Pencarian populer

Erdogan Siap Berkoalisi Jika Gagal Pada Pemilu Turki

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AFP/Aris MESSINIS)

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengaku siap berkoalisi jika partainya tidak mendapatkan suara mayoritas dalam pemilu Turki 24 Juni mendatang. Namun dia tetap optimistis partainya akan menang mutlak pada pemilu yang akan mengubah wajah pemerintahan Turki tersebut.

Pada pemilu nanti akan dipilih 600 anggota parlemen, naik dari sebelumnya 550. Untuk mendapatkan suara mayoritas dan membentuk pemerintahan, partai di Turki harus mendapatkan lebih dari 300 kursi. Partai Erdogan, Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) telah berkoalisi dengan Partai Gerakan Nasional (MHP) membentuk Aliansi Rakyat. Diperkirakan, aliansi ini akan memenangkan kursi parlemen para pemilu.

Namun untuk mendapatkan kursi mayoritas, para pengamat mengatakan, Aliansi Rakyat akan gagal. Pasalnya, oposisi telah membentuk aliansi sendiri, terdiri dari partai-partai anti-Erdogan, yaitu Partai Rakyat Republik (CHP), Partai Islamic Saadet, dan Partai Iyi.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AFP/Aris MESSINIS)

Ada juga persaingan dari Partai Demokrasi Rakyat (HDP) yang pro-Kurdi. Walau HDP tidak membentuk koalisi oposisi, kehadirannya berpotensi mengurangi suara untuk Erdogan.

Jika memang suara mayoritas tidak didapatkan, Erdogan mengatakan, partainya tidak segan berkoalisi. Saat ini koalisi AKP sendiri memiliki 316 kursi di parlemen.

"Jika di bawah 300, maka akan ada pencarian untuk koalisi," kata Erdogan dalam wawancara dengan radio Kral FM, seperti dikutip Reuters, Rabu (20/6).

Tapi Erdogan percaya, pencarian koalisi ini tidak akan terjadi. Karena menurut dia, kemungkinan partainya kalah "sangat, sangat kecil."

"Koalisi bisa dibentuk. Tapi kemungkinan itu sangat, sangat kecil," kata dia.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AFP/Aris MESSINIS)

Seharusnya pemilu Turki baru akan digelar pada November 2019, namun Erdogan pada April memajukan jadwalnya menjadi tahun ini. Dia mengatakan kala itu, rakyat Turki perlu kepastian di tengah kondisi mencekam di kawasan, terutama ketika mata uang anjlok dan pertempuran Turki di Suriah dan Irak.

Pemilu nanti akan mengantarkan Turki pada sistem pemerintahan baru yang disepakati pada referendum April 2017. Nantinya, sistem negara parlementer Turki akan berubah menjadi presidensial.

Di bawah sistem baru nanti, posisi perdana menteri akan dihapuskan dan diganti oleh wakil presiden. Nantinya presiden memiliki kekuasaan yang lebih besar, termasuk menentukan anggaran negara tahunan dan menetapkan status darurat sipil yang selama ini dipegang oleh kabinet dan parlemen.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AFP/Yasin AKGUL)

Pengadilan militer dalam sistem pemerintahan Turki yang baru akan dihapuskan. Presiden juga mampu mengangkat empat dari 13 hakim agung, dan penggabungan pemilu presiden dan parlemen setiap lima tahun sekali.

AKP diprediksi menang tipis. Dalam 15 tahun terakhir, hampir seluruh pemilu dimenangkan oleh AKP. Partai erdogan ini hanya gagal peroleh suara mayoritas pada pemilu Juni 2015. Koalisi saat itu gagal terbentuk dan Erdogan menggelar pemilu lagi pada November di tahun itu yang membuahkan kemenangan AKP.

Ada hampir 4 juta pemilih dalam pemilu Minggu mendatang. Erdogan diperkirakan akan memperoleh suara besar dari warga Turki di luar negeri yang jumlahnya mencapai lebih dari 3 juta.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: