangunan merampungkan sisa-sisa garapan.
Musala bawah kolong tol (Foto: Lolita Valda/kumparan)
Rencananya, pembangunan musala yang dimulai pada Agustus 2017 ini selesai sebelum bulan Ramadhan dan nantinya akan diberi nama Babah A Loen yang merupakan nama kecil Yusuf Hamka.
"Supaya Ramadhan bisa dipakai, ini tinggal pekerjaan yang sedikit-sedikit. Sesuai dengan nama kecil pemilik musala ini nanti namanya Babah A Loen," kata Muntaha.
ADVERTISEMENT
Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan